Aku tidak tahu apa yang salah denganku. Semua sepatu, sandal, atau alas kaki yang kupakai selalu cepat rusak. Dalam tiga bulan, sol sepatu yang kupakai selalu aus dan berakhir jebol. Sandal yang kupakai juga aus dan berlubang di bagian tumit serta jempol kaki.
Ibuku bilang, kakiku itu semacam paku—merusak apa pun yang dipakainya. Akibatnya, aku selalu gonta-ganti sepatu setiap tiga bulan sekali. Bahkan, penjaga toko sepatu sampai kenal denganku. Setiap kali aku datang, penjualnya selalu menawarkan sepatu model baru yang menurutnya paling awet. Namun, apa pun jenis sepatunya, pasti jebol pada bulan ketiga. Aku semakin curiga bahwa sepatu yang dijualnya ini bukan barang ori, melainkan KW.
Aku tahu masalah ini terdengar konyol. Namun, hal ini benar-benar mengganggu.
Pernah suatu ketika, saat aku berjalan-jalan bersama pacarku ke pantai, sepatu yang kupakai tiba-tiba jebol. Semua orang memandangi kami dengan penuh rasa ingin tahu. Beberapa orang bahkan menertawakan kami secara terang-terangan, membuat kami tidak nyaman berlama-lama di sana. Mungkin kami hanya bertahan setengah jam di pantai sebelum akhirnya pulang tanpa alas kaki.
Parahnya, pacarku akhirnya memutuskanku. Katanya, dia malu jalan denganku.
Itu satu.
Aku juga pernah mengalaminya saat bertemu klien di kota sebelah. Pertemuan kami berjalan lancar, bahkan klienku menyepakati kerja sama dengan perusahaanku. Aku sudah sangat percaya diri akan mendapatkan promosi jabatan. Namun, saat kami hendak makan-makan untuk merayakan kesepakatan itu, tiba-tiba sepatuku jebol lagi. Alhasil, aku berjalan ke restoran tanpa alas kaki. Pelayan restoran mengusirku, dan setelah itu, klienku tiba-tiba tidak bisa dihubungi.
Sejak saat itu, aku selalu sedia sepatu cadangan saat bepergian jauh karena jebolnya sepatuku tidak bisa diprediksi. Meski selalu kukatakan bahwa sepatuku jebol setelah pemakaian tiga bulan, sebenarnya itu hanya angka rata-rata. Tidak ada yang tahu pasti kapan sepatuku akan jebol, bisa lebih cepat atau justru lebih lambat.
Hingga suatu hari, aku akhirnya mengeluhkan semua ini kepada temanku.
“Bagaimana menurutmu?” tanyaku setelah menceritakan kejadian memalukan yang kualami akibat sepatu jebol itu.
Toni, temanku itu, menyeka air matanya. Dia tergelak sepanjang aku bercerita. Setelah tawanya benar-benar reda, dia baru mulai menyampaikan pendapatnya, “Jujur, ceritamu ini absurd, Ban. Aku nggak tahu harus berkata apa. Tapi, kalau boleh tahu, memangnya kau beli sepatu apa?”
“Macam-macam, sih. Untuk sekarang, aku pakai ini,” kataku sambil menunjukkan sepatuku yang baru kubeli bulan lalu.
Toni memperhatikan secara saksama, lalu menyuruhku membolak-balikkan kakiku agar dia bisa melihat setiap detailnya. “Kau pakai sepatu apaan, cuy? Mereknya aja nggak ada.”
Aku mengedikkan bahu, “Ya nggak tahu, tapi sepatu ini disarankan oleh penjualnya. Katanya awet dan murah.”
Toni menghela napas, “Pantesan jebol, kayaknya itu sepatu abal-abal, deh. Habis ini, beli sepatu bareng aku aja. Kupilihkan yang beneran awet.”
Aku mengangguk. Sore itu, Toni membantuku membeli sepatu baru. Dia memilihkanku merek abibas. Katanya, merek itu bagus. Aku manggut-manggut. Meski agak mahal, aku tetap membelinya.
***
Tiga bulan berlalu, sepatu abibas yang disarankan Toni benar-benar awet. Solnya tidak aus, bahkan masih nyaman dipakai. Aku pun kembali ke aktivitas semula, bahkan sudah tidak membawa sepatu cadangan saat bepergian.
Niatnya, akhir pekan depan, aku ingin menemui Toni untuk berterima kasih. Sayangnya, sebelum hari Sabtu—tepatnya pada hari Jumat—sepatu itu jebol. Aku sendiri kaget dibuatnya. Kok bisa? Padahal, sebelumnya baik-baik saja.
Saat aku bertemu Toni pun, temanku itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Mungkin yang salah bukan sepatunya, Ban,” kata Toni, “kayaknya ada yang salah dengan telapak kakimu.”
“Benarkah?” Aku sampai melepas sepatu dan membandingkannya dengan telapak kaki Toni.
Tingkah kami itu membuat pelanggan lain di kafe melirik sinis ke arah kami. Namun, jujur, tidak ada perbedaan signifikan antara kaki kami. Bedanya, kulitku hanya lebih hitam. Tapi, apakah warna kulit berpengaruh pada ketahanan sepatu?
Saking penasarannya, aku akhirnya mengambil izin kerja pada hari Rabu berikutnya. Aku berniat memeriksakan kakiku kepada dokter spesialis kaki.
“Kaki Bapak baik-baik saja, kok, malah cenderung sehat. Otot kaki Bapak sangat kuat. Bapak suka berolahraga, ya?” komentar dokter berkacamata bulat yang kutemui hari Rabu itu.
Aku menggeleng, “Saya jarang berolahraga, Dok. Seingatku, saya tidak pernah berolahraga. Aku cuma pekerja kantoran biasa yang sering lembur. Mana sempat berolahraga? Sabtu–Minggu rasanya capek sekali, biasanya cuma kupakai untuk tidur atau nongkrong seharian dengan teman-teman.”
Dokter tak bisa berkata apa-apa. Menurutnya, sebaiknya aku tidak terlalu memikirkan perkara sepatu jebol ini. Berganti sepatu setiap tiga bulan sekali bukanlah masalah besar. Ia juga menyarankan agar aku selalu membawa sepatu cadangan.
Pertemuanku dengan dokter itu tidak menghasilkan apa-apa. Jujur, hal itu membuatku sedikit kesal. Ada perasaan tidak puas yang harus kutuntaskan.
Entah dari mana pikiran itu datang, beberapa minggu kemudian aku kepikiran untuk pergi ke dukun. Aku mendapatkan informasi tentang dukun ini dari rekan kerjaku. Katanya, dulu ibunya sakit keras dan berhasil disembuhkan oleh dukun tersebut.
Rumah dukun itu cukup jauh; aku harus melewati tiga kota untuk sampai di sana. Dukun itu adalah seorang lelaki tua yang kurus. Aku merasa tidak nyaman duduk di depannya. Bukan apa-apa, melainkan bau badan dukun itu sangat menyengat dan tidak sedap—perpaduan aroma ketiak, asap arang, dan bunga kering. Selama di sana, aku menahan napas berkali-kali. Rasanya aku bisa mati jika berlama-lama di tempat itu.
Setelah aku menceritakan keluhanku, dukun itu terdiam sejenak lalu memeriksa kakiku. Dengan mata terpejam, ia berkata, “Sepertinya kakimu dikutuk. Ada setan yang bersarang di kakimu.”
Aku membelalakkan mata, tertarik dengan ucapannya. Batinku berkata, ‘Ini dia. Ini pasti alasannya kenapa semua alas kaki yang kupakai selalu rusak.’ Saat itu, aku sudah tidak peduli lagi dengan aroma ketiak busuknya. Malahan, aku kagum dengan ucapannya dan percaya bahwa yang dikatakannya itu benar.
Singkatnya, dukun itu melakukan ritual pengusiran setan. Kakiku diludahi, dicuci dengan air kembang, lalu dibalut kain kafan selama satu jam penuh. Aku menurut saja. Entah bagaimana, kakiku terasa rileks, seolah-olah beban yang membuat sepatu dan sandalku selalu rusak telah terangkat sepenuhnya.
Aku membayar cukup banyak kepada dukun itu. Aku merasa harus berterima kasih dengan layak kepadanya.
Setelah pulang dari sana, hatiku benar-benar lega. Aku merasa telah diselamatkan dari kutukan. Rasanya aku lebih percaya diri sekarang. Aku harus menceritakan semua ini kepada Toni kapan-kapan, ingin menyombongkan bahwa kakiku bukan lagi perusak sepatu.
Sayang seribu sayang, tiga bulan kemudian sepatuku jebol lagi. Aku benar-benar terpukul dan kecewa, bahkan sampai demam dibuatnya. Otakku kosong. Aku sempat berpikir jangan-jangan setan di kakiku sudah kembali. Namun, Toni yang datang menjengukku mengatakan bahwa sepertinya aku hanya ditipu oleh dukun itu. Toni juga menyarankan agar aku menerima nasib buruk soal sepatu ini. Ia bahkan memberiku tiga pasang sepatu abibas.
Sepertinya Toni benar. Sudah saatnya aku menerima nasib dan melanjutkan hidup.
Akhirnya, aku kembali menjalani kehidupan biasa. Pergi bekerja dengan berjalan kaki menuju kantor yang jaraknya tiga kilometer. Menikmati pagi dengan penuh percaya diri, serta berganti sepatu setiap tiga bulan sekali.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!