Mumi-Mumi Menyerbu Bumi

Orang tuaku mati dalam keadaan dada yang mengempis drastis, bahkan sampai kulit mereka membentuk tulang-tulang dan jantung, degupnya terlihat dan terdengar dari jauh. Di atas kasur mereka saling memeluk leher dalam keadaan telanjang, matanya hampir keluar dan mulut terbuka sepenuhnya. Kematian mereka tiada tanda yang berarti sehingga aku baru mengetahuinya berhari-hari kemudian. Seakan waktu memilih mempercepat hitungan mundur umur orang tuaku. Namun aku tidak merasa dunia hancur, karena orang tuaku mungkin orang ke-5000 dari manusia yang mengakhiri umur dengan cara yang sama.

Hanya orang yang menggunakan masker sepertiku yang umurnya masih bertahan. Mereka berlalu-lalang sambil bernyanyi lagu-lagu Barat hingga Eropa. Berita-berita, kolom-kolom koran, hingga baliho-baliho di dunia mengabarkan kematian 5000-an orang yang termasuk orang tuaku di dalamnya. Diduga bukan karena wabah atau rudal Iran nyasar ke tempat mereka, tetapi karena oksigen yang tiba-tiba hilang.

Kenapa oksigen yang sungguh melimpah ruah, harta termurah dari Tuhan itu bisa menghilang begitu saja? Apakah ini efek karena rakyat tidak mau membayar pajak sehingga pasokan oksigen diputus? Ya, bagaimana mau membayar pajak jikalau uang rakyat dikorupsi, untuk menggaji orang yang ngakunya wakil rakyat, ataupun mendanai program makanan gratis yang ternyata projek pembunuhan massal?

Wartawan berbondong-bondong memenuhi jalan menggali informasi dari orang-orang yang tergeletak begitu saja. Dada mereka mulai menipis, bahkan bukan hanya degup jantung yang terlihat, tetapi juga semakin membesar dan hampir meledak sebelum akhirnya benar-benar kehilangan ototnya. Tentu para wartawan itu menggunakan masker yang sama sepertiku. Selain itu, banyak orang yang memilih untuk menetap di mobil dengan pendingin ruangan yang menyala tanpa mengenal senja.

Kota menjadi kuburan massal dalam waktu beberapa kali senja terlahir kembali.

 

Mobil wartawan yang sedang bekerja mengisi kolom-kolom korannya dengan foto-foto mayat yang baru saja kehilangan arwahnya, tapi terlihat seperti mumi yang ditemukan arkeolog di bawah naungan gunung es Antartika, mereka membiarkanku ikut mencari di mana oksigen itu bersembunyi, pikirku. Kuputar mataku halaman demi halaman koran pagi, di jip berpenghuni lima orang wartawan dan satu orang tidak waras (aku). Koran itu dipenuhi foto-foto mumi yang membuat koran berita lebih terlihat seperti pamflet museum mumi dengan berbagai jenisnya. 

Dua wajah sipit orang tuaku tergambar jelas: tubuh kering, rambut hampir rontok sepenuhnya, dan lalat-lalat yang sedang mukbang mata Bapak. 

“Dunia akan kiamat.”

“Belum tentu, Nina. Kau setting dulu kameramu, baru coba komentar lagi.” Aku seakan hampir lupa wajah senja di balik masker itu. Berdirinya melintasi hutan-hutan pinus seperti Tomb Raider yang dengan anggun menarik panah dan menembus lima musuh di depannya. Sayangnya bibir yang aku yakin masih basah itu tertutup masker yang sama seperti semua yang ada di jip ini. Namun, aku yakin, bekas bibirku masih ada di situ.

Sebentar lagi akan terlihat biru laut dan gemulai ombak yang menghantar puluhan lumba-lumba mencari pasangannya. Seakan aku bisa mendengar buih-buih laut yang lahir itu mati meledak seketika. Benar saja, warung-warung tidak berasap tiba-tiba muncul naik dari gunung-gunung bambu. Pos parkir sudah terlewati, walau pemilik pos itu memaki-maki kami sebelum ia tergeletak jatuh, lupa bahwa tidak ada oksigen di luar sini.

Rem ditarik dan asap terakhir jip keluar dari belakang ban. Nina melompat dengan kamera yang lubang baterainya masih terbuka, tapi itu tidak membuat baterainya melompat dari tempatnya. Walau pantai ini bukanlah kampung nelayan, semua orang merasakan bau ikan yang menyengat, seakan arwah-arwah ikan sedang berjalan menuju langit. Benar saja. Pesisir menjadi kuburan ikan yang terus bertambah dan didorong ratusan ombak.

Tidak ada orang di sepanjang garis pesisir. Karang-karang mulai retak, walau kuyakin terakhir kali kulihatnya masih kokoh hingga lumba-lumba “merajut cinta” di situ. Baru kusadari. Benar-benar sadar. Sejak kapan laut berbau tembaga? Benar-benar tembaga. Bahkan aku bisa melihat titik-titik besi melompat dari ombak yang menerjang tajam karang.

Tiba-tiba sebuah mata menggelinding di mata kakiku. Tiada putih di matanya karena termarinasi asin laut tembaga itu. Maka dari itu, mataku memutar ke arah senja yang memerah seperti sakit mata, sebelum menyadari sebuah mumi yang kehilangan satu mata di antara tumpukan ikan-ikan berbau tembaga.

 

“Ibu, aku izin ke pulau seberang ya, Ibu.”

“Ngapain kamu, Nak?”

“Mau kerja di tambang.”

Percakapan itu yang memenuhi segala rumah di desaku. Teman-temanku berbaris di gapura desa sebelum benar-benar melompat ke sebuah pikap yang membawa mereka membelah bukit-bukit. Punggung mereka membungkuk sepenuhnya karena tas di sana yang berisi tumpukan uang, bukan berkas-berkas dan ijazah tanda mereka pernah sekolah apalagi berpikir. Membuatku bertanya-tanya akan arti pendidikan apabila orang tidak berijazah naik menjadi pemimpin tertinggi.

Kini tersisa aku, remaja yang masih (mungkin) waras. Bisa saja sebentar lagi hanya aku orang bernyawa di desa ini yang mampu mengurusi mumi-mumi di sini. Dari ratusan orang yang menjadi mumi secara mendadak, hanya dua mayat yang berhasil dikuburkan dengan sempurna dan itu pun aku yang menguburkan mayat orang tuaku. Karena banyak remaja yang memilih ke pulau seberang untuk mengaduk-aduk tanah dengan sekop besar dan mengeruk segala macam unsur di dalamnya. Rahim bumi dikeruk seperti es krim yang dimakan oleh anak kecil.

Langkahku tetap mendera walau masker yang kupakai terus berembun dan menghalau udara jahat menusuk hidungku. Bambu-bambu yang menopang sendi-sendi tanah di desa ini seakan hidup, tetapi mati karena tidak menghasilkan kehidupan lagi. Terkadang burung-burung jatuh tepat di ubun-ubunku. Kondisinya tidak jauh berbeda dari orang tuaku, hanya saja bulu mereka rontok sepenuhnya.

Kini di depanku hanya ada tumpukan nisan. Aku merasa tempat ini lebih hidup daripada desaku yang mati dimakan ketiadaan, kehampaan, dan kesunyian yang tiada bandingannya. Apakah orang tuaku hanya tersisa kafan sepenuhnya?

 

Nina mengetuk pintu kaca yang dibanjiri manusia-manusia masker. Di balik pintu itu ada lahan yang besarnya melebihi dua negara Singapura menjadi satu. Aku menganggapnya lebih besar dari Jawa. Walau kami berhasil membelah jalan satu kilometer di atas laut ini, lautan manusia di sini lebih berbahaya dan siap melumat siapa pun yang ada. Kamera Nina hampir terlempar ke kawanan hiu yang aku yakin tidak berbahaya, karena banyaknya sisa mayat yang mengambang dimakan laut tembaga.

Beberapa manusia saling beradu sikut, kepala, kaki dan lainnya. Sekitar dua dari lima orang yang ada terlempar ke lautan dan matanya keluar menjadi asam. Sedangkan satu kilometer jalan di atas laut yang menuju pintu kaca ini penuh dengan manusia-manusia bermasker yang berpunggung tas uang. Nina hampir saja ikut terlempar, sebelum tiba-tiba manusia yang hidup di sini berhenti bergerak sepenuhnya, mendengar dentuman keras dari pinggir pintu kaca. Tiba-tiba dari bawah jalan ini, muncul sebuah air hitam pekat yang ternyata mengalir deras dari jutaan pipa-pipa yang tertanam di sana. Kurasa dalam satu detik 500 liter air hitam keluar, dan itu semua membuat jalan sepanjang satu kilometer sunyi, tidak ada makhluk bersuara selama satu jam. Setelah air itu berhenti keluar, semua orang tepuk tangan sebelum saling sikut lebih keras. Semua ingin menembus pintu kaca untuk mendapat pekerjaan, juga ingin berlindung dari cairan hitam yang menguap dan membuat laut semakin bau tembaga.

Kulihat Nina mengambang di laut dengan telanjang dan mata yang hilang sepenuhnya.

 

Aku tiba di kamar tidur orang tuaku. Kini tiada lagi bambu-bambu, hutan-hutan, atau laut yang masih tersisa asin. Kini pesisir semua pantai tersisa milyaran mayat ikan dan plankton yang memasok oksigen; burung-burung berjatuhan layaknya hujan; semua tempat menjadi kuburan dengan tanah yang tidak mau mengurainya menjadi pupuk alami.

Orang tuaku bersemayam di bawah sini. Aku menguruknya dengan tanah dalam posisi mereka yang masih berpelukan. Kelamin mereka masih saling bertemu. Aku yakin, hanya aku yang masih waras dan berjalan di muka bumi. Nama Bapak dan Ibu tertulis jelas di papan tripleks dari toko Bapak yang masih berbunyi mesin pemotong kayu.

Tiada bunga. Jangankan bunga, kehidupan pun tidak ada.

Maskerku, yang terbuat dari kaca sebesar bola Piala Dunia, di dalamnya hidup satu sekop tanah dengan pohon kecil dan cacing yang kudapat dari tubuh Bapak, kini sepenuhnya pecah setelah kuhantamkan ke papan nisan itu.

Wajahku tak berarti di atas gundukan tanah ini, sebelum akhirnya tertidur di atas gundukan tanah, berharap masih bisa bangun, walau secara cepat tubuhku tiba-tiba seperti orang tuaku.

Penghuni bumi Kediri. Calon mahasiswa Universitas Islam. Umurnya 17 tahun tapi pasrah saja dibilang Gen-Z. Tidak berstatus, tidak tahu golongan darah, bermimpi menjadi Seno Gumira Ajidarma. Instagram @naskahsenja64_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!