Pengalaman Seharian Belajar Bahasa Teknik
Gak tahu, ah. Lelah.
Kolom ini berisikan esai opini mengenai kejadian-kejadian terkini dan personal. Ditulis sesantai yang kami mampu, seserius yang kami bisa.
Harapannya, suatu hari nanti kita bisa melihat kembali bagaimana kita mencatat peristiwa-peristiwa yang telah lewat.

Sekarang, setelah semua yang dilewatin, rasanya ada yang perlu diubah. Pesan Ibu tentu selalu akan jadi bagian penting dalam hidup, tapi mungkin sekarang saatnya buat nyari keseimbangan. Belajar tetep penting, kerja keras juga gak kalah penting, tapi menjaga hati dan buka diri buat orang lain juga bukan hal yang salah, kan?

November 1813, Raffles mesti melepas ratusan ribu hektar tanah negara ke tangan swasta, dengan alasan yang kala itu dianggap terlalu umum: negara alami krisis keuangan. Jawa yang saat itu berada di bawah kendali pemerintahan kolonial Eropa, yang seyogyanya mewarisi kedigdayaan VOC dalam urusan bisnis, nyatanya menjadi negara yang hobi kekurangan uang. Alih-alih memutar roda perkebunan […]

Saya menarik napas panjang. Jadi, buat apa kemarin-kemarin kita workshop, technical meeting, dan rapat membahas kurikulum merdeka? Nyatanya jauh sekali dari kata merdeka. Ya seperti anak-anak skena dengan tagar #NoSexism tapi waktu temannya jadi pelaku pelecehan dan kekerasan seksual malah hadir yang paling depan sebagai yang mengintimidasi dan menihilkan korban.

Pemerintah pun angkat tangan, karena merasa sudah berhasil menunaikan tugasnya dalam menertibkan pasar, sehingga mereka bisa memamerkan (hasil kerjanya?) di konten-konten sosial medianya kelak, supaya mendapat ribuan sanjungan di kolom komentar.

Acep dan Aep sama-sama punya modal popularitas. Yang satu sebagai bupati, yang satu sebagai Sekda. Keduanya juga punya modal elektabilitas di akar rumput masing-masing. Satu pembeda dari keduanya adalah modal logistik.

Lagipula apa yang bisa anak kecil lakukan waktu menerima ucapan kebencian berbau rasial? apa yang dipikirkan anak-anak di usia itu ketika ledekan body shaming dilontarkan? lengkap pula dengan tindakan-tindakan senioritas ala-ala!

Di Purwakarta sendiri banyak pabrik-pabrik yang beroperasi, maka tentu jha bekerja di sektor industri jadi primadona. Selaras dengan penyerapan tenaga kerjanya yang terbilang cukup tinggi.Tapi... ada tapinya nih...

Sebetulnya saya jarang belanja. Selain karena uang saya habis di rokok, saya juga lebih senang jajan makanan daripada pakaian. Lagian, ayolah saya gak ngerti brand dan fashion. Kalaupun Yulita -si paling ngerti fashion- bilang "Wih, tas mahal nih." "Wih, baju branded nih," ke saya, percayalah: semua barang mahal yang saya pakai itu pemberian pasangan saya.

Cek khodam live? Ayolah. Kita bukan mahasiswa Hogwarts. Lagian, kita kan gak lagi dikejar dementor dan harus ngeluarin patronus kita, kan?
