Perempuan yang Mencari Rupa Angin
“Angin tampakkan rupamu, angin, aku ingin bertemu. Angin, aku mencintaimu,” Putri Linjang tersenyum-senyum sendiri di atas batu besar itu.
Ya cerpen :(
Di sinilah Para penyimpang mengasah diri menulis cerita fiksi dengan berbagai genre. Yang penting ori dan NYIMPANG.
“Angin tampakkan rupamu, angin, aku ingin bertemu. Angin, aku mencintaimu,” Putri Linjang tersenyum-senyum sendiri di atas batu besar itu.
Ia kemudian meraih salah satu kitab kuning dan segera merapalkan doa-doa ampunan seperti yang biasa ia lakukan sebelum muraja’ah.
Wajahku tak berarti di atas gundukan tanah ini, sebelum akhirnya tertidur di atas gundukan tanah, berharap masih bisa bangun, walau secara cepat tubuhku tiba-tiba seperti orang tuaku.
Selama Wowo masih bisa terbangun esok harinya dan duduk menonton TV dengan sepiring nasi goreng, maka semuanya akan baik-baik saja.
“Heh! Ngapain kalian? Gak usah sok kaget. Kau yang buat aku takut, ya!”
Kata-kata terakhir Lottie terngiang-ngiang dalam pikiranku. “Memang kau sejelek itu, ya? Pantas kau di dalam kotak itu selamanya.”
Kalian ingin menghapus jejak anakku? Kalian ingin berpura-pura seolah dia tidak pernah ada hanya demi menutupi rasa malu?
“Tentu saja aku bakal menerimanya! Aku gak mau keinginanku berakhir di kotak cokelat berdebu seperti itu,” jawabku dengan nada sombong.
Di sanalah Bagus pulang menuju rumahnya dan menghilang di ujung jalan seperti halnya Kopdes yang dilahap oleh api kemarahan Bagus.