Sajak Pelepasan
lalu ke mana nama Bapak yang tersohor dan menjadi pujian orang-orang di desa? tak mungkin lepas karena anak ayam satu yang hilang rumah dan induknya
Bagaimana membaca “semangat zaman” kiwari?
Tentu saja melalui isi kepala dan keresahan dibentuk menjadi karya-karya seni. Di sinilah Para Penyimpang mendokumentasikan seanagt-zaman mereka.
Entah itu tulisan, visual, audio, atau bentuk-bentuk lain yang belum punya nama. Di sini kami berkarya tanpa banyak aturan—asal jujur, berdaya, dan bikin mikir (atau minimal bikin senyum sendiri).
lalu ke mana nama Bapak yang tersohor dan menjadi pujian orang-orang di desa? tak mungkin lepas karena anak ayam satu yang hilang rumah dan induknya

Warga sekitar memanggilnya dengan nama Rusdi Betrik. Panggilan yang biasanya dialamatkan ke seseorang dibarengi isyarat menggoreskan telunjuk menyamping di depan dahi dari satu sisi ke sisi lainnya. Boleh dibilang, kabetrik merupakan istilah di daerah kami untuk menyebut seseorang yang tidak memenuhi kriteria waras, tapi belum sampai ke tahap untuk bisa disebut gila. Rusdi Betrik tumbuh […]

Tekad dalam diriku sudah bulat. Aku hanya meminjam segalanya.

Oke mantap! Setidaknya ia tidak lupa rasa ganja Sumatra.

Buku Catatan di Warung Kopi Di warung kopi, utang ditulis di buku tipis lebih jujur daripada janji kampanye. Namaku berbaris rapi, seperti tokoh figuran dalam novel yang tak pernah tamat. Camus duduk di kursi plastik, menyruput pahit tanpa bertanya: untuk apa pagi jika sore selalu ditagih? Dostoyevski menghitung receh di saku celana sobek, menyadari: yang […]

Barangkali bagi kebayakan orang, Situ Buleud dikenal tak lebih dari sekedar tempat pangguyangan badak. Menurut para sesepuh, riwayatnya jauh lebih kelam daripada cerita yang lazim didengar. Mereka berkata, pondasinya dibuat dari pengorbanan pribumi dan darah kompeni. Asal tahu saja, sebelum kisah ini ramai dituturkan, nama Raden Aditia Aria Gandawaluya (Dalem Pangestu), dikenang sebagai sosok yang […]

"Sirooothalladzina an 'amta 'alaihim, gurawil maghduuu bi 'alaihim"Ki Djadjam mulai berpikir ada yang salah.

Orang waras mana coba yang menenggak Kawa-Kawa sambil menyebut asma Tuhan?

Setelah sekian lama saling mencari, akhirnya Hawa berada tepat di hadapan Adam. Mereka berdiri di puncak bukit kecil pada bentang bumi bagian timur. Butiran pasir yang beterbangan menerpa kulit, seolah memberi restu pada keduanya untuk berlama-lama menetap. Semburat cahaya jingga dari matahari yang jatuh perlahan pada punggung bebatuan berlumut di ufuk barat, seolah menyertai Adam […]

Kecewa yang dirasa Kakek Sarmidi amat dalam. Ingin rasanya ia merobek lehernya dengan pisau yang ia pegang.
