

Gempa 15 Agustus 2026 melumpuhkan Flores. Gedung sekolah retak, jaringan listrik padam, dan akses jalan ke sejumlah desa terputus. Aktivitas publik terhenti. Di tengah situasi darurat itu, satu hal yang tidak boleh berhenti adalah pendidikan.
Sebagai pendidik yang rumahnya juga terdampak, saya menyaksikan langsung bencana yang tidak hanya merobohkan tembok, tetapi juga mengancam masa depan generasi penerus. Namun, di saat yang sama, ada realitas yang mengharukan bagi saya, yaitu semangat belajar para murid tak pernah padam.
Pendidikan di daerah bencana sering dianggap bisa “ditunda”, padahal justru sebaliknya. Pendidikan adalah kebutuhan dasar yang harus dipulihkan secepat mungkin setelah sandang, pangan, dan kesehatan. Urgensi ini terasa paling nyata pada siswa kelas XII. Mereka berada di tahun terakhir dan sedang bersiap menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). TKA adalah satu dari instrumen asesmen nasional yang hasilnya menjadi pertimbangan penting untuk masuk perguruan tinggi, juga untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Dengan demikian, menunda pembelajaran bagi mereka berarti juga menunda mimpi.
Data Kemendikdasmen mencatat 1.378 sekolah terdampak dan 116.328 peserta didik terganggu. Menutup sekolah selama berbulan-bulan berarti memotong kesempatan mereka bersaing secara setara. Dalam konteks inilah, memulihkan pendidikan bukan sekadar urusan administratif. Ini soal keadilan. Juga soal masa depan anak-anak.
Tentang semangat memulihkan pendidikan pascagempa, realitas perjuangan yang terjadi di lembaga tempat saya mengabdi, yakni SMAS Regina Pacis Bajawa, Flores, NTT, dapat dijadikan bukti.
Sejak 20 Agustus sampai 26 Agustus 2026, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kelas X dan XI menggunakan sistem daring melalui Google Classroom. Guru tetap mengunggah materi, memberi tugas, dan melakukan diskusi virtual meski jaringan terbatas. Sementara untuk kelas XII, sekolah menerapkan KBM sistem sif pagi dan sore. Pembagian sif ini penting agar tetap menjaga jarak, menyesuaikan kapasitas ruang darurat, dan memastikan materi TKA bisa diajarkan dan didiskusikan secara maksimal.
Proses pendidikan ini semakin diperkuat oleh Keputusan Gubernur NTT Nomor 305/KEP/HK/2026 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi diperpanjang hingga 12 September 2026.
Terhitung mulai Senin, 31 Agustus, hingga 12 September 2026, KBM darurat untuk semua siswa harus terus berjalan. Sekolah diberi kewenangan melaksanakan KBM secara fleksibel: daring, luring di tempat aman, atau gabungan keduanya, sesuai analisis kondisi masing-masing.
Dalam arahan 28 Agustus 2026, Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena juga menegaskan tiga hal mendesak, satu di antara hal yang harus dipersiapkan adalah pelayanan pendidikan harus mulai diaktifkan kembali lewat sekolah lapangan atau ruang belajar sementara. Kemendikdasmen pun telah mengirim 100 tenda sebagai ruang kelas darurat untuk 923 sekolah yang masih BDR (Belajar dari Rumah) dan 35 sekolah yang memakai kelas darurat.
Agar KBM darurat 31 Agustus hingga 12 September ini berjalan efektif, dukungan konkret tentu harus segera hadir. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan tiga hal:
Hingga kini, masa KBM darurat belum dicabut. Padahal tenggang waktu sebagaimana tertuang dalam aturan Gubernur, yakni tanggal 12 September sudah berakhir. Fakta ini bukan tanpa sebab. Sampai saat ini, gempa susulan terus mengguncang Flores. Bahkan saat ini, berdasarkan informasi dari BMKG, gempa berkekuatan magnitudo 2,8 mengguncang wilayah Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu siang, 13 September 2026.
Akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa pendidikan Flores berpijak pada satu komitmen kuat dan bencana boleh merusak infrastruktur. Angin boleh merobek tenda, tetapi keduanya tidak boleh merusak harapan.
Flores sudah berkali-kali diuji. Setiap kali jatuh, kami belajar untuk bangkit dengan cara kami sendiri. Anak-anak Flores berhak atas masa depan yang sama dengan anak-anak di kota besar. Mereka berhak duduk di bangku kuliah, menjadi dokter, guru, dan insinyur yang akan membangun kembali daerahnya.
Oleh karena itu, bencana tidak boleh merampas hak mereka untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi dengan kualitas yang terjamin. Kapasitas diri, terutama daya juang dan SDM mereka harus tetap berkualitas. Kelak, mereka bisa kembali membangun Flores yang lebih baik dalam banyak aspek. Ini bukan kisah satu sekolah. Di banyak tempat, guru-guru Flores mengajar di tenda pengungsian, di balai desa, bahkan di bawah pohon rindang dan di tempat terbuka.
Karena itu, mari pastikan gempa dan badai ini hanya merobohkan gedung, bukan cita-cita. Dengan demikian, selama proses KBM darurat ke depan, pendidikan haruslah menjadi prioritas pertama dalam pemulihan. Sebab, di dalam setiap ruang kelas darurat hari ini, sedang disiapkan pemimpin-pemimpin masa depan Flores. Inilah optimisme pendidikan Flores untuk tetap maju meski jalan penuh batu. Guru-guru dan siswa Flores sedang menunjukkan itu, dan karenanya, saya merasa sangat sedih sekaligus haru.
Menulis esai ini buat saya bukan berarti menunjukkan pemerintah boleh merasa santai-santai, sebab yang utama tentu saja keamanan setiap siswa dan guru. Maka dari itu, doakan kami terus, kawan-kawan. Kepada seluruh anak-anak korban gempa yang masih semangat belajar, terima kasih, dan marilah berjuang bersama-sama.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!