Musim Mekar Selasih Episode V: Cara-Cara Baik Menghidupkan Kembali Sastrawan yang Sudah Berpulang

Ikon Membaca Selasih merupakan buah karya kawan-kawan Membaca Selasih

Tulisan ini merupakan arsip kegiatan Musim Mekar Selasih yang diadakan kawan-kawan Membaca Selasih.

 

“Jakarta oh Jakarta!” kata Adinda dalam puisi W. S. Rendra

Saya mengambil premis Jakarta dari Surat Adinda untuk Saijah, sebab saya rasa layak juga kita menyingkir dari Jakarta yang bising. Selama ikut ke dalam diskusi membicarakan Selasih, saya selalu iri pada Sumatra yang terus melahirkan tokoh. Bukan berarti Purwasuka tak punya, hanya saja, ini murni kesalahan generasi-generasi setelahnya (sebut saja generasi saya) yang tak membicarakan, mengarsipkan, dan meneruskan nilai-nilai “tokoh” yang seringnya jadi jargon saja.

Sekali lagi, untuk kerja-kerja yang dilakukan tim Membaca Selasih, saya berikan jempol saya yang hanya empat itu. Sebagai bentuk nyata menolak klaim “Selasih hanya milik Sumbar”, kali ini tim Membaca Selasih turut mengajak Komunitas Riau Sastra untuk membicarakan Selasih. Bukan tanpa alasan, tajuknya saja “Riau Beruntung Setengah Hidup Selasih dihabiskan di Riau.”

Di Riau, Selasih mengajar, berkegiatan, berkarya, bahkan akhirnya dimakamkan. Diskusi kali ini menghadirkan Husnu Abadi, seseorang yang boleh dibilang termasuk sedikit orang yang pernah berinteraksi langsung dengan Sariamin Ismail. Sejak awal diskusi, Husnu mengakui kenyataan yang pahit. Generasi yang benar-benar mengenal Selasih semakin habis. Jika tidak ada upaya sadar untuk memperkenalkan kembali namanya, maka lambat laun nama Sariamin akan benar-benar hilang dari ingatan publik.

Ah, tapi ada menarik sebab saya menyebut kegagalan generasi saya. Husnu Abadi bilang, di Riau, ada seorang tokoh bernama Tabrani Rab, seorang dokter paru-paru. Beliau ini adalah seorang tokoh yang selalu merayakan dua sastrawan, yaitu Soeman HS dan Sariamin Ismail.

“Dua tokoh itu selalu diingat oleh Tabrani Rab.” jelas Husnu.

Husnu pun mengetahui nama Sariamin dari Tabrani Rab. Husnu bercerita, ia hijrah tahun 1975 ke Pekanbaru.

“Tahun 1977, saya bergabung dengan teman-teman sastra. Kegiatannya ya penulisan. Waktu itu teman-teman Pekanbaru merujuk koran Haluan di Padang, karena di Pekanbaru belum ada. Jadi kami ‘menyerbu’ tulisan ke Haluan, Padang. Sampai pada suatu hari, terpikir lah kami untuk mewawancarai tokoh. Lalu kami berpikir ‘Siapa ya yang akan kita wawancarai?'”

Maka, Husnu menceritakan bahwa ia dan kawan-kawan sastranya itu mewawancarai Sariamin Ismail di Jalan Cempedak, dan hasil wawancara itu dimuat di Berita Buana, pada Selasa.

“Ya sama lah ya ada edisinya. Jadi khusus untuk budaya yang cukup serius, itu di Selasa. Kalau di Haluan itu kan ada edisi Hari Minggu untuk remaja.”

Kemudian, hasil wawancara itu juga yang dimuat dalam buku saya “Ketika Riau Tak Mungkin Melupakanmu.”, yang jug amemuat wawancara dengan Soeman HS.

Husnu lalu menambahkan, “Memang sekarang kan tidak semua orang tahu siapa itu Sariamin Ismail. Jadi bagi saya, Sariamin Ismail ini memang merupakan tokoh wanita penulis, dan memang dia itu ikut dalam beberapa pergerakan. Namun, khusus dalam kegiatan sastra, Bu Sariamin itu tidak mempunyai komunitas sendiri, tidak menggerakan karya sastra sendiri. Kemudian karena masalah penglihatannya, beliau jadi berhenti menulis.” katanya.

Nah, di sini saya akui saya lupa-lupa soal SKIS. Seingat saya, Selasih pernah menjadi semacam “sekretaris” atau pemred gitu, deh. Nanti saya cek lagi ya catatan Zoom Membaca Selasih yang lain. (Yeee gimana sih Arini!). 

Uni Rezki, yang sama rajinnya dengan saya dalam mengikuti Zoom ini (ahay) mengingatkan sesuatu yang menurut saya menjadi titik paling bernas malam itu.

Uni Rez mengatakan bahwa ketika membaca Kalau Tak Untung, yang harus dilihat bukan sekadar kisah percintaannya, tetapi gambaran zaman yang dikandungnya, dan jika seorang pembaca tidak bisa mengambil “gambaran zaman yang dikandung” dan menganggap buku itu biasa saja, ya itu nasib pembaca. Deg. 

Saya sepakat. Dulu, saya selalu menolak membaca novel populer, karena saya rasa “Gak ada pentingnya.”

“Najis, arogan banget.” begitulah kata saya kepada diri saya sendiri di masa lalu.

Padahal, berarti ketika saya bilang “Gak ada pentingnya” itu mah memang saya saja yang tak punya kemampuan menggali makna lebih dalam. Kepada dosen Sastra Populer saya, maafkan arogansi saya ya Pak Adji, hehe~

Namun, sayangnya, pernyataan dari Uni Rezki ditanggapi oleh Husnu abadi begini.

“Sekarang, bagaimana caranya sebuah masyarakat mengingatnya? Ada haul, ada ulang tahun, itu juga bagian dari cara mengingatnya. Kemudian saya juga mengungkapkan kenapa Soeman HS dikenang diingat? Ya karena beliau sampai akhir hidupnya masih aktif di masyarakat Yayasan Lembaga Pendidikan Islam. Nah, saya pikir kita bisa melekatkan nama seseorang melalui kegiatan. Mungkin saja, kita anugerahkan nama-nama Sariamin. Nama Sariamin itu sudah dibuat sebagai jalan, nama Gedung atau nama jalan itu kan kita harus berkoordinasi dengan orang lain. Tapi kan kalau anugerah itu kan bisa dilakukan oleh kita-kita ini koalisi seni.

Gitu ya, karena tidak usah mewah. Ya bisa aja kita buat anugerah Sariamin Ismail untuk kategori A, B, C, dan sebagainya.”

Kemudian, Kunni M. menyebut bahwa perjuangan perempuan hari ini bahkan belum seujung buku (atau kuku? saya kurang dengar) perjuangan Selasih. Kunni melihat keberanian Selasih bukan hanya pada karya, melainkan pada keberaniannya hidup sebagai perempuan pada zamannya.

Pertanyaan kemudian datang dari Dilla, “Apakah Pak Husnu bisa berbagi cerita soal Sariamin pernah menjadi anggota DPRD Riau?”

Husnu menjawab, rasanya minimal sekali karena pada saat itu, DPRD (yang masih Komite Nasional Daerah namanya) itu menggembor-gemborkan eksistensi Indonesia yang baru lahir, sebab sampai tahun 1949, kita dihantam terus-menerus oleh Belanda. Maka, seminimal-minimalnya, sepertinya pada saat itu berfokus pada persatuan melawan penjajah, karena Riau sendiri baru lahir 1957.

Bagian yang kemudian membuat dahi saya berkerut datang dari Komunitas Riau Sastra, yang mengatakan,

“Salah satu proposal yang kami ajukan ini adalah proposal program residensi Sariamin Ismail. Nah, melalui program ini, kami ingin menggali lebih jauh jejak karya Sariamin Ismail sebagai tokoh penting Sastra Indonesia. Mudah-mudahan proposal ini mendapat dukungan, dan apabila proposal ini lolos, kami harap ingin bisa kolaborasi dengan kawan-kawan.”

Tentu saja, Johan Arda menjawab “Semoga tembus proposal Indonesia Rayanya ya, Bang.”

Mari kita aminkan bersama-sama: amin.

Husnu kemudian menambahkan tiga poin begini:

  1. Perlu diterbitkan kembali Kalau Tak Untung atau Pengaruh Keadaan, atau yang lain.
  2. Ada jalur juga yang pernah dikemukakan Denny JA. Memang, nama Denny JA ini agak kontroversi. Tapi Husnu lihat begini, Denny JA punya program menerbitkan 100 buku-buku lama, ya. Mungkin di sini ada peluang. Nah, mungkin di sini kita (ucap Husnu) bisa menyurati Denny JA Ketua Satu Pena, jadi dia punya program dan dana ya.
  3. Kalau bisa, Arbi Tanjung sebagai ketua kolaborasi ini bisa membisikkan kepada keluarga Sariamin Ismail, “Apakah bisa kita pergunakan nama Sariamin Ismail untuk penganugerahan khusus untuk karya-karya sastra perempuan misalnya, atau apa yang kita mau.”

“Moga-moga bisa,” tutup Husnu.

Pernyataan itu kemudian ditanggapi Ubai,

“Nah ini kan bisa juga menerbitkan dari pemerintah soal buku-buku Selasih. Sedangkan Sekolah itu punya dana BOS untuk buku, tapi kenapa pada akhirnya mayoritas, ketika sudah tahu ada Selasih, itu kenapa tidak melakukan hal-hal itu?

Hari ini kan kita sedang merintis, seberapa penting sebenarnya selasih bagi nilai-nilai, apakah kita sama-sama butuh membaca karya-karya selasih? Sekiranya kita sama-sama membutuhkan, yuk kita ramaikan ke gramedia. Ya jangankan balai pustaka, saya rasa gramedia juga bisa menerbitkan karya-karya selasih. Sebenarnya secara jujur, kita tidak ingin program Membaca Selasih itu semacam dibantu secara campur tangan itu butuh popularitas dan nama-nama mereka yang tersanjung. Yuk, sama-sama saja kita dorong nilai-nilai pengetahuan, bukan gerakan yang dananya sekian, ‘fotoku dipajang ya'”

Menarik sebetulnya, karena sebelumnya saya menulis artikel terkait birokrasi kebudayaan seperti yang ada di tulisan keempat -> https://nyimpang.com/musim-mekar-selasih-episode-iv-membaca-penyakit-paling-serius-dalam-birokrasi-kebudayaan-kita/

dalam pengamatan saya yang mengikuti Zoom sambil baku hantam dengan gajlugan tol MBZ, selama hampir dua jam diskusi berlangsung, yang paling menarik malah bukan kisah-kisah mengenai Selasih. Yang menarik adalah ketika semua yang hadir dalam Zoom itu sedang berusaha menjawab pertanyaan yang sama:

“Bagaimana membuat seseorang tetap hidup setelah ia meninggal?”

Jawabannya ternyata bermacam-macam, dan setidaknya begini yang saya tangkap:

  1. Mengusulkan haul
  2. Mengusulkan proposal
  3. Mengusulkan penghargaan sastra dengan nama seseorang
  4. Mengusulkan nama jalan.
  5. Mengusulkan penerbitan ulang.

Semua usulan itu saya rasa ya wajar-wajar saja dan saya melihat adanya keinginan untuk bersama-sama mengangkat Selasih. Namun entah, saya justru merasa sedikit terganggu. Terlebih, setelah sebelumnya saya mengikuti diskusi dengan Kemdikdasmen dan Balai Bahasa yang tidak membaca karya-karya Selasih.

Sebab meskipun dekat dari pusat peradaban (sebut saja Jakarta), saya merasa budaya, khususnya sastra, tak punya banyak tempat. Jangankan sastra, lah. Masyarakat Pantura yang masih sulit pun banyak yang diabaikan. Saya mencurigai, jangan-jangan memang kita juga sama dengan Kemdikdasmen dan Balai Bahasa, lagi.

Kita sibuk sekali membicarakan cara memperingati Selasih dibanding membicarakan alasan Selasih masih penting dibaca hari ini.

Perbedaan keduanya sangat besar tentu saja. Begini, peringatan adalah aktivitas, dan membaca adalah praktik berpikir. Peringatan tentu bisa selesai dalam satu-dua hari, tapi membaca bisa mengubah satu generasi. Ingat, perintah yang pertama Tuhannya orang-orang Islam adalah iqra. Wihiw~

Bagian lain yang menurut saya menarik adalah ketika Husnu Abadi bercerita bahwa masih ada naskah Selasih yang gagal diterbitkan Balai Pustaka karena persoalan ejaan lama. Ia juga mengakui masih banyak misteri politik yang belum berhasil ia gali, termasuk soal penahanan Selasih dan hubungannya dengan situasi politik setelah PRRI.

Namun berbicara soal “cara menghidupkan kembali”, saya rasa menerbitkan kembali karya-karya Selasih, mendiskusikannya, bahkan mendorong pemerintah agar karya-karya Selasih mudah diakses masyarakat merupakan jalan yang benar-benar masuk akal.

Saya tipikal orang yang percaya bahwa sastra hanya akan hidup jika dibaca. Sebab, sebagaimana tulisan saya sebelumnya, penyakit terbesar birokrasi kita adalah gemar mengganti kerja-kerja intelektual dengan seremonial. Yuhu~

Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!