Hujan selalu jadi alasan untuk mengirim pesan panjang pada orang yang tak lagi menjawab. Bait-bait tentang perpisahan yang belum selesai.
Suatu pagi langit berubah warna darah, dan semua perempuan menatapnya seperti menatap jati diri. Cerpen surealis tentang tubuh, kecemasan, dan langit yang runtuh.
Timun diiris, lalu ditambahkan sedikit garam dan air secukupnya. Setelah itu, simpan dalam wadah tertutup agar timun terfermentasi. Terkadang, aku juga membuat acar dari kubis, selada air, dan kentang. Tunggu sebentar. Kentang tidak bisa digunakan untuk membuat acar. Kandungan karbohidratnya terlalu tinggi sehingga kentang bisa membusuk. Lagi pula, tidak ada manusia di dunia ini yang […]
“Bu, kalau besok kita masih miskin, apa aku harus berhenti sekolah?” Pertanyaan itu jatuh lebih berat daripada telapak kaki Marni yang menginjak pedal tubuhku. Jarumku sempat berhenti di atas kain seragam putih milik seorang anak, seolah aku pun membutuhkan waktu untuk mencari jawaban. Dari tempatku di sudut kios, aku melihat Marni menunduk. Keringat membasahi pelipisnya […]
Seperti pagi-pagi sebelumnya, suara istri mengomel, anak yang minta diantar ke sekolah, ditambah bunyi mesin jahit rusak saling berebut perhatian. Rapi mulai memahami pola itu setelah tidak ada perpanjangan kontrak dari perusahaan asing yang sempat menjadi penopang hidup keluarganya. “Tinggal di daerah lumbung padi gak bikin kita kenyang nasi,” umpat Gita. Centong di tangannya sibuk […]
Drama Korea soal ketidakadilan hukum terasa akrab bagi WNI. Ulasan 'A Bona Fide Killer' sebagai cermin bobroknya penegakan hukum di Indonesia.
Tak mau pacaran, tapi juga tak rela kehilangan. Membaca fenomena HTS di kalangan anak muda—dan harga yang dibayar saat status dibiarkan kabur.
Berapa kali hari ini kamu mengiyakan sesuatu padahal keberatan? Menelusuri akar people pleaser—dari luka masa kecil sampai teori Karen Horney.
Jari sudah menekan 'beli' sebelum pikiran sempat menolak. Menelisik dorongan belanja saat diskon 10.10 lewat pertarungan Id, Ego, dan Superego ala Freud.
Hujan selalu jadi alasan untuk mengirim pesan panjang pada orang yang tak lagi menjawab. Bait-bait tentang perpisahan yang belum selesai.
Pemain bola, astronot, sampai apa lagi? Menelusuri empat cita-cita Upin dan Ipin yang berubah tiap musim—dan kenapa justru itu yang membuat mereka terasa manusiawi.
Suatu pagi langit berubah warna darah, dan semua perempuan menatapnya seperti menatap jati diri. Cerpen surealis tentang tubuh, kecemasan, dan langit yang runtuh.
Niatnya cuma cari hiburan, eh malah jadi cemas sendiri. Kenapa scroll media sosial bikin kita merasa hidup orang lain lebih baik—dan bagaimana keluar dari jebakannya.
Lima puisi surealis yang menyorot kekacauan zaman—dari layar yang tak kunjung padam sampai kekhusyukan yang jadi komoditas. Baca sebagai cermin, bukan pelarian.
Satu-dua tahun belakangan ini, kalau Anda rajin menyusuri sudut-sudut kota, khususnya di dekat kawasan kampus, stasiun, atau permukiman padat, pasti ada satu pemandangan baru yang mencolok. Kedai-kedai kecil berselimut warna merah putih dengan logo Nescafe raksasa mendadak menjamur di mana-mana. Mereka datang dengan konsep booth minimalis, mesin dispenser otomatis, serta daftar menu es kopi susu […]