Maulana Abdul Aziz, jadi Khotib Jumat di Amerika demi UMR. Astaghfirullah, Pak Haji!
Di Washington D.C. ada yang jualan seblak gak, Kang?
Di Washington D.C. ada yang jualan seblak gak, Kang?

Begitu lah, sebab pembungkaman tidak selalu dikerjakan oleh negara, kacang hijau, atau antek-antek asing. Kadang dilakukan atasan, abang-abangan, atau teman sendiri.

Awal cerita kepilih, ya pengumuman aja. Senang kepilih. Berasa mimpi.

Di tengah kecamuk perang Iran-Israel plus Amerika yang kian memanas, Indonesia tiba-tiba muncul dengan niatan berlagak menjadi juru damai bagi negara-negara yang sedang berperang tersebut. Informasi tersebut pertama kali diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri atas arahan Presiden Prabowo Subianto. Bahkan dalam pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri, pada Sabtu, 28 Februari 2026, Presiden Indonesia bersedia untuk […]

Hasrat untuk berkarya, atau berbuat sesuatu untuk diri sendiri dan masyarakat luas adalah suatu tindakan yang baik, dan hal semacam inilah yang dikerjakan oleh sekelompok anak muda di Cikampek yang mendirikan sebuah komunitas literasi bernama Halaman Belakang. Komunitas yang mereka bangun menjadi ruang kreativitas bagi warga Cikampek dan sekitarnya, serta menunjukkan bahwa sumber daya manusia […]

Lagian, in this economy cek kesehatan jiwa kayanya relevan, kok. Minimal ya memastikan bahwa orang yang diberi kuasa publik tidak membawa gangguan personal yang berpotensi membahayakan publik. Oh iya, sekali lagi, pakai BPJS ya! Jangan pakai pajak kami, gak sudi. Cuih.

Bahkan mungkin, dari Pasaman hingga Purwakarta, dari Selasih hingga Rukiah, kerja literasi semacam inilah yang membuat sejarah tidak lagi cuma pembendaharaan tokoh-tokoh yang kita kenal di buku pelajaran.

Sebab jika memang Trump menghendaki perdamaian di Gaza ia tinggal mencabut dukungannya terhadap Israel. Segitu saja. Simpel. Tanpa biaya, tanpa harus kabur ke Jordania.

Untuk yang tidak pernah merasakan antre BPJS atau melihat lansia gagal daftar karena gak bisa pakai gawai diam dulu, kami sedang tidak berbicara pada kelompok fast track seperti kalian.

Beberapa waktu belakang, Mas Agung baru saja menerbitkan buku pertamanya (novela) yang berjudul Baron Kédé dan Kisah yang Belum Usai di penerbit buku indie sejagat Purwakarta, Pustakaki Press. Untuk mengulik informasi tentang bagaimana proses menulisnya, Minpang mencoba untuk berbincang dengan Mas Agung R. Efendi
