

Hidup kita terikat masa lalu,
sulit diurai, enggan berlalu.
Bahkan dengan sepenuh kesadaran,
makin dipaksa, makin membelenggu—
mencengkeram dada hingga sesak napas,
lalu merenggut hidup pelan-pelan.
Masa lalu adalah guru terbaik,
—ujar sang bijak.
Masa lalu adalah masa lalu,
—ujar orang biasa.
Masa lalu adalah masa depan,
—ujar orang gila.
Bangun tidur, lalu tidur lagi:
itulah kita hari ini.
Bangun tidur, tak bisa tidur lagi:
itulah kita di masa depan.
Bangun tidur, lalu berkarya:
itulah kita di masa lalu.
Indah atau buruknya masa lalu,
hanyalah soal bagaimana kita menatap hari ini dan masa depan.
Ubah cara pandangmu,
maka zaman ikut berubah.
Peradaban bermula dari adab.
Namun kita bagai pungguk merindukan bulan:
Bulan adalah peradaban,
Pungguk adalah kita,
dan rindu adalah adab yang tak berdaya.
Sebatas rindu, sebatas harap…
Tanpa usaha, tanpa istikamah, tanpa gairah.
Kita berhenti di tempat, terjebak di ruang hampa,
lalu tiba-tiba terjungkal jatuh—
pungguk merana, mati sedikit demi sedikit.
Sementara di atas sana, bulan tetap bersinar,
menerangi tubuh yang menggelepar dalam gempar.
Dan sang pungguk takkan pernah tahu:
ada jemari manusia yang hendak mencuri bulan,
padamkan sinarnya untuk selamanya,
tak peduli ikut hancur lebur bersama malam.
Siapakah yang sejatinya cerdas?
Mereka yang senantiasa mengingat mati—
yang menyadari tanda-tandanya,
baik yang kasatmata maupun yang terselubung rahasia.
Hingga rasa mati meresap ke dada,
meski raga masih bernapas legawa.
Lalu ia menemui hikmat, tumbuh menjadi bijak bestari—
tak lagi gentar pada maut, tapi merangkulnya erat.
Sebab kematian pasti ‘kan datang menyapa:
tak peduli engkau dibalut sutra yang lembut,
atau terbujur kaku di tanah berkerikil penuh kemelut.
Mati tak sekadar mati.
Ada jejak yang ditanggalkan bagi yang hidup:
kebajikan atau keburukan.
Tak perlu diperebutkan,
sebab hidup adalah amanah,
dan mati hanyalah garis batas.
Sang Pemilik menerima kembali milik-Nya,
sedang dunia hanya menyimpan jejaknya:
dikutuk, dilupakan, atau dipuja.
Madiun, September 2026
Lahir dan berdomisili di Madiun, Jawa Timur. Aktif menulis cerpen, esai, dan lainnya yang beberapa telah dimuat di berbagai media serta antologi. Kumpulan cerpen yang sudah terbit berjudul Bahagia Itu Kecil Saja. Instagram @a.s._ishak dan X @kangmassugik.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!