Ku Timang-Timang Jamiyyahku Sayang
Hadirin gembira melepas dahaga
Puisi-puisi dari Para Penyimpang, dikurasi oleh kami untuk mewakili apa yang menurut kami, NYIMPANG BANGET. Alias ori dan dekat dengan “Semangat Zaman” ini.
Di sinilah Para Penyimpang menjadikan puisi jadi tempat pelarian, perlawanan, atau sekadar main-main rasa. Baca, atau ikutlah mencatat bersama kami.


Bunga-bunga kembang gugur, menghimpit doa-doa tanah

Kasih ibu, sepanjang blockbuster tak terhingga sepanjang malam

di kertas itu ia arsir sepucuk senapan dan bom tangan


Aku menjauh dari Banda Kali. Dengan sigap, air menggenang kota, menjalar keluar bendungan.

Delima memuji Nabi, padahal di internet ia hanya menemukan wajah Jokowi

Kali ini, aku persembahkan seekor kucing kecil yang hampir dimakan induknya.

Satu negara lari tunggang langgang, singgasana presiden ikut limbung dan bimbang.
