Menulis sebagai Jalan Sunyi: Antara Keabadian dan Kesendirian
Menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga perjalanan sunyi menuju makna, keabadian, dan perlawanan terhadap lupa.
Menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga perjalanan sunyi menuju makna, keabadian, dan perlawanan terhadap lupa.
Menulis adalah bentuk perlawanan di tengah ancaman sensor, propaganda, dan tekanan.
Cinta sepihak adalah tragedi yang rumit dan menguras emosi.
Gak semua yang keren harus dicap Jakarta atau Bandung—setiap kota punya coraknya sendiri, tapi entah kenapa kita masih aja sibuk nyangkut-nyangutin identitas sama kota lain, padahal mah ya sama aja.
Sosial Media menciptakan ilusi kebahagiaan yang memicu perbandingan sosial, kecemasan, dan ketidakpuasan.
Esai ini merefleksikan perjalanan emosional dan pemikiran tentang konsep jodoh dan keputusan pernikahan melalui dialog dengan seorang teman yang telah sukses.
Esai ini menyampaikan tentang pernikahan sederhana Farid dan Sabrina yang kontras dengan kompleksitas dan tekanan sosial pernikahan di era modern.
Esai ini mengulas bagaimana menulis esai dapat menjadi solusi kreatif untuk melawan kegabutan sambil memberikan manfaat personal dan sosial.
Pembuangan limbah medis ke Sungai Citarum yang diduga akibat kelalaian pengawasan menciptakan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat.
“Es teh”, “Miftah”, dan kata “Makian.” Tiga kata kunci tersebut menghiasi media sosial di ujung 2024. Singkat cerita, telah viral interaksi yang diklaim sebagai candaan dari seorang pendakwah bernama Miftah Maulana kepada seorang penjual es teh di momen Magelang Bersholawat (20/12/24). Yang mewajarkan dan ikut mentertawakan candaan Miftah tentu ada, setidaknya jajaran tokoh agama yang […]