Dari Karawang ke Jalan Lain ke Pasaman (Bagian I)
Saya ingin datang ke Pasaman sebagai diri saya sendiri, yang suka menulis, merokok, juga se-enaknya, dan saya hanya punya kesempatan itu kemarin.
Saya ingin datang ke Pasaman sebagai diri saya sendiri, yang suka menulis, merokok, juga se-enaknya, dan saya hanya punya kesempatan itu kemarin.

Aku belum pernah ke Pasaman, apalagi Pasaman Barat. Pengakuan yang penting kutulis di sini.

Nah, setidaknya sekarang, kalau saya ingin menjadi seperti Selasih, saya sudah punya checklistnya :(

Sebab, sebagaimana tulisan saya sebelumnya, penyakit terbesar birokrasi kita adalah gemar mengganti kerja intelektual dengan kerja seremonial. Yuhu~

Yang lebih kurang ajar, saya bisa katakan bahkan dosen-dosen saya di Sastra Indonesia Unpad bisa jauh lebih baik.

“Mengapa beban Gen Z selalu dilempar kepada media sosial?”

Barangkali inilah warisan yang luput kita lihat: bahwa persahabatan tak cukup nongkrong-nongkrong lucu, foto estetik, atau ngonten asal-asalan.

Bahkan mungkin, dari Pasaman hingga Purwakarta, dari Selasih hingga Rukiah, kerja literasi semacam inilah yang membuat sejarah tidak lagi cuma pembendaharaan tokoh-tokoh yang kita kenal di buku pelajaran.
