Perempuan yang Mencari Rupa Angin

Sepulang dari melimbang beberapa bulan lalu, Putri Linjang jadi sedeng. Awalnya Unak Bangko—sang ibu—tak menyadari hal itu hingga beberapa minggu kemudian, Putri Linjang menunjukkan tingkah aneh. Ia beberapa kali tiba-tiba membenturkan kepalanya ke dinding kayu rumah. Ia juga sering menangis tanpa alasan yang jelas di sumur belakang rumah. Yang paling parah, ia sering mengobrol dengan ember. Gadis ini sudah gila, pikir Unak Bangko. Unak Bangko memilih untuk menyembunyikan keadaan putrinya dari warga kampung karena ia takut putri semata wayangnya itu menjadi bahan olokan orang-orang. 

“Kenapa anakmu itu, Unak. Masih sehatkah?” tanya seorang tetangga yang keheranan dengan tingkah Putri Linjang.

Dengan senyuman Unak Bangko menjawab, “Dia baik-baik saja. Linjang masih anak gadisku yang dulu, yang cantik lagi murah senyum.” 

Putri Linjang memang lebih murah senyum sekarang, pada orang-orang yang menyapanya ia tersenyum, pada orang-orang yang mengajaknya bicara ia menimpali dengan senyum, pada orang-orang yang tidak mengenalnya ia juga tersenyum. Tingkahnya itu membuat sebagian warga Kampung Lintang Ulu berspekulasi kalau anak gadis Unak Bangko sudah gila. Sampai saat ini, Unak Bangko tidak membiarkan anaknya keluar rumah sendirian apalagi sampai berinteraksi dengan orang lain. Berhari-hari Unak Bangko dan Putri Linjang menghabiskan waktu di kebun. Hal itu dilakukan oleh sang ibu agar anaknya jauh dari orang-orang.

Di kebun, Unak Bangko menghabiskan pagi hingga petang mengurus rumpun-rumpun singkongnya. Membersihkan gulma juga memilah rumpun singkong yang siap dicabut untuk kemudian dijual pada seorang langganan: Wak Cak Cebol begitu orang memanggilnya. Ia seorang penjaja kue yang menjual kue-kue dari singkong seperti lengkok ubi, lepat ubi dan getuk. Sedangkan Putri Linjang hari-hari di kebun dihabiskannya untuk memandangi angin menelisik, menggerakkan hingga mengeluarkan dersik serupa nyanyian di rumpun bambu. Di atas batu besar di bawah pohon durian ia duduk memeluk lutut, memandang batang-batang bambu yang bergoyang. Mencari wujud si angin. 

“Angin perlihatkan rupamu, angin perlihatkan rupamu,” ujarnya penuh harap. Angin itu tak bersuara, tak membalas pun tak memperlihatkan rupanya. Hingga sore tiba, Unak Bangko memanggilnya. Mengajak pulang. Putri Linjang beranjak dari atas batu, untuk kesekian kali ia kecewa pada angin yang tak kunjung menampakkan rupanya. 

 

“Umak, bagaimanalah rupa angin itu?” Tanya Putri Linjang pada ibunya pada suatu malam. Unak Bangko menolak menjawab. Dengan ketus, ia menyuruh Putri Linjang menghabiskan nasinya. Pamali bicara sambil makan, katanya. Putri Linjang terdiam. Ia tak bertanya lagi hingga nasi dalam piringnya kandas masuk perut.  

Di luar jangkrik membikin bising suasana. Pada pohon delima yang tumbuh di samping rumah, bertengger burung hantu yang tak ingin kalah bising dari si jangkrik. Mereka mengisi kesunyian malam dengan suara-suara mereka. Di awal kemunculan dua binatang itu, Unak Bangko tak dapat tidur juga tidak berhasil mengusir dua makhluk itu. Sialan, gerutu Unak Bangko. Namun, lambat laun, ia mulai terbiasa. Suara dua binatang itu dijadikannya nyanyian pengantar tidur.

Di atas ranjang kayu peot, Unak Bangko berbaring bersama putrinya. Unak Bangko baru memejamkan mata saat tangan panjang Putri Linjang memeluk tubuhnya. Di telinga ibunya, putri Linjang kembali bertanya, “Bagaimanalah rupa angin itu, mak?” 

Unak Bangko urung menutup mata, “Angin itu tidak ada rupanya!” Unak Bangko berujar kesal.

“Kenapa tidak ada rupanya?” 

“Tidak tahu, umak-mu ini tidak pernah sekolah, jadi ada lebih banyak yang umak tidak tahu ketimbang yang umak tahu.”

“Apa mungkin angin akan menampakkan rupanya, mak?” 

“Kau ini, sudah kubilang angin tak ada rupanya. Memangnya kenapa kau ingin sekali melihat rupa angin?” 

“Aku jatuh cinta padanya.” 

 

Dersik angin membikin nyaman hati, silir-semilirnya seakan menggoda, mencolek tubuh manja, embusan angin menenangkan bagi Putri Linjang. Itulah kenapa ia jatuh cinta pada angin, tidak normal memang yang ia rasakan. Tapi begitulah toh seharusnya orang sedeng bersikap. Kalau dia normal, berarti dia bukan orang sedeng. 

Pagi itu setibanya di kebun, Putri Linjang berlari kecil ke arah pohon durian, kemudian memanjat batu besar di bawah pohon itu. Batu itu dipenuhi lumut dan rumput-rumput. Sarang semut merah tinggal di kaki batu, sesekali seekor semut naik ke atas batu, menemui Putri Linjang kemudian menggigitnya. Merasakan gatal dari gigitan semut itu, Putri Linjang menangkap dan membunuh si semut. Semut-semut yang tak kunjung melihat temannya kembali dari atas batu jadi enggan menaiki batu itu. Beberapa semut yang sok berani ingin menyelamatkan temannya yang hilang malah juga tak kunjung pulang. Hidup mereka berakhir digulung jari Putri Linjang. 

“Angin tampakkan rupamu, angin, aku ingin bertemu. Angin, aku mencintaimu,” Putri Linjang tersenyum-senyum sendiri di atas batu besar itu. Siamang yang melompat dari satu batang bambu ke batang bambu lainnya bersorak mengejek Putri Linjang, sebelum akhirnya kabur karena takut Putri Linjang menyerangnya. Seperti apa yang dipikirkan kebanyakan binatang, manusia adalah makhluk paling berbahaya. 

Hari itu Putri Linjang turun dari batu, ia mendekati rumpun buluh seraya terus memanggil-manggil angin. Menyuruhnya menampakkan rupanya. Ia mengelilingi rumpun buluh, tersengir-sengir memanggil angin kemudian marah karena angin tak menampakkan rupanya. Setelah kelelahan, Putri Linjang kembali ke atas batu.

“Aku mencintaimu, angin, tunjukkanlah rupamu,” katanya putus asa.

“Linjang, mari pulang, sudah sore!” dari arah dangau si ibu berteriak. Dengan manggut-manggut Putri Linjang turun dari atas batu menghampiri ibunya. Atas perintah sang ibu, Putri Linjang membawa seikat singkong dalam perjalanan pulang.

Sejam berjalan kaki, mereka tiba di rumah. Unak Bangko saat itu langsung terbaring di lantai kayu rumah, tak peduli pada debu-debu yang membuat lantai terasa kesat. 

“Kenapa mak?” tanya Putri Linjang. 

“Umak tak lemak badan,” timpal Unak Bangko. Memejamkan mata, menahan kepalanya yang sakit juga tubuhnya yang lemas. 

Putri Linjang mengangguk, sebagai orang sedeng yang benar-benar sedeng ia tidak tahu harus berbuat apa. Putri Linjang menggumamkan sesuatu yang tak terdengar jelas, kemudian ia buru-buru menuju sumur belakang rumah. Menimba air untuk mandi. Selepas mandi, Putri Linjang menemui ibunya yang ternyata masih berbaring di lantai. Unak Bangko meminta Putri Linjang membantunya ke kamar, dengan bersusah payah Putri Linjang memapah Unak Bangko ke kamarnya. 

“Masaklah nasi, Lin!” suruh Unak Bangko. Putri Linjang mengangguk lantas mengeloyor ke dapur. Seingat Unak Bangko anaknya dulu pandai masak, dan masakannya selalu enak. Entahlah sekarang, sejak pulang dari rantau Unak Bangko tak menyuruh anaknya masak lagi. Ia tidak tau apakah Putri Linjang masih bisa masak atau tidak.

Di dapur, Putri Linjang menyalakan api di tungku. Lantas mengambil beras dalam karung dan mencucinya. Dari jendela dapur yang terbuka, cahaya langit mulai meredup. Di tengah kampung sana, masjid memutar audio mengaji menandakan sebentar lagi azan magrib akan dikumandangkan. 

Dari api yang dinyalakan Putri Linjang, asap membubung kemudian keluar melalui celah-celah yang sengaja dibuat di atas dapur. Putri Linjang duduk di kursi kayu menghadap keluar jendela, di luar sana pohon-pohon tampak bergerak, kafilah-kafilah angin berembus mendengarkan dersik serupa nyanyian. Putri Linjang buru-buru melihat keluar jendela, ia tersenyum saat angin menerpa wajahnya. 

“Angin tunjukkan rupamu, angin tunjukkan rupamu,” katanya tersenyum. Kepalanya jelalatan mencari rupa angin yang tak kunjung ia temui. 

Ketika azan magrib berkumandang, angin bertiup lebih kencang. Saat bersamaan pula periuk bergetar, air di dalamnya mendidih. Putri Linjang tak melakukan yang seharusnya dilakukan, ia hanya melihat sekilas kemudian kembali memanggil-manggil angin bicara padanya seakan-akan kafilah-kafilah angin di luar sana adalah seseorang yang sedang mendengarkan ceritanya. Hingga magrib berlalu, lembayung dan remang petang menghilang digantikan bungkusan malam yang perlahan semakin pekat. Unak Bangko mencium bau gosong dari dapur, ia berteriak-teriak memanggil Putri Linjang. Namun Putri Linjang tak menyautinya, dengan bersusah payah Unak Bangko mencoba bangun dari tidurnya. Ia sempat sempoyongan sebelum akhirnya berhasil memaksakan diri untuk berjalan. 

“Lin, nasimu hangus!” teriak Unak Bangko sekali lagi Putri Linjang hanya menoleh, tak acuh. Unak Bangko buru-buru memisahkan puntung kayu yang semakin menjadi membakar periuk. Periuk satu-satunya itu kini gosong, menghitam. Tutup periuk terjatuh membikin nasi di dalamnya ikut gosong. 

“Astagfirullah, Lin. Kau ini bagaimana?!” Unak Bangko menepuk pundak anaknya. 

“Aku sedang bicara dengan angin mak,” Putri Linjang berujar setengah berbisik. Unak Bangko menarik anaknya dari hadapan jendela kemudian ia menutup jendela itu. 

“Berhenti bicara dengan angin, umak sedang tak enak badan, periuk kau bakar. Kau ini kenapa, Lin?! Sekarang bagaimana kita akan makan?!” ketus Unak Bangko kemudian ia duduk di kursi kayu, mencoba mengatur napasnya. Putri Linjang hanya diam, menunduk. Unak Bangko berdiri dari duduknya ia kembali ke kamar. 

 

Unak Bangko kelaparan, ia kembali berdiri dari ranjang. Bersusah payah wanita itu berjalan. Ia sempoyongan dan terjatuh. Unak Bangko memanggil anaknya. Tiga kali panggilan, barulah anak gadis itu menyaut.

“Kenapa umak?” ketus Putri Linjang. 

“Kau beli nasi ke warung Rejo, sekalian beli Bodrex! Ambil uangnya dalam lemari.”

Putri Linjang mengangguk, mengambil uang dalam lemari kemudian mengeloyor keluar. Ya Allah jaga anakku, batin Unak Bangko.

Di warung Rejo bapak-bapak kampung yang malam ini giliran meronda duduk mengobrol seraya menikmati segelas kopi. Sebelum tengah malam nanti berkeliling kampung menjaga keamanan. Melihat kedatangan Putri Linjang, anak gadis Rejo yang rajin membantu orang tuanya menyambut dengan senyuman kemudian menanyakan apa yang gadis berkaki panjang itu ingin beli. Dengan lantangnya Putri Linjang menyebutkan pesanannya. Pria yang duduk di samping Putri Linjang mengalihpandangan ke arah Putri Linjang, kedua mata mereka bertemu. 

“Beli makan?” tanya Maun, pria itu adalah teman sekolahnya Putri Linjang. Lalu seperti biasa Putri Linjang hanya merespons dengan senyuman. Melihat itu Maun balas tersenyum kemudian kembali melarutkan diri pada obrolan bapak-bapak. 

“Coba Pak Kadus jelaskan, bagaimana caranya air bisa jadi listrik?” tanya seorang warga. Kala itu Pak Kadus tengah memberi tahu rencana kades yang ingin membikin PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air).

“Nah kalau itu, Maun lebih ngerti. Jelaskan, Un!” kata Pak Kadus. 

“Jadi, ‘kan air yang di Curug Lubok Belaba deras tuh. Nah, nanti ada alatnya kita bikin pembangkit listrik dengan tenaga air, bukan dengan air.”

“Serius itu Un, air bisa munculin listrik? Agak laen sih.” 

“Eh jangankan munculin listrik, munculin bini buat kau pun bisa,” Pak Kadus mencoba berkelakar disambut tawa oleh bapak-bapak. 

Putri Linjang ikut menyimak percakapan itu. Apalagi ia mendengar pembicaraan tentang listrik yang bisa memunculkan bini. Ia mulai menelaah, kalau air deras bisa munculin listrik dan bini, apakah angin deras bisa memunculkan listrik dan laki buatnya. Anak gadis Rejo memberikan nasi pesanan Putri Linjang, ia menerimanya dan membayar. Sepanjang langkah pulang, Putri Linjang terus memikirkan apakah angin deras bisa memberikannya laki.

“Emang bener bisa ngasilin bini, Kang?” tanya orang itu setengah berbisik pada Pak Kadus. 

“Kagak bisa, lah, goblok,” salah satu teman mengusap wajahnya, mereka kembali tertawa.

 

Hujan deras melanda sepanjang pagi, membikin tidur Maun yang semalam habis bergadang semakin nyenyak. Ia menarik selimut yang membungkus tubuh, tak acuh pada hujan deras yang datang bersama angin kencang. Rumahnya rumah batu, jadi ia tak perlu merasakan guncangan angin seperti pada rumah panggung. 

Menjelang tengah hari hujan mulai mereda. Kafilah-kafilah angin telah berembus jauh ke utara. Halaman kampung jadi becek, hujan tadi begitu deras turunnya. Maun menyambar jaketnya kemudian beranjak ke warung Rejo. Hendak menikmati kopi juga sepiring nasi. 

Kala itu Rejo sendiri yang melayani, anak gadisnya tengah sekolah. Seperti biasa, Maun memesan sambal tempe dengan sayur bayam dan kerupuk, minumnya kopi hitam. Sambil menunggu pesanannya disiapkan karena Maun selalu minta lauknya dihangatkan dulu. Maun melihat tumpukan koran di samping bakul-bakul berisi gorengan. 

“Buat apa ini koran, Kang?” tanya Maun tangannya tanpa permisi menarik selembar koran. 

“Buat bungkus gorengan,” timpal Rejo. 

“Biasanya pakai daun pisang, Kang. Lagian nggak sayang korannya?”

“Iya, tapi si Selamat tuh, harga daun pisangnya dinaikkin lagi. Lama-lama rugi aku pakai daun pisang. Nah, tadi kebetulan Buk Tin nawarin koran buat bungkus gorengan, dia kasih murah aja. Soalnya koran beberapa bulan lalu, beritanya udah lewat katanya,” jelas Rejo seraya terus mengaduk kopi pesanan Maun. Maun mengangguk-angguk mengerti lantas menerima kopi dan nasi yang disodorkan Rejo. Maun dengan santainya menikmati sepiring nasi itu seraya sesekali menyauti pembicaraan Rejo.

Setelah menghabiskan sepiring nasinya, hujan di luar tiba-tiba kembali turun. Maun bersendawa kencang lalu menyeruput kopinya. Tergoda dengan gorengan hangat di atas meja, Maun menyambar satu gorengan kemudian ia meraih selembar koran yang tadi ia bolak-balik.

Maun membaca judul demi judul di koran itu; Data Masyarakat Dikabarkan Bocor. Pemerintah; sudah kami tambal. Udah biasa, gumam Maun. Harga BBM naik lagi, seorang ibu-ibu menangis sampai kesurupan di bawah Monas. Paling pencitraan, pikirnya. Ia membuka halaman selanjutnya, matanya langsung tertarik pada satu gambar dengan judul; Dua orang ART disiksa oleh majikan satu maninggal sedangkan satu lagi berhasil kabur dan melapor. Maun memperhatikan foto dua orang pembantu yang terpampang di koran. Kok mirip Linjang, pikir Maun. Ia kemudian membaca informasi pada berita itu, tertulis di sana inisial si pembantu adalah PL dan NA. PL, Putri Linjang, Maun bertanya-tanya dalam hati. Ia dibikin penasaran dengan berita itu.

“Kang, kayak biasa,” kata Maun. 

“Iya, iya,” dengan cemberut Rejo menimpali karena itu artinya Maun berhutang lagi.

“Mau pulang? Ujan loh ini,” kata Rejo kala ia melihat Maun berdiri dari duduknya. 

“Iya, mau ke rumah Wak Unak. Ini korannya minta satu ya, Kang,” Maun mengangkat koran di tangannya. 

“Yaudah bawa sana.”

Dengan koran di tangannya, Maun menuju rumah Unak Bangko. Hujan masih belum mereda, tapi juga tidak terlalu deras. Maun berjalan cepat menerobos hujan, sesekali melompati kubangan di jalanan tanah. Setibanya ia di rumah Unak Bangko, Maun mencoba mengelap tubuhnya dengan tangan, juga mengibas-ngibaskan rambutnya yang agak basah. 

“Assalamualaikum,” ujar Maun diiringi ketukan pada pintu kayu rumah Unak Bangko. Tak ada jawaban dari Unak Bangko, Maun mengulangi salamnya kemudian menguatkan ketukannya. Tiga kali dan tetap tak ada jawaban, Maun mengembuskan napas. Pasrah. Ia kemudian duduk di kursi panjang dari bambu di beranda rumah. Di atas kursi panjang itu jendela rumah tampak tak terkunci, Maun melihat jendela itu terbuka sedikit. Dengan lancangnya, ia membuka jendela rumah. 

“Assalamualaikum, Wak Unak,” panggil Maun. Saat ketika ia mengudarakan padangannya ke seluruh rumah, ia mendapati Unak Bangko terkapar di depan pintu kamar. 

“Astagfirullahaladzim,” ucap Maun tak pikir panjang ia langsung melompat masuk. 

Maun mencoba membangunkan Unak Bangko, tapi tak ada respons. Ia memegangi pergelangan tangannya, tubuh itu terasa amat dingin juga ia tak mendapatkan detak jantung Unak Bangko di pergelangan tangannya. Maun mulai panik ia mencari-cari Putri Linjang, di kamarnya, di dapur, di halaman belakang rumah, di halaman samping rumah. Gadis sedeng itu tidak ada. Maun keluar memanggil orang-orang untuk minta bantuan. Tetangga yang berdatangan memutuskan untuk memanggil Pak Kadus juga memanggil Bidan Witri bidan termasyhur di kampung itu. 

Kala Bidan Witri datang ia langsung memeriksa Unak Bangko. Pun kala Pak Kadus datang ia menuntut Maun menceritakan apa yang barusan terjadi. Maun menceritakan seadanya. Pak Kadus juga menanyakan keberadaan Putri Linjang, tapi tidak ada yang tahu sampai seorang tetangga lain masuk ia yang terakhir kali melihat Putri Linjang.

“Aku melihat Linjang keluar saat hujan deras tadi, setelah itu aku belum melihatnya lagi.”

“Ke arah mana ia pergi?” 

“Ke arah sungai,” kata tetangga itu. Pak Kadus mengangguk. Selang beberapa menit kemudian Bidan Witri keluar dari dalam kamar bersama beberapa ibu-ibu yang merupakan tetangga Unak Bangko. 

“Dia sudah meninggal,” kata Bidan Witri singkat. 

 

Taburan hujan pagi tadi datang bersama deru angin. Tak banyak orang yang ingin keluar dari rumah mereka. Petani membatalkan hajatnya untuk ke kebun, orang-orang menunda aktivitas setidaknya hingga hujan mereda. 

Putri Linjang duduk pada sebuah kursi kayu yang jika bergeser akan memekik, sebab pakunya yang sudah karatan juga longgar. Pandangannya mengudara ke halaman belakang rumah. Hujan-hujan yang tertiup angin, daun basah yang bergoyang-goyang terasa menenangkan. Kala ia larut dalam lamunannya, tiba-tiba terdengar satu bisikan. Linjang, ikutilah aku. Aku juga mencintaimu, gadisku. Kafilah angin datang dari barat, menampar wajahnya. Linjang tersadar dari lamunannya, ia tersenyum lantas buru-buru keluar mengejar kafilah angin yang tadi menepis wajahnya.

“Tunggu angin, tunjukkan rupamu aku mencintaimu,” teriak Putri Linjang berlari kecil mengejar angin. Angin itu terus berembus, menggerakkan pohon pisang, menyeberangi sungai, lantas terlontar jauh ke arah bukit. Putri Linjang terus mengejarnya.

“Kau akan menjadi kekasihku,” bisikan itu semakin menjadi-jadi di telinga Putri Linjang. Putri Linjang semakin pontang-panting mengejarnya. Ia menaiki bukit, menyusuri rimba bukit barisan, memanggil-manggil angin. Dan hingga kini ia tak pernah kembali. Apakah dia sudah mati? Apakah sudah jadi siluman? Apakah sudah jadi bini sang angin? Wallahualam. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!