Kematian pasti terjadi tetapi kapan waktunya datang adalah misteri bagi semua makhluk hidup di bumi ini. Mungkin ketika aku masih hidup di rahim Ibu, Tuhan memang sudah memberi tahu waktu kematianku, tapi itu terlupa saat aku mengirup udara dunia pertama kali.
Sebelumnya aku sudah melupakan kematian sejak tumbuh menjadi manusia dewasa, aku terlalu asyik terbawa arus dunia. Pekerjaan, keluarga, percintaan, pencapaian, pembuktian keberhasilan, kejatuhan, kebangkitan, diremehkan, direndahkan, cicilan setiap bulan, hutang yang tidak pernah selesai, tabungan yang tidak pernah bertambah banyak. Semua itu sanggup melupakan sesuatu yang sangat dekat dengan nadiku, kematian.
Hingga pada suatu malam yang awalnya aku anggap seperti malam-malam biasa.
Sepulang bekerja lembur karena ada tambahan laporan atasan yang harus aku kirimkan hari itu juga, aku jadi melupakan kesehatan tubuhku. Aku lupa makan larut mengerjakan laporan. Sarapan pagi yang terlambat disusul tidak makan siang dan makan malam ikut-ikutan terlambat. Kebiasaan itu menjadi rutin akhir-akhir ini.
Tepat pukul setengah dua belas malam, aku baru bisa merebahkan tubuhku sehabis membersihkan diri dengan mandi air dingin. Dadaku terasa sesak seperti tertusuk benda berkali kali. Cukup lama aku merasakan sakit dada, mungkin sekitar satu jam. Sampai kemudian ada sosok bertubuh besar menghampiriku.
Aku tidak bisa dengan jelas melihat mukanya, aku tahu saat itu dia menatapku. Sosok besar itu seperti bayangan yang aku mainkan saat aku masih kecil dengan adik dan kakakku. Kami selalu membuat bentuk-bentuk bayangan besar dengan kedua tangan kami ketika ada pemadaman aliran listrik di kampungku. Kami menyalakan lilin untuk pengganti cahaya lampu malam yang mati akibat pemadaman tapi selalu kami gunakan untuk bermain bayang-bayang seperti wayang kulit.
Sosok bayangan besar itu tepat dihadapanku, dan aku tidak bisa menggerakan tubuhku. Aku hanya berbaring menatapnya.
Dadaku sudah tidak terasa sakit, tapi terganti dengan rasa takut karena sosok itu. Bukan hanya tubuhku yang membeku, suaraku pun seolah lebih dahulu melarikan diri meninggalkan tubuhnya yang ketakutan. Aku tidak bisa berteriak, mataku pun tidak bisa aku pejamkan.
Sosok bayangan hitam besar itu benar-benar menghampiriku, kini ia ada tepat dihadapanku tetapi aku masih belum bisa dengan jelas melihat wajahnya. Hanya hitam dan seolah matanya awas melihat tubuh kakuku. Hingga kemudian sosok itu membisikan sesuatu pada telinga kiriku.
“Jika diberi waktu satu hari lagi sebelum nyawamu tercabut, satu hal apa yang akan kamu lakukan? Satu hal, tidak dua, tiga, empat atau lebih, JAWAB!”
Suara sosok itu membuat telinga kiriku berdenging. Aku semakin ketakutan. Aku berteriak, ternyata suaraku sudah kembali pada tubuhku. Aku bisa berteriak.
“Apa… Apa maumu? Apakah aku akan mati?” aku berbalik bertanya pada sosok bayangan itu.
“HEI, jawab saja pertanyaanku! Apa yang akan kamu lakukan jika diberi waktu hidup satu hari lagi?”
Sialnya aku menjawab tanpa berpikir panjang mungkin karena takut dan saking paniknya berhadapan dengan sosok misterius itu. Aku menyesalinya sekarang.
Saat itu aku menjawab, “Aku akan menyelesaikan laporan pekerjaan atasanku.”
Sosok bayangan besar itu menghilang ketika aku menjawab dengan jawaban bodoh yang aku sesali sekarang. Bagaimana tidak?
Aku diberi kesempatan hidup satu hari hanya untuk menyelesaikan pekerjaan atasanku. Mengapa tidak hal lain yang lebih berguna untuk diriku atau orang-orang yang aku cintai?
Contohnya seperti bertemu dengan Ibu, mengucapkan maaf dan salam perpisahan, atau bertemu kekasihku Maya memberikan ciuman terakhir untuknya, atau kuambil semua tabunganku yang tidak pernah bertambah banyak isi saldonya itu di bank lalu aku sumbangkan pada panti asuhan dekat rumah.
Pagi tadi aku mencoba melakukan hal lain selain hal bodoh menyelesaikan laporan pekerjaan atasanku. Aku ingin menjemput Maya di rumahnya, berencana menceritakan kejadian tadi malam. Tiba-tiba serangan dada seperti ditusuk-tusuk kembali terasa. Sesak sekali dadaku, aku tidak bisa bernapas pagi itu.
Kemudian aku berkata, “Aku akan menyelesaikan laporan pekerjaan atasanku!”
Sakit itu tiba-tiba langsung menghilang.
Awalnya aku kira kebetulan saja. Aku kira memang ada masalah pada tubuhku, tapi jika mengingat kejadian semalam ketika sosok besar seperti bayangan itu berkata di kuping kiriku aku langsung teringat satu hal yang harus aku lakukan sebelum aku mati.
Sebelum ke kantor aku mampir pergi ke rumah sakit buat tahu masalah di tubuhku. Saat tiba di rumah sakit, aku parkirkan kendaraanku.
Aku jalan bergegas menuju ruangan IGD. Sebelum sampai IGD aku melewati ATM rumah sakit di samping pintu masuk IGD, terlintas pikiranku mengambil uang di tabungan untuk disumbangakan ke panti asuhan dekat rumah tetapi ketika membuka pintu ATM, serangan sesak seperti ditusuk-tusuk kembali menyerangku.
Aku tidak sadarkan diri, dan sekarang aku berada di ruang IGD rumah sakit. Kata perawat yang baru saja memeriksa cairan infusku, perawat itu bersyukur aku masih selamat karena cepat ditolong.
Entah siapa yang menolongku, aku tidak menanyakannya.
Sesak dan sakit masih aku rasakan sekarang.
“Apa memang aku harus menepati janjiku pada sosok bayangan yang menemuiku semalam?”
Aku membatin, jika memang benar aku diberi waktu satu hari untuk menyelesaikan laporan atasanku.
“Aku akan menyelesaikan laporan pekerjaan atasanku!” ucapku tiba-tiba.
Perawat yang sedari tadi melihat tetesan air infus langsung menoleh ke arahku. “Bapak istirahat saja, urusan kantor tinggalkan dulu,” katannya.
“Aku akan menyelesaikan laporan pekerjaan atasanku, Suster.” Aku mengulang perkataan yang sama.
Kalimat itu terasa seperti mantra!
Sakit sesak seperti ditusuk-tusuk kembali menghilang tiba-tiba ketika selesai mengucapkannya. Suster yang merawatku terlihat khawatir lalu dia bergegas meninggalkanku, katanya dia akan memanggil dokter jaga.
Ini adalah kesempatan untuk pergi. Aku beranikan diri mencabut selang infus yang menempel di pergelangan tangan kiriku. Aku menyia-nyiakan pekerjaan perawat yang memasang dan dari tadi memeriksa aliran air infus ini agar masuk ke tubuhku. Kini selang infus itu terlepas dari tanganku dan airnya menetes perlahan jatuh pada lantai keramik IGD.
Aku masih ingat letak mobilku terparkir. Beruntung kunci mobil bisa aku temukan cepat, tergeletak di atas meja samping kasur IGD yang aku tiduri.
Aku berlari, sesekali menoleh ke belakang, takut ada yang mengejarku ketika bergegas menuju parkiran rumah sakit. Setelah sampai, aku masuk mobil tanpa basa basi langsung tancap gas menuju kantor tempatku bekerja.
“Kenapa di hari terakhir hidup, aku masih mengurusi pekerjaan?”
Pekerjaan yang seharusnya bukan tugasku. Atasanku selalu memberi perintah untuk membuat laporan kegiatan harian pimpinan. Katanya, laporan itu adalah bentuk tanggung jawab telah melaksanakan tugas dan akan dikirim ke atasannya lagi.
“Tanggung jawab? Melaksanakan tugas? Tugas yang mengerjai anak buahnya maksudnya!”
Aku hanya berani mengomel sendiri. Mana mungkin aku berkata seperti itu di hadapan atasanku.
Iya, aku rasa pimpinan sekarang terlalu banyak pencitraan agar terlihat pekerjaannya berjalan baik. Laporan-laporan terlihat hijau padahal tidak ada dampaknya sama sekali pada anak buahnya. Buktinya tabunganku segitu-gitu saja, setiap bulan aku masih pusing membayar cicilan.
Tidak lama ponselku berdering, aku yakin itu dari kantor. Aku lihat nama yang memanggilku di layar ponsel tertulis, Pak Bos.
“Bagaimana kamu Ri? Sudah kubilang setiap hari jangan terlambat untuk kirim laporan! Lihat sekarang, kantor kita masuk daftar yang tidak membuat laporan kemarin. Menjadi atensi pimpinan tinggi. Bikin malu saja!” kata atasanku melalui sambungan telepon di ponsel.
“Maaf, Pak. Kemarin saya sakit.” jawabku singkat.
“Alasan saja kamu.” bentak atasan.
“Maaf, Pak. Saya buat sekarang.” jawabku seadanya agar tidak terlalu panjang dia memarahiku.
“Kalau sudah selesai kamu pulang saja tidak usah ke kantor. Kamu sudah terlambat masuk kantor.” perintah dia.
Ini memang sudah terlalu siang, mungkin karena pingsan tadi aku tidak sadarkan diri terlalu lama.
Aku menepi memarkirkan kembali mobilku yang belum lama aku kendarai. Kuambil tasku yang tersimpan di kursi belakang. Kemudian kuambil laptop yang tersimpan di dalamnya. Mau tidak mau aku harus menyelesaikan laporan atasanku sekarang.
Aku sejenak melupakan kejadian semalam pertemuanku dengan sosok hitam seperti bayangan yang membisikanku hingga membuat kuping kiriku berdenging. Aku juga melupakan perihal yang akan aku lakukan sebelum mati.
Sekarang aku mengingatnya kembali ketika akan menekan tombol kirim pada aplikasi laporan pimpinan di laptopku. Tiba-tiba kematian membayangiku, tentang sakit sesak di dada yang begitu menusuk-nusuk.
Aku juga membayangkan kehidupanku yang biasa-biasa saja ini. Aku rindu ibuku yang sudah lama tidak kutengok. Rindu pada Maya kekasihku, yang kadang membuatku kesal karena cerewetnya.
“Apakah semua ini akan berakhir begitu saja?” tanyaku dalam hati.
***
Aku terbangun melihat jam dinding menunjukan pukul dua belas malam. Hari ini aku Lelah sekali. Aku tertidur setelah selesai mandi malam. Entah kenapa ada rasa nyeri membekas di dada, seperti tertusuk-tusuk benda. Mungkin karena aku tidak teratur makan. Aku berjanji mulai besok lebih peduli pada diriku sendiri. Sebenarnya Maya sudah selalu mengingatkanku untuk makan teratur.
Aku coba memejamkan mata lagi, ada rasa yang begitu tenang malam ini. Ingin rasanya tidur cukup lama hingga melupakan arus dunia.
Sebelum memejamkan mata aku lihat ke arah pintu kamar yang tidak aku tutup. Terlihat ruangan tengah yang gelap dari dalam kamar, teringat dulu sewaktu kecil sering bermain bayang-bayang dengan adik dan kakaku ketika ada pemadaman listrik di malam hari.
Lahir di Bandung. Menulis untuk mengeluarkan sesaknya segala yang ada di kepala agar tidak terlalu penuh dan berat. Menulis Buku Orang-orang Tersesat (2021) dan buku Orang-orang dalam Kotak (Nominasi Bil Award, 2026). Instagram @wiwitputrabangsa
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!