Siang sehabis salat duhur di surau pondok miliknya, Kiai Misbah langsung menangkap sesuatu yang tidak biasa di rumahnya. Dua orang tamu duduk menunggu—dan entah mengapa, salah satunya membuatnya berhenti sejenak di ambang pintu.
Sambil menggosok mulutnya dengan siwak, ia mengamati dari kejauhan. Seorang pria berusia sekira tiga puluh delapan tahun duduk tenang sambil berbicara kepada Nyai dengan kopiah bulat di kepalanya. Di sampingnya, seorang bocah duduk rapi mengenakan kopiah hitam yang mulai memudar kecokelatan.
Begitu langkah Kiai Misbah terdengar melewati pintu depan, keduanya langsung berdiri. Kiai Misbah sedikit terperanjat ketika melihat bocah itu. Ia tersenyum tipis. Seperti cermin yang memantulkan bayangan dirinya sendiri, kopiah lapuk di kepala bocah itu seketika menariknya melompati waktu.
Warna hitam kusam yang digerogoti rona cokelat kemerahan pada kopiah itu mendadak meluas di matanya, menjelma menjadi kabut tebal yang menyelimuti Kampung Sukamanah pada sebuah pagi yang dingin. Di dalam kabut itu, Misbah kecil tengah mengayunkan kaki bersama ayahnya menyusuri jalan setapak. Sambil diiringi asap kayu bakar yang menggeliat dari setiap celah gedek bambu, mereka menyibak deretan rumah bedeng dengan langkah yang begitu awas.
Di depan, Misbah sesekali menoleh ke belakang, memastikan ayahnya tidak tertinggal jauh. Langkah Somad terasa berat, sejalan dengan beban rumah tangga mereka yang belakangan sering memicu pertengkaran di dapur.
Misbah tidak tahu apa yang berkecamuk di kepala ayahnya. Sorot matanya tajam, memandang lurus ke depan seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat. Misbah ingin bertanya tentang masalah itu pada ayahnya. Namun, ia selalu takut jika itu akan berakhir pada keributan seperti yang ada di rumahnya. Ia yakin, suatu saat akan ada waktunya ia bisa mengerti. Maka ia kembali memandang jalanan setapak itu.
Mereka terus berjalan hingga melewati lahan perkebunan sayur selama kurang lebih satu jam. Di sebuah gapura bambu, mereka tiba di perkampungan sebelah. Somad, ayahnya, kemudian memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah dipan reot di samping jalan.
“Ada yang tertinggal,” ujar ayahnya sambil memeriksa isi tasnya. “Sebelum jalan besar, ada toko kelontong. Kita berhenti di sana.”
Misbah jarang sekali menimpali atau menjawab pertanyaan dari ayahnya. Tapi kali ini ia menjawab dengan lugas. Bahkan, dalam beberapa momen perjalanan itu Misbah dan ayahnya tampak begitu akrab dan mengobrol tentang banyak hal.
Sepanjang jalan setapak itu, senyum memang tak pernah lepas dari wajah Misbah. Bahu kecilnya terasa ringan, bukan karena beban tasnya yang sedikit, melainkan karena ia tahu perjalanan ini adalah gerbang kebebasannya dari pertengkaran-pertengkaran yang melelahkan di rumahnya, yang sering kali membuat tetangganya mesti menutup kedua telinganya setiap kali keributan itu terjadi.
Jika keributan itu muncul, maka Misbah akan pergi ke rumah pamannya. Ia akan pergi hanya untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Bukan cerita yang heroik atau cerita yang supranatural sebenarnya. Hanya saja, pamannya memiliki kemampuan berbicara yang baik.
Ia akan bercerita seputar kehidupannya waktu di pondok dulu. Seperti mengambil bambu di sebuah bukit, menggarap sawah sambil mencari belut di parit kecil, atau menghafal sebuah kitab kuning dengan kaki yang dicelupkan ke sebuah kolam ikan. Namun, semua itu sudah cukup untuk membuatnya membayangkan hal-hal tersebut terjadi pada dirinya. Ketika di suatu senja, ayahnya menawarkan agar ia pergi untuk mondok, ia mengiyakan dengan senyum lebar dan buru-buru memberi tahu sang paman.
Di sisi lain, kopiahnya masih menempel di batok bocah periang itu. Seiring berlalunya waktu, warna hitam pekatnya mulai pudar, digerogoti cokelat usang kemerahan. Misbah seakan tidak bisa melepaskan kopiah itu dalam kondisi apa pun; bahkan ketika ia bermain dan berenang di sungai bersama teman-temannya, benda itu tetap menempel di kepalanya.
Kopiah itu seolah menjadi pakaian wajib yang harus dipakai ke mana pun ia pergi. Alasannya sederhana, kopiah itu diberikan oleh pamannya pada Lebaran lalu. Sosok yang selalu menginspirasinya tentang dunia pesantren, dan ia, dengan keyakinan polosnya, merasa harus menjaga kopiah itu.
Pamannya sempat berbisik, “Jangan sampai hilang,” bisiknya sambil menepuk kopiah itu. “Ia akan menjadi perisaimu kelak di mana pun kamu berpijak.”
Kini, di atas dipan reot itu, Misbah menoleh ke samping. Sambil menggaruk-garuk tengkuknya, ia memandangi sang ayah yang sedang sibuk memilin tembakau iris yang selalu ia simpan di dompet kecilnya. Rasa penasaran yang sedari tadi ia simpan akhirnya meluncur begitu saja.
“Pak, apakah cerita-cerita Mang Atok juga dilakukan oleh Bapak saat di pondok dulu?”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Wajah tirusnya termenung, menatap lurus pada korek api yang baru saja memantik rokoknya. Di mata Misbah, ayahnya selalu tampak seperti itu: menyimpan ruang gelap yang dipenuhi rahasia. Misbah ingat bagaimana ibunya sering kali mengamuk di rumah karena ayahnya lebih suka pergi memancing hingga larut malam atau terlibat judi kecil-kecilan di empang. Uang belanja yang kerap kurang selalu berakhir dengan piring terbang di dapur.
Namun, di atas dipan reot itu, melihat kepulan asap tembakau yang diembuskan ayahnya dengan berat, kemarahan Misbah menguap.
“Pak,” Misbah menegur bapaknya yang sedang melamun.
Ayahnya menghela napas. Ia memandang Misbah sejenak, lalu membuang abu rokoknya dengan telunjuk. Ia memilih jawaban.
”Ya, Bapak sering pergi ke sawah membantu kiai menandur, dan tak lupa pulangnya menenteng belut yang besar-besar.”
“Termasuk pergi ke lereng bukit, mencari batang bambu, Pak?”
“Tentu saja,” asap rokok mengepul dari sela bibir ayahnya. “Apa yang diceritakan Mang Atok semasa di pondok juga dilakukan oleh Bapak.”
“Tapi mengapa Bapak tidak menjadi seperti Mang Atok? Menjadi pengajar ngaji?”
Ayahnya terbatuk ketika mengisap rokoknya kembali. Asap tembakau yang gagal diisapnya itu lenyap ditiup angin, menyisakan keheningan di antara mereka. Misbah tahu ayahnya tidak serajin Mang Atok, namun di hadapan mata polosnya, ayahnya terpaksa mengangguk lagi.
“Tadinya ingin begitu, Jang. Setelah dari pondok, Bapak kerja ke kota, tidak mengurus surau dan berladang seperti kakek dan leluhurmu. Ada huru-hara di kampung kita pada waktu itu. Tetapi itu masa lalu, Jang. Yang penting sekarang kamu ingin pergi ke pondok. Setidaknya di sana kamu belajar segala hal dari kiaimu nanti,” ujarnya sambil mematikan rokok.
Misbah menatap ayahnya dengan tatapan polos, seolah sedang merekam setiap inci wajah lelaki yang dipenuhi banyak rahasia tersebut.
“Ayo, Jang. Jalan besar masih jauh,” Ayahnya kembali mencangklong tasnya.
Tak sampai setengah jam, mereka akhirnya tiba di jalan besar. Di pinggir jalan, mereka mencegat bus Mercy Pesek yang berbau solar itu. Tak ada lagi obrolan yang intens seperti di dipan reot tadi. Keduanya tampak membisu dan hanya bisa duduk di kursi sebelah kiri dekat pintu bus. Somad tiba-tiba tersenyum melihat Misbah menyenderkan kepala ke bahunya. Ia kemudian membetulkan kopiah lapuk yang mulai terlepas dari kepalanya. Angin yang berembus dari sela jendela bus membelai kedua kelopak mata Misbah yang perlahan membawanya ke alam mimpi.
Seruan assalamu’alaikum serta salaman dari kedua tamu membuat ingatannya kembali pada ruang tamu itu. Kiai Misbah kemudian menyilakan kedua tamunya untuk duduk kembali. Nyai, istrinya, pamit hendak melaksanakan salat.
“Bagaimana, Kang?” Kiai Misbah mendeham.
“Saya ingin menyerahkan anak saya di sini ke pondokmu, Kiai.” Ayah si bocah menjawab dengan suara nyaris berbisik.
Pandangan Kiai Misbah tak lepas dari kopiah lapuk di kepala bocah itu, benda usang yang seketika melompati waktu, membawanya kembali ke jok bus berbau solar puluhan tahun silam.
“Oh, iya, iya… silakan. Dari Sukaluyu?”
“Bukan, Kiai. Saya dari Cilimus, dekat Babakan Nangka,”
“Lumayan jauh. Naik Colt Elf?”
“Leres, Kiai.”
Kiai Misbah menghela napas, menundukkan pandangan sejenak sebelum mendengar kembali suara pria itu.
“Sebelumnya maafkan saya, Kiai. Saya sebenarnya tidak begitu punya uang untuk memasukkan anak saya di pondok ini, apakah boleh saya hanya menyerahkan beberapa kilo beras saja?” Air muka pria itu tampak berubah pasi.
“Tak apa, Kang. Tidak perlu membayar. Dan beras itu alangkah baik digunakan untuk anakmu sebagai bekal dalam sebulan. Ia akan memasak sendiri bersama santri lainnya, nanti saya akan menyuruh Ahmad untuk mengurusnya.”
Kiai Misbah bangkit dan menyuruh tamunya untuk menunggu di luar sebentar. Ia melangkah keluar, pergi ke arah kobong santri putra. Tak perlu waktu lama, seorang santri kini membuntuti kiainya. Si santri segera mengiyakan ketika Kiai Misbah memerintahkannya membawa setengah karung beras dan beberapa bekal milik tamunya ke kamar kobong.
“Ahmad, santri lama. Ia yang bertanggung jawab atas santri-santri baru,” ujar Kiai Misbah pada pria itu. Kiai Misbah segera melangkah mendekat ke arah anak si pria. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengusap kopiah lapuk di kepala anak itu dan membetulkannya sedikit.
Ahmad kembali dengan langkah yang agak tergopoh. “Ini,” seru Kiai Misbah kepada Ahmad sambil menunjuk kardus bekal tamunya.
Ketika Ahmad mengangkut beberapa bekalnya ke atas pundak, kedua tamu itu mencium tangan Kiai Misbah dengan takzim. Pria itu sekali lagi meminta izin menitipkan anak sepenuhnya pada Kiai Misbah. Sambil tersenyum, Sang Kiai mengangguk dan menyilakan pria itu untuk melihat-lihat terlebih dahulu kobong untuk anaknya. Dengan penuh sopan santun, pria itu langsung berbalik dan mengekor Ahmad menuju kamar kobong.
Kiai Misbah berdiri di dekat pagar bambu rumahnya. Matanya berkaca-kaca menyaksikan kedua ayah-anak itu berjalan. Pandangannya kemudian mengarah kembali pada kopiah lapuk anak itu. Mengingatkannya pada rahasia yang baru diungkap Mang Atok bertahun-tahun setelah ia keluar dari pondok. Kopiah hitam yang dulu ia banggakan, yang ia kira milik pamannya, sebenarnya pemberian ayahnya. Sang ayah malu mengakuinya, maka dititipkanlah pada adiknya di suatu malam.
Kiai Misbah menyeka sudut matanya dengan sorban hijau yang tersampir di bahu. Ia melangkah kembali ke dalam rumah. Daun-daun mangga yang kering luruh tertiup angin tenggara.
Di kamarnya, ia membuka lemari berpintu kaca. Di sela-sela deretan kitab kuning itu, ia mencabut sebuah benda yang ia simpan selama bertahun-tahun. Sebuah kopiah berwarna pudar. Ia menepuk benda itu dan mencoba memakainya. Meski tidak lagi muat, Kiai Misbah membiarkan kopiah itu tetap bercokol di kepalanya. Ia kemudian meraih salah satu kitab kuning dan segera merapalkan doa-doa ampunan seperti yang biasa ia lakukan sebelum muraja’ah.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!