Dear Para Pewaris, Belajarlah dari Michael Corleone

Maudy Ayunda ramai betul diperbincangkan, dan sebetulnya saya jadi ingin bercerita sekaligus bicara. Tanpa menihilkan kekecewaan saya pada Maudy yang mendorong orang untuk mindfulness, saya ingin menyampaikan bahwa: banyak para pewaris yang seperti Maudy!

Sepanjang perjalanan saya bekerja di perusahaan-perusahaan besar, ada sebuah fenomena yang membuat saya berpikir. Eh? Maklum, saya memang jarang berpikir. Ah, ngomong-ngomong bekerja, otomatis ngomongin uang dan ekonomi, dan saya menjadi familiar dengan kalimat atau statement ngehek seperti,

“Ekonomi bakal hancur.”

“Tahun ini ekonomi sulit, tahun depan lebih sulit lagi.”

“Krisis di mana-mana”

“Semua harga naik.”

Yang, secara sadar, saya percaya pada statement itu. Sebab tentu saja lebih mudah pada kalimat di atas tadi daripada percaya pada komplotan Board of Peace.

Meskipun, orang seperti saya sudah sulit ekonominya sejak awal kebangkrutan itu lah alasan utama saya percaya, karena setiap hari bahkan setiap menitnya, the rich get richer, the poor get poorer. Tidak perlu teori besar dan terkenal untuk membuktikannya. Buka saja matamu.

Belakangan, saya berpikir,

“Kenapa, ya? Anak-anak muda (milenial muda) yang mewarisi perusahaan rintisan orang tua atau kakek-neneknya memiliki pola yang sama dalam memimpin atau menjalankan bisnis turunan itu?”

Saya kemudian mengingat Ryu Kintaro yang membuat gempar orang-orang dengan menyebut dirinya sebagai “perintis”. Saya setuju bila Ryu melakukan kesalahan dengan tidak melihat fakta bahwa ada banyak “perintis” yang tidak memiliki fasilitas dan segala privilese yang ia dapatkan sejak lahir.

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa Ryu tak sepenuhnya salah bila menyebut dirinya perintis, bukan pewaris. Tapi bukan itu letak asyiknya~

Saya lalu berpikir ulang dan akan membagi kategorinya (hanya dalam tulisan ini) sebagai berikut:

  1. Pewaris -> mewarisi segala sesuatu yang dimiliki oleh orang tua dan/atau walinya. Modal, sistem, nama besar, hingga legitimasi.
  2. Perintis -> mereka yang memulai sesuatu dari nol, tanpa membawa serta modal material maupun simbolik dari orang tua dan/atau walinya.

Dalam hal menjalankan bisnis, Ryu tentu saja seorang perintis. Ia memulai usaha di bidang Food and Beverages, berbeda dari Bapaknya yang menjalan usaha di bidang otomotif. Namun saya menolak untuk melihat fakta bahwa modal yang Ryu dapatkan berasal dari orang tuanya.

Berbeda dengan “The Real Pewaris” yang menjadi pimpinan dari perusahaan yang dibangun orang tua dan kakek-neneknya.

Maka, dalam kaitannya dengan hal ini, saya enggan memasukkan Ryu Kintaro ke dalam daftar “pewaris” karena tulisan ini pun tertuju pada pembahasan cara “pewaris memimpin perusahaan rintisan generasi sebelumnya”.

 

Generasi dan Kekayaan yang Habis 

Saya kemudian mengingat peribahasa Mandarin: fu bu guo san dai (maaf di laptop ini tidak ada pinyin), yang berarti kekayaan tidak akan bertahan lebih dari tiga generasi.

Dalam budaya Indonesia sendiri, istilah semacam ini berbunyi “kaya tujuh turunan”.

Ketika saya berkunjung ke Cigugur, Teh Dewi Kanthi yang anak ke-delapan itu bercanda begini,

“Iya, saya mah anak ke-delapan, jadi gak kebagian. Hihi.”

Ya setidaknya Indonesia lebih optimistis lah, masih sampai 7 turunan, bukan 3 🙁

Meskipun ya “turunan” itu juga saya belum terlalu paham maknanya, apakah anak? atau generasi?

Lebih jauh berbicara soal proses “setiap generasi”, mari kita bergeser ke Sumatra sebentar. Seorang teman dari Kampar, Riau, berkata jika saat ini, terdapat fenomena yang serupa dan berulang di antara para “pewaris” kebun di Sumatra.

Teman saya melihat para pewaris kebun dan lahan mulai kewalahan mempertahankan warisan tanah itu. Para pewaris di Riau sana seringkali jatuh ke dalam utang bank, pinjol, perjudian, yang menyebabkan kebun dan lahan yang diwariskannya semakin menyempit bahkan habis. Berkaitan dengan ini, saya sering mendengar istilah Sumatran-style yang mewarisi kebun dan lahan atau, nyambi jadi PNS.

Toh, saya tahu betul Sumatra bukan hanya soal sawit, banyak juga lahan-lahan perkebunan buah yang kemudian menjadi komoditas primadona ekspor yang sampai saat ini masih dipegang beberapa raksasa lama Sumatra.

Fenomena lain yang bisa diteliti (meskipun agak berbeda konteks) dan saya dapatkan dari “ordal” adalah pewaris pabrik-pabrik tekstil di Kabupaten Bandung. Yang sebagian besar justru enggan meneruskan bisnis turunan itu. Sehingga seringnya, perusahaan tersebut berakhir di tangan orang kepercayaan para perintis atau ya dijual pelan-pelan sampai tinggal nama.

Artinya, dalam hal ini, sebetulnya pewaris dari banyak daerah hampir sama saja, mewariskan suatu “mesin dan modal sistem” yang diturunkan secara turun-temurun. Generasi sebelumnya meraih dan generasi selanjutnya yang mewariskan dipaksa untuk mempertahankannya.

Nyatanya, pepatah “mempertahankan jauh lebih sulit daripada meraih” ada benarnya juga. Atau babari meunang batan miara. 

Para pewaris ini biasanya:

Kuliah di luar -> lulus langsung jadi CEO -> melakukan tugas-tugas top management -> membawa ide transformasi blablabla -> mengatur segalanya.

Dengan kesadaran penuh, para pewaris kota besar seringnya memiliki keyakinan tunggal “Akulah sang pewaris,” maka

Boom!

Muncul aturan-aturan baru, potongan ini-itu dengan asas efisiensi, rules yang dipelajari dari sekolah bisnis di luar negeri, bahkan tak jarang mengubah aturan secara langsung dan terbuka, serta dengan percaya diri asbun membuat kebijakan ngaco.

Perusahaan Papa-Mama atau Eyang is the best place untuk latihan menerapkan konsep bisnis dari sekolah di luar negeri, yang sayangnya justru tidak ditopang dengan pengalaman dan empati.

Pola semacam itu nyatanya tak hanya terjadi pada pewaris perusahaan swasta-lokal, tapi juga sampai ke para pewaris bidang negara alias pemerintah. Gibran misalnya. Meskipun saya tidak tahu ia kuliah di universitas mana, tapi bukan soal, lah.

Kembali pada pembahasan utama, setelah menjadi bagian dari perusahaan yang pada akhirnya diwariskan, saya selalu merasa,

“Para pewaris ini kok sering gak ngerti dan cenderung gak napak tanah, ya?”

Pada momentum ini juga, saya ingat sebuah quotes

Hard times create strong men.
Strong men create good times.
Good times create weak men.
And weak men create hard times.

 

The Godfather dan Dinamika Bisnis Keluarga

Shane Parrish bilang dalam bukunya Clear Thinking, bahwa The Godfather adalah film favoritnya yang merefleksikan dinamika bisnis keluarga.

Deg. Saya baru sadar alasan kawan saya dari Sumbar amat menyukai film ini, menontonnya berkali-kali, dan terus membayangkan betapa keren Vito Corleone. Kawan saya itu, dengan segala beban “nama besar Bapak dan keluarga” mungkin memiliki beban yang sama dengan Michael Corleone.

Vito Corleone adalah simbol generasi perintis yang memahami dunia secara organik. Kekuatannya ia kumpulkan dari relasi, kemampuan berdikari, dan pengalaman jatuh-bangun.

Dalam The Godfather, Michael Corleone adalah pewaris ideal versi modern: terdidik, rasional, strategis, dan karena ia berasal dari militer, mari sebut saja pandai pertahanan. Pertahanan nih, ya.

Michael ingin membersihkan bisnis keluarga, membuatnya efisien, rapi, dan korporatis. Justru, di sanalah tragedinya. Michael bisa jadi memahami struktur, tapi ia kan gak berpengalaman. Sehingga, keputusan-keputusan Micky seringkali blunder karena tidak tahu “siapa yang harus dipercaya”.

Mungkin, sama seperti Micky, letak masalah terbesar para pewaris adalah jarak. Para pewaris seringkali terlihat kesulitan untuk memahami jarak dan risiko yang nyata.

Ketika kepemimpinan dijalankan oleh mereka yang tak pernah benar-benar hidup dalam hard times dan tak pernah napak tanah, maka mempertahankan berubah bentuknya menjadi mengatur tok, dan merawat berubah bentuk jadi mengontrol dan membabi buta. 

Kalimat fu bu guo san dai pun menjadi nyata.

 

Kesimpulan 

Memang, tidak semua pewaris gagal dan pada akhirnya, poinnya bukan tentang pewaris yang gagal, atau perintis yang selalu tanpa dosa dan selalu mindfulness. Masalahnya bisa jadi soal jarak-pengalaman dan kesadaran saja.

Logikanya, anak-anak para perintis tumbuh dari kerja keras dan pengorbanan generasi sebelumnya. Kemudian, seringnya mereka-mereka ini justru dibesarkan dalam kondisi yang jauh lebih nyaman. Mereka tidak menyaksikan langsung fase ketika listrik hampir diputus, gaji karyawan telat dibayar, atau keputusan bisnis harus diambil dengan taruhan hidup-mati bangkrut-lanjutnya perusahaan.

Yang dirasakan anak-anak “perintis” justru hasil akhir dari semua perjuangan: stabilitas, reputasi, dan sistem yang sudah ada. Kenyamanan itu secara langsung membentuk cara pandang, gaya hidup, cara menghabiskan uang, dan cara memimpin.

Kesulitan para perintis justru seringnya jadi cerita yang dibawa ke semua tempat, dibanggakan, tanpa ditiru pula. Lagian, “Saya begini kan biar anak saya gak kaya saya!” kan?

Dengan segala bamper modal orang tua-kakek nenek, kepemimpinan pun kerap lahir dari mindset bahwa segalanya bisa di-reset. Gagal dikit, bisa coba lagi. Modal habis, tinggal minta lagi.

Ironi sekali memang, generasi perintis meraih karena terpaksa kuat. Generasi pewaris mempertahankan sambil terus bernegosiasi dengan rasa aman yang sudah disediakan sepanjang hidupnya.

Mungkin benar bahwa hard times create strong men (bukan cuma men tapi, women juga ya!). Tapi please, deh. Good times bisa menciptakan pemimpin dan orang-orang tenar yang asing terhadap realita. Karena itu, saya rasa kegagalan mempertahankan bukan perkara kebodohan atau gak masuk barak militer saja.

Saya rasa, yang betulan terjadi ini hari ya kegagalan para pewaris (termasuk orang-orang dengan kemudahan akses) tidak paham rasanya hidup susah, tidak pernah napak tanah, rendah hati, dan maunya enak sendiri! 

Ah! Besok-besok kita hidupkan lagi reality show “Tukar Nasib” yuk!

Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!