Musim Mekar Selasih Episode IV: Membaca Penyakit Paling Serius dalam Birokrasi Kebudayaan Kita
Yang lebih kurang ajar, saya bisa katakan bahkan dosen-dosen saya di Sastra Indonesia Unpad bisa jauh lebih baik.
Kolom ini berisikan esai opini mengenai kejadian-kejadian terkini dan personal. Ditulis sesantai yang kami mampu, seserius yang kami bisa.
Harapannya, suatu hari nanti kita bisa melihat kembali bagaimana kita mencatat peristiwa-peristiwa yang telah lewat.
Yang lebih kurang ajar, saya bisa katakan bahkan dosen-dosen saya di Sastra Indonesia Unpad bisa jauh lebih baik.

“Mengapa beban Gen Z selalu dilempar kepada media sosial?”

Konflik Sukoharjo tentu tak bakal selesai dengan tulisan ini.

Orang-orang rela menggadaikan ketenangan hidup dan masa depan hanya demi membeli barang bermerek, nongkrong di tempat mahal, atau sekadar mendapatkan validasi dari orang asing di internet.

Barangkali inilah warisan yang luput kita lihat: bahwa persahabatan tak cukup nongkrong-nongkrong lucu, foto estetik, atau ngonten asal-asalan.

Ketika lapangan pekerjaan sudah sangat sempit terutama di Madura, rokok ilegal menjadi satu-satunya harapan bagi mereka.

Mari kita menapaki tilas para penulis dan kerja-kerja budayawan hebat seperti Selasih!

Di era kehidupan manusia yang serba diberi kemudahan teknologi seperti ini, sebenarnya ada banyak kenikmatan yang telah direnggut.

Sebelum dikenal sebagai dosen copet di jalanan, pasar dan angkot Bandung, Saep hanyalah seorang pria biasa seperti kita-kita, Gibran tidak termasuk tentu saja.

Sebelumnya, saya tidak pernah memberikan CV kepada orang di luar kepentingan, lagipula serius tulisan disebut CV? Haha.
