Tetap waras adalah pilihan yang harus dipaksakan. Hidup di tanah rantau dengan gaji sedikit di atas UMK membuat saya harus berpikir berkali-kali sebelum menggesek kartu ATM.
Lebih-lebih ketika godaan konsumerisme datang melalui layar. Pembayaran dengan QRIS terasa begitu mudah, sementara keinginan perlahan menjelma seolah-olah kebutuhan.
Malam ini, di pos satpam Citra Batam 1, saya menatap lekat-lekat empat apartemen kembar yang menjulang, seolah menjilat awan kelam di kawasan Pollux Habibie.
Saya tidak sedang berharap dapat tinggal di tempat tersebut. Sebaliknya, saya sedang mengadu realitas dengan rumah kontrakan yang beberapa minggu terakhir saya cari.
Bayangan rumah kontrakan petak kembali muncul di kepala. Kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga, dan dapur harus berdesakan dalam satu petak. Semuanya hanya terdiri atas satu ruang.
Mencari tempat sekecil itu saja sudah cukup membuat kepala pening. Rasanya seperti ubun-ubun sedang dibelai gasing tengkorak.
Harga kontrakan tersebut Rp2,2 juta per bulan. Artinya, lebih dari 30 persen gaji UMK Batam akan habis untuk membayar tempat tinggal. Bagi banyak orang, angka itu mungkin terdengar fantastis. Namun, bagi saya, angka tersebut adalah hasil kalkulasi yang sudah dihitung berkali-kali dengan kepala dingin, meski tetap diiringi rasa pusing.
Karena itu, tidak salah rasanya apabila saya berkata kepada diri sendiri:
“Tetaplah waras walau tenaga dan pikiran selalu terkuras.”
Mungkin akan ada celotehan warganet bahwa kontrakan tersebut terlalu mahal. Mereka bisa saja berkata bahwa saya seharusnya mencari kontrakan lain yang lebih terjangkau. Sebelum celotehan itu benar-benar muncul, saya ingin menjelaskan alasannya tanpa basa-basi. Anggap saja ini bentuk transparansi kecil yang sering dituntut rakyat.
Sebagai seorang suami di tanah rantau yang belum memiliki kendaraan pribadi, tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja adalah pilihan paling rasional. Saya dapat berjalan kaki tanpa harus mengeluarkan uang untuk bensin ataupun biaya transportasi lainnya.
Selain menghemat pengeluaran, pilihan tersebut juga membuat waktu perjalanan lebih singkat. Memang, penghematan itu harus dibayar dengan betis yang mengeras dan tapak sepatu yang lebih cepat menipis.
Namun, persoalannya bukan hanya soal uang bensin.
Ada hal yang jauh lebih fundamental: rasa aman.
Setiap hari, saya harus meninggalkan istri lebih dari delapan jam di kontrakan. Oleh sebab itu, saya perlu memastikan bahwa tempat tinggal kami aman dan nyaman. Bagaimanapun juga, saya tidak bisa bekerja dengan tenang jika terus membayangkan istri berada di tempat yang rawan.
Lantas, bagaimana jika ia merasa takut selama saya bekerja?
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi persoalan paling fundamental bagi saya. Ketika ketenangan di rumah terganggu, ketenangan di tempat kerja pun ikut terpengaruh.
Dengan pertimbangan tersebut, kontrakan yang aman, nyaman, dan dekat dengan tempat kerja menjadi pilihan terbaik. Harganya memang tidak murah. Akan tetapi, saya sedang membeli sesuatu yang tidak bisa dihitung hanya dengan nominal rupiah.
Saya sedang membeli ketenangan.
Bukan berarti seluruh persoalan akan menghilang setelah saya mengambil kontrakan dekat tempat kerja. Biayanya tetap terasa mahal, setidaknya bagi saya. Namun, pilihan tersebut memungkinkan saya meminimalkan berbagai kemungkinan buruk.
Selain itu, tidak ada yang lebih indah daripada pulang dan mendapati istri menyambut dengan senyuman. Ia tidak perlu menghabiskan lebih dari delapan jam sendirian dalam kecemasan.
Bukankah itu lebih indah daripada pulang dan disambut wajah ketakutan, cerita tentang ketidaknyamanan, atau laporan tentang lingkungan yang tidak aman?
Suami mana yang akan tahan apabila mendapati istrinya berada di sudut kamar dengan tubuh menggigil dan air mata berderai ketika ia pulang bekerja?
Membayangkannya saja sudah membuat asam lambung terasa sampai ke tenggorokan.
Karena itulah, saya rela membiarkan betis semakin keras dan tapak sepatu semakin tipis. Semua itu saya lakukan demi meminimalkan bayang-bayang buruk yang mungkin terjadi.
Jadi, uang sewa Rp2,2 juta per bulan bukan sekadar bentuk pemborosan atau gaya-gayaan. Bagi saya, uang tersebut adalah harga yang harus dibayar demi mendapatkan ketenangan psikologis.
Tentu saja, ini bukan hanya sentimentalitas seorang suami yang menyayangi istrinya. Jauh lebih ontologis daripada itu, tempat tinggal yang layak, aman, dan nyaman merupakan kebutuhan mendasar manusia.
Di tengah kerasnya kehidupan kota industri, saya terang-terangan menyogok kekejaman Batam dengan sepertiga gaji. Tujuannya sederhana: agar kekejaman kota ini tidak ikut masuk ke ruang domestik kami.
Itulah pilihan saya untuk tetap waras.
Pesawat melintas tepat di atas empat apartemen Pollux Habibie. Entah pesawat itu baru saja mendarat atau hendak meninggalkan Batam.
Suara gemuruhnya membelah kesunyian malam. Seketika, ingatan saya tercampak jauh ke kampung halaman.
Getir itu pun terasa semakin kuat.
Pemikiran tentang kontrakan membuat kampung halaman seolah hadir dan mengolok-olok saya. Untuk sesaat, saya merasa tidak sanggup pulang kampung nantinya.
Tanah kampung halaman yang selama ini memberikan saya kehidupan seolah bertanya:
“Besarkah yang kau dapatkan dari mengganti kenyamanan di kampung?”
Renungan saya semakin menjadi-jadi. Saya paham benar bahwa ada dua kategori perantau yang pulang ke kampung halaman.
Pertama, mereka yang telah berhasil menempatkan nasib dalam genggaman.
Kedua, mereka yang terpaksa mengangkat bendera putih karena tanah rantau yang bertuah tak lagi memberi.
Di persimpangan itulah rasa getir semakin menumpuk.
Saya menghirup napas dalam-dalam. Rasanya semua persoalan ini tidak akan pernah selesai.
Pertama, rumah kontrakan yang harganya terasa tidak masuk akal. Kedua, biaya hidup untuk sekadar makan layak bersama istri yang selalu harus ditekan. Ketiga, pertanyaan tentang bagaimana saya bisa menyimpan uang.
Ketiganya berkelindan menjadi satu beban. Rasanya seperti sekarung kentang yang harus dipanggul di pundak. Persis seperti ketika saya masih di Pasar Padang Lua.
Malam rupanya semakin larut. Saya harus melanjutkan perjalanan menuju rumah kontrakan. Mengatur napas di pos satpam Citra Batam 1 sudah cukup untuk memberi kaki tenaga tambahan.
Saya pun kembali melangkah. Tatapan masih lurus mengarah ke apartemen Pollux Habibie.
Namun, kali ini saya membayangkan sesuatu yang lebih sederhana.
Segelas kopi hitam hangat sudah disiapkan istri. Saya tinggal mengetuk pintu kontrakan sebanyak tiga kali.
Mungkin, hidup memang tidak selalu memberikan kita tempat tinggal yang luas. Tidak pula gaji yang cukup untuk memenuhi semua keinginan.
Akan tetapi, selama masih ada tempat untuk pulang dan seseorang yang menunggu, mungkin saya masih punya alasan untuk bertahan dan tetap waras.
Kopi itu bukan pelarian dari ketimpangan kota ini.
Sebaliknya, kopi itu adalah satu-satunya perlindungan yang berhasil saya beli secara tunai dengan segenap keringat, betis yang mengeras, dan alas sepatu yang terus menipis.
Pedagang bawang eceran dari pasar ke pasar. Saat ini berdomisili di Kabupaten Agam.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!