Nonton Timnas Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Sambil Deg-degan dan Nahan ISPA

Malam kemarin, sekitar pukul tujuh waktu Ketapang, Kalimantan Barat, saya dan Mas Aji, kolega di Bogor yang kebetulan sedang bertugas di Ketapang, masuk ke sebuah kafe untuk menonton final FIFA ASEAN Cup 2026.

Langit malam di Ketapang tetap nggak kelihatan, tertutup jerebu. Bau sangit sisa pembakaran masih mengendap. Kurang lebih sudah empat bulan jerebu ini nongkrong di mari. Mungkin karena pejabat masih mengurung diri di kamar rumah dinas mewahnya sambil memeluk air purifier.

Bagi kami, jangankan air purifier, air bersih buat mandi aja masih susah didapat.

Namun, ini final FIFA ASEAN Cup 2026. Masabodoh dengan ancaman ISPA, perkara Timnas jauh lebih mendesak ketimbang kesehatan paru-paru.

Saat saya dan Mas Aji merangsek masuk ke kafe itu, proyektor belum menyala dan kafe juga belum terlalu ramai, sehingga saya perlu memastikan dulu kepada kasir.

“Ini nobar, kan, Bang?”

“Iya,” katanya.

Kami celingukan mencari lapak. Tiba-tiba seorang anggota polisi berpakaian sipil mempersilakan kami duduk di kursi yang sedang ia tempati di barisan paling depan. Usut punya usut, ia sedang mereservasi tempat untuk seorang petinggi kepolisian di samping meja itu.

Luar biasa memang pejabat kita. Negara lagi krisis bek tengah, dia masih sempat-sempatnya mikirin kasta tempat duduk nobar.

Walau begitu, ini mungkin nggak separah kejadian di GBK, saat ada penonton yang disuruh pindah oleh Paspampres meski sudah membeli tiket mahal-mahal.

Nggak lama kemudian, Deri dan anaknya datang, disusul oleh dua kolega lain yang duduk semeja dengan kami.

Orang-orang mulai berdatangan.

Pukul setengah delapan lewat, proyektor mulai menyala. Di GBK, acara dibuka dengan seremoni. Ada Anggun, ada Judika. Ada-ada saja pokoknya.

Yah, namanya juga Indonesia, negara yang doyan betul sama acara seremonial. Saya jadi ingat kejadian absurd di Kalimantan belum lama ini. Ada agenda pemadaman karhutla, tapi dibikin seremoni dulu panjang lebar sampai tamu dari Jepang melongo keheranan. Tentu saja, begitu pejabat kelar ngasih sambutan, hutannya keburu jadi arang.

Untung saja di final ini Pak Presiden nggak memaksakan diri untuk berpidato atau memotong pita di tengah lapangan.

Pertandingan dimulai dan tensi langsung naik. Timnas mendominasi serangan sampai turun minum.

Drama sesungguhnya baru terjadi saat bek Thailand, Nicholas Mickelson, mendapat kartu merah (setelah menerima kartu kuning kedua) pada menit ke-81.

Pada menit ke-84, Dean James dengan free-kick deflection off Iklas Sanron menjebol gawang Thailand. Kafe meledak. Tapi ya begitu, kalau mendukung Timnas, kita nggak boleh senang kelamaan. Dalam hitungan menit, Iklas Sanron membayar kesalahannya.

Ketika lawan bermain dengan sepuluh orang, harusnya kita bisa menang mudah. Sayangnya, logika itu jarang berlaku bagi Timnas kita.

Kalau ada yang lebih sulit, ngapain dibikin gampang?

Masuk extra time, penyakit lawak lini belakang ini kumat, bukan cuma bagi Manchester United. Blunder terjadi, dan pada menit ke-111, Peeradol Chamrasamee mencetak gol. Indonesia tertinggal 1-2 melawan sepuluh pemain.

Orang-orang di kafe yang tadinya cuma duduk tegang mendadak bermutasi jadi pundit berlisensi. Semua misuh. Semua mendadak ahli taktik dan mengkritik skema racikan John Herdman di lapangan. Mas Aji yang aslinya kalem, mukanya sudah lebih butek daripada kabut asap yang mengintip dari luar kafe.

Saya yang sejatinya nggak paham-paham amat soal bola ikut-ikutan ngomel mengomentari build-up play, termasuk marahin Ole Romeny. Biar kelihatan nasionalis saja.

Ketegangan memuncak sampai akhirnya pada menit ke-116, tendangan Elkan Baggott membuat skor menjadi 2-2. Kafe kembali bergemuruh. Ada yang sampai naik ke atas kursi.

Di depan kami, seorang penonton beberapa kali mengintip live score. Dia memberi spoiler. Tayangan proyektor memang sedikit tertunda. Untung teguran keras langsung turun dari bapak-bapak Polres di meja VIP yang direservasi tadi. Kalau nggak, mungkin orang ini sudah diikat dan dilempar ke lahan gambut.

Pertandingan berlanjut ke adu penalti. Emil Audero menjadi pahlawan setelah menepis tendangan eksekutor Thailand, Nattapong. Indonesia mengunci kemenangan adu penalti 4-2 dan resmi juara setelah puasa selama 35 tahun. Itu berarti lebih tua daripada umur saya.

Kafe pecah. Kami berteriak kegirangan sampai parau. Entah karena saking bahagianya atau karena pita suara kami perlahan terinfeksi oleh kabut asap.

Di luar kafe, jerebu masih tebal. Kebakaran yang melanda Ketapang ini skalanya sudah di fase nggak masuk akal dan nggak masuk anggaran. Saya kehabisan cara menggambarkannya. Mungkin Jakarta memang baru mau turun tangan kalau seluruh penduduk di Pulau Kalimantan sudah harus menyambung nyawa pakai tabung oksigen.

Malam kemarin, saya melihat orang-orang di Ketapang yang sehari-hari hidup jauh dari pusat kekuasaan, jauh dari GBK, dan sedang menghirup udara yang seharusnya nggak mereka hirup, tiba-tiba berteriak bersama-sama untuk Indonesia.

Pasukan John Herdman beserta jajaran stafnya (tentu saja karena menang; coba kalau kalah, mungkin seisi kafe sudah kompak merutuk dan meneriaki Shin Tae-yong) bersama sebelas pemain yang berlarian di lapangan hijau ternyata jauh lebih becus membuat kami merasa menjadi bagian dari negara ini ketimbang pemerintahnya sendiri.

Perasaan yang aneh dan ganjil. Seganjil jerebu dan kabut asap tebal di Ketapang yang nggak kunjung pergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!