

Salah satu ciri orang yang punya kebanyakan waktu luang dan kurang kerjaan adalah beli buku “Islam ala Prabowo”. Mengeluarkan duit sebesar 114 ribu rupiah dan menghabiskan dua hari ngebut baca buku ini adalah suatu tanda valid, betapa nganggurnya saya akhir-akhir ini.
Tapi segabut-gabutnya saya baca buku ini, ternyata saya lebih merasa berfaedah dibanding orang-orang yang begitu niatnya membuat tulisan dalam buku “Islam ala Prabowo”. Buku kumpulan esai dari para pencinta presiden Prabowo ini punya banyak banget hal yang harus dibahas, yang saking banyaknya bahasan, saya ngerasa buku ini gak penting-penting amat untuk ada dalam khazanah literasi dan perbukuan Indonesia.
Buat yang belum tahu, buku “Islam ala Prabowo” adalah buku kumpulan esai setebal 346 halaman. Buku ini ditulis oleh 22 penulis dari berbagai kalangan, terdiri dari nama-nama besar yang bisa dengan mudah kita temukan di mesin pencari. Ada menteri, guru besar, duta besar, kepala instansi negara, pemuka agama, ketua ormas, jurnalis, anggota DPR, bupati, sampai mantan napi kasus korupsi. Semua tokoh yang beragam itu menyampaikan misi yang sama, yaitu berusaha mendokumentasikan karakter, sikap, ide, gagasan, dan kebijakan presiden Prabowo dari perspektif nilai-nilai keislaman.
Cara pandang ini adalah hal yang sah dan wajar, menurut saya. Yang mungkin perlu didiskusikan justru bukan soal boleh atau tidak boleh menulis buku ini, atau boleh atau tidak boleh menggunakan kata “ala” dalam judul bukunya, tapi apakah isi buku tersebut benar-benar mampu membuktikan misi yang dibawanya.
Karena buku ini ditulis oleh banyak penulis, akan kita dapati beragam gaya penulisan dan gaya tutur yang berbeda-beda. Beberapa tulisan tampak sangat akademik, beberapa lainnya malah aji mumpung menjelaskan program-program instansi. Bahas program Baznas, program Kementerian Haji dan Umrah, bahasa pentingnya Makan Bergizi Gratis (program yang menurut buku ini sangat Qurani [hal. 24]), dan relevansi Asta Cita dengan nilai-nilai keislaman. Jujurly, ada juga tulisan yang tampak mencurigakan hasil AI. Ada pola struktur kalimat yang berulang, banyak repetisi kalimat yang boros dan tidak efektif, terlalu banyak ungkapan hiperbolik, dan cocokologi penafsiran ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi yang tidak sesuai konteks. Saya pernah berkali-kali debat dengan ChatGPT dan Gemini karena temuan kesalahan seperti ini, jadinya saya agak familiar dengan kelakuan bodoh mesin-mesin AI ini.
Meskipun penulis dan tulisannya berbeda-beda, semuanya sama-sama memoles sosok Prabowo dengan sangat manis. Jika saja saya adalah seorang rakyat biasa yang lahir di era 100 tahun yang akan datang dan tidak pernah mengenal siapa Prabowo, lalu saya membaca buku ini, kayanya saya akan mengagumi Prabowo habis-habisan. Deskripsi dan narasi tentang sosok Prabowo dalam buku ini begitu aduhai, mendekati sempurna, tindak tuturnya bagaikan fragmen kitab suci yang diberi nyawa. Saya tidak bisa mengatakan bahwa apa yang disampaikan buku ini adalah sepenuhnya salah dan antonim realitas, karena mungkin saja di balik tabir yang tidak saya ketahui, sosok Prabowo Subianto di dunia nyata memang sesaleh dan sesempurna karakter Rasulullah, sebagaimana dijelaskan dalam buku ini. Tapi menurut pembacaan saya, narasi buku ini terlalu berlebihan.
Memang, seperti kata netizen, banyak banget yang harus dibahas dari buku ini. Tapi kalau boleh dikerucutkan, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya.
Hal pertama yang menurut saya mengganggu sebagai sebuah produk penerbitan adalah fakta bahwa buku ini mengalami proses penyuntingan yang buruk. Ada banyak salah ketik (saltik/typo), ada banyak kalimat yang kekurangan tanda baca, juga penulisan teks Arab yang tidak seragam. Untuk buku yang skalanya diluncurkan secara nasional dan dijual di etalase Gramedia, penyuntingan yang buruk ini sungguh mengecewakan. Bahkan lucunya, nama “Prabowo Subianto” saja mengalami saltik jadi “Subaianto” (hal. 90) dan “Probowo” (hal. 141).
Selain perihal penyuntingan, hal kedua yang perlu dibahas dari buku ini adalah soal konteks tulisan. Saya ingin mengambil contoh dari tulisan berjudul “Memahami Keberagamaan Prabowo Subianto” (hal.138-191) karya Idrus Marham. Tulisan ini menjadi tulisan terpanjang dalam buku ini (53 halaman), sekaligus yang paling menarik untuk dibahas.
Secara umum, tulisan ini memiliki karakter utama sebagai esai apresiatif-politik dengan pendekatan biografis dan religius. Idrus Marham (dan juga penulis lainnya) tidak mengambil posisi sebagai pengamat yang netral. Ia (dan juga penulis lainnya) menempatkan dirinya sebagai saksi dan orang yang pernah berinteraksi langsung dengan Prabowo. Posisi ini terlihat dari ungkapan seperti “sepanjang pergaulan saya dengan beliau”, “saya menjadi saksi”, dan “terasa betul”. Karenanya, tulisan Idrus (dan tulisan penulis lainnya) lebih tepat dibaca sebagai potret karakter seorang tokoh daripada sebagai biografi atau kajian politik yang objektif. Bahkan, sebenarnya, saya lebih ngerasa penggambaran Prabowo Subianto di buku ini seperti sebuah obituari untuk orang yang sudah tidak ada. Astagfirullah, semoga Allah panjangkan usia beliau dan dampingi beliau dengan inayah, hidayah, dan rahmat yang melimpah.
Kembali ke laptop. Menurut saya, tulisan Idrus Marham cukup merepresentasikan tulisan lainnya yang ada di buku ini, karena secara struktur punya ritme dan isi yang serupa. Isi tulisannya membahas pendidikan, keluarga, karier militer, dan politik Prabowo. Lalu membahas lapisan personal, dan kemudian membuat legitimasi keagamaan.
Dalam tulisan Idrus Marham, ada banyak sekali kalimat repetitif. Kata “ikhlas”, “sabar”, “tenang”, “nilai Islam”, dan “kepemimpinan” terus muncul dalam berbagai formulasi yang sebenarnya membawa gagasan serupa. Repetisi juga terjadi dalam ide paragraf. Ide “Prabowo sabar dan tidak membalas serangan”, “Prabowo ikhlas”, dan “Ketenangan menunjukkan kematangan spiritual” muncul dalam beberapa paragraf berturut-turut, tetapi setiap paragraf hanya memberikan sedikit informasi baru. Jika diedit dengan benar, pengulangan ini bisa dipangkas sangat banyak tanpa mengganggu argumen utamanya.
Struktur tulisan yang tidak efektif ini menjadi semakin keruh ketika bertemu dengan struktur logika yang bias. Teks sering bergerak dari fakta menuju kesaksian personal, kemudian menuju interpretasi moral, tanpa memberikan tanda yang cukup jelas mengenai transisi tersebut. Pernyataan bahwa Prabowo pernah menempuh pendidikan tertentu merupakan klaim faktual yang dapat diverifikasi. Pernyataan bahwa penulis merasakan Prabowo memiliki cara berpikir yang gesit merupakan kesaksian personal. Namun pernyataan bahwa karakter tersebut menunjukkan kualitas tertentu dalam perspektif Islam merupakan interpretasi. Ketiganya memiliki tingkat dan cara pembuktian yang berbeda. Jika tulisan ini hendak menjadi buku pemikiran atau kajian kepemimpinan Islam, pembedaan tersebut perlu dibuat lebih jelas.
Dari perspektif keislaman, bagian yang paling menarik sekaligus paling membutuhkan kehati-hatian adalah usaha penulis menghubungkan karakter Prabowo dengan konsep-konsep moral Islam. Penulis menggunakan empat sifat yang dalam kitab Tijan ad-Daruri dikenal sebagai sifat wajib bagi para nabi, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Penggunaan konsep tersebut sebenarnya relevan ketika pembahasannya diarahkan kepada model kepemimpinan yang ideal. Namun terdapat perbedaan penting antara mengatakan bahwa seorang pemimpin “terinspirasi oleh sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah” dengan mengatakan bahwa pemimpin tersebut “memiliki sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah”. Pernyataan pertama menggambarkan orientasi atau cita-cita, sedangkan pernyataan kedua merupakan penilaian moral yang jauh lebih kuat. Mengatakan “Prabowo mengagumi sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah” berbeda dengan “Prabowo memiliki sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.” Yang pertama merupakan laporan mengenai pandangan atau aspirasi. Sedangkan yang kedua merupakan penilaian moral terhadap seseorang. Dalam tulisannya, penulis beberapa kali bergerak dari yang pertama menuju yang kedua.
Masalah yang sama muncul ketika penulis menggunakan konsep ikhlas. Idrus menulis:
“Prabowo telah menunjukkan bahwa dalam dunia yang penuh dengan ujian dan fitnah, sikap ikhlas dan sabar… adalah kunci…”
“Prabowo tidak hanya ikhlas menerima kekalahan secara legowo dari Jokowi, tetapi juga ikhlas menjadi pembantu Presiden sebagai Menteri Pertahanan…”.
Dalam lensa bahasa politik, “ikhlas” mungkin dipakai sebagai pujian. Namun dalam terminologi Islam, ikhlas berkaitan dengan orientasi amal kepada Allah. Ikhlas bukan sekadar sikap menerima kekalahan, bersikap tenang, atau tidak membalas serangan politik. Ikhlas berkaitan dengan orientasi batin suatu amal kepada Allah. Karena keadaan batin seseorang tidak dapat diketahui secara langsung, dan kita tidak bisa mengetahui secara pasti tingkat keikhlasan batin seseorang hanya dari tindakan politiknya. Dalam hal ini, penulis sebaiknya berhati-hati ketika menyatakan bahwa seseorang “ikhlas”. Lebih aman apabila penulis mengatakan bahwa suatu tindakan “dapat dibaca sebagai bentuk keikhlasan” atau “dalam pandangan penulis menunjukkan sikap yang menyerupai nilai ikhlas.” Bisa saja narasinya diubah menjadi:
“Dalam pandangan saya, sikap tersebut dapat dibaca sebagai bentuk kelapangan hati dan kesediaan menempatkan kepentingan politik dalam kerangka kepentingan bangsa.”
Dengan formulasi seperti itu, penulis tetap dapat menyampaikan kekagumannya tanpa mengklaim mengetahui kondisi batin seseorang.
Pernyataan serupa yang mengarah pada kondisi hati sosok Prabowo, sayangnya banyak ditemukan di buku ini. Tidak hanya soal keikhlasan orang lain yang tidak bisa kita ketahui, sifat lain juga sulit untuk disaksikan. Di bawah judul yang sama, Idrus Marham mengatakan dengan mantap, “Komitmennya terhadap ajaran islam terlihat tidak hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam setiap langkah hidupnya.” (hal. 156), “Sikap berani dan rasional yang disampaikan Prabowo sangat relevan dengan ajaran Islam…” (hal. 180), “… ia tidak pernah mengeluh kepada Tuhan” (hal. 184)
Hal serupa berlaku pada penggunaan konsep an-nafs al-muthma’innah. Idrus menuliskan:
“Ketahanan psikologis sebagai pencerminan kematangan spiritual ini, sangat terlihat pada ketenangan Prabowo, mungkinkah ini yang kita pahami mendekati kedudukan an-nafs al-muthma’innah, jiwa yang penuh ketenangan.” (hal. 144)
Sebagai refleksi keagamaan, gagasan tersebut menarik. Namun secara teologis, istilah an-nafs al-muthma’innah memiliki konteks yang lebih dalam daripada sekadar kemampuan mengendalikan emosi ketika menghadapi kritik. Karena itu, hubungan tersebut sebaiknya disampaikan sebagai analogi reflektif atau renungan, bukan sebagai diagnosis spiritual terhadap tokoh. Lebih aman secara epistemologis kalau Idrus menuliskan, “Dalam perspektif penulis, ketenangan tersebut mengingatkan pada konsep an-nafs al-muthma’innah.”
Penggunaan QS Al-Ahqaf ayat 35 (hal. 145) dan QS Al-Furqan ayat 63 (hal. 146) juga memperlihatkan pola argumentasi yang sama. Ayat digunakan untuk memberikan kerangka Islam terhadap sifat sabar, rendah hati, dan kemampuan menghadapi hinaan. Secara moral, relevansinya dapat diterima. Namun, kedua ayat itu tidak secara langsung menjadi bukti bahwa Prabowo memiliki kualitas spiritual sebagaimana yang digambarkan. Hal yang sama juga ditemukan dalam tulisan Ali Masykur Musa yang berjudul “Nilai Tasawuf Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto”. Dalam tulisannya, ia menulis:
“Program ekonomi Presiden Prabowo Subianto sesuai dengan Surah Quraisy ayat 4” (hal. 278).
Hal serupa juga dilakukan oleh Hambra Samal dalam tulisan berjudul “Prabowo Subianto: Pembela Kaum Mustadh’afin”. Ia mengutip QS Al-Hadid ayat 7 yang disandingkan setelah kalimat, “Kepercayaan Presiden Prabowo Subianto terhadap negara yang harus hadir di tengah rakyat kecil juga sejalan dengan ajaran dalam Al-Qur’an” (hal. 48).
Dengan kata lain, Al-Qur’an dapat digunakan sebagai lensa untuk membaca sebuah perilaku, tetapi tidak otomatis menjadi bukti atas keadaan batin pelakunya. Perbedaan antara “perilaku ini sesuai dengan nilai yang diajarkan ayat” dan “tokoh ini telah merepresentasikan kandungan ayat” perlu dijaga.
Selain tulisan Idrus yang unik dan menarik, tulisan di buku ini secara umum memang padat dengan legitimasi politik. Kehadiran tokoh-tokoh besar seperti Ahmad Muzani (Ketua MPR), KH Anwar Iskandar (Ketua MUI), Prof. Said Aqil Siraj, sampai Abdul Mu’ti (PP Muhammadiyah) memperkuat framing religious legitimation dengan tulisan-tulisan endorsement yang aduhai. Terlepas dari kontroversi mengenai beberapa tokoh yang mengaku tidak pernah mengirimkan tulisannya untuk buku ini, seluruh tulisan dalam buku ini punya klaim yang sama bahwa sosok Prabowo Subianto adalah sosok yang mengamalkan ajaran Islam dalam banyak aspek kehidupannya. Beberapa pernyataan yang mendukung argumen ini antara lain:
“Dalam segala perilaku dan kebijakan politiknya Presiden Prabowo sangat mencerminkan ajaran Islam …” (Hambra Samal, hal. 46).
“Islamnya Presiden Prabowo Subianto adalah Islam yang substantif, …” (Muhadjir Effendy, hal. 99)
“Dedikasinya buat bangsa dan negara boleh dikata sudah sampai ke taraf paripurna. Sudah dipersembahkan setara dengan jiwa dan raganya.” (Idrus Marham, hal. 140)
“Keislaman Prabowo Subianto memang tidak hanya tercermin dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakannya.” (Idrus Marham, hal. 149)
“… Saya lihat Presiden Prabowo Subianto dalam awal pemerintahan ini sudah terlihat mampu menyerap beberapa nilai Islam yang sangat penting.” (TGB Muhammad Zainul Majdi, hal. 248)
Bahkan tanpa ragu, Abdul Mu’ti menyandingkan nama Prabowo dengan tokoh besar seperti Umar bin Khattab (hal. 224) dan Khalid bin Walid (hal. 225). Penulis lain juga melakukan hal yang sama. Dalam tulisan berjudul “Epilog Presiden Prabowo Subianto dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz”, KH. Asep Saifuddin Chalim menyandingkan karakter Prabowo dengan kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (hal. 331-337). Ada juga KH. Noor Achmad yang menyandingkan kehebatan strategi Rasulullah dalam Perang Badar dengan strategi Prabowo dalam menghadapi perang ekonomi modern (hal. 12-13).
Yang menarik, Prabowo sendiri tidak menulis sepatah kata pun dalam buku ini. Seluruh narasi tentang dirinya datang dari tokoh politik, ulama, dan orang-orang yang pernah berada di lingkarannya. Sekilas, ini memberi kesan objektif karena Prabowo tidak sedang menceritakan dirinya sendiri. Namun, netizen kan udah pada pinter, ya. Kita tetap perlu dan bisa melihat siapa yang berbicara dan dari posisi apa mereka berbicara.
Kita membaca kesaksian tentang religiusitas, keikhlasan, kesabaran, dan kepemimpinannya, tetapi hampir tidak mendengar suara Prabowo sendiri tentang bagaimana Islam membentuk dirinya. Buku ini mungkin berhasil ketika menunjukkan bagaimana Prabowo dipersepsikan oleh orang-orang di sekelilingnya, tetapi belum tentu memperlihatkan bagaimana Prabowo memahami dirinya sendiri. Kita mendengar banyak suara tentang Prabowo, tapi hampir tidak mendengar suara Prabowo tentang nilai-nilai Islam yang dijabarkan. Padahal, akan menjadi sangat menarik jika kita juga diberi kesempatan membaca bagaimana Prabowo sendiri mendefinisikan konsep ikhlas, an-nafs al-muthma’innah, atau elaborasi sifat-sifat yang ada pada para nabi ke dalam kepemimpinannya. Kita justru ingin tahu lebih banyak bagaimana ia memahami Islam dan bagaimana nilai-nilai tersebut membentuk keputusan hidupnya.
Setelah selesai membaca buku ini, saya punya satu kesimpulan tambahan, bahwa ciri lain dari orang yang punya kebanyakan waktu luang dan kurang kerjaan adalah mengulas buku ini dengan agak niat. Bjiir lah, sepengangguran ini hirup aing!
Paper artist of @cutterme - based in Washington DC, United States.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!