Sekelompok Serigala yang Memimpin Kawanan Domba

“Tanah desa sini jelas tidak seberharga tanah lain, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Tanah di sini tidak subur, tidak datar, dan tidak ada tanaman berharga di dalamnya!” kata utusan perusahaan di depan warga. Ia mulai emosi karena bujukannya sejak tadi ditolak warga desa.

“Tapi, bukankah tambang tidak perlu tanah subur?” teriak seorang warga dari kerumunan. Namanya Ismed, seorang mahasiswa drop out yang kembali ke desanya untuk bertani.

“Justru tanah kami tidak subur karena mengandung banyak hasil tambang!” tambah seorang pria di dekat Ismed. Kali ini, seorang guru sekolah dasar ikut angkat bicara.

“Saudara-saudari sekalian, cobalah dipertimbangkan baik-baik. Harga kompensasi yang ditawarkan Bapak-bapak dari perusahaan ini sudah cukup bagus. Kalian bisa membeli tanah baru atau mendirikan usaha nantinya,” bujuk seorang pria kepada warga. Ia duduk di samping para utusan perusahaan, memakai seragam serba hijau dengan beberapa aksesori mengilat di bajunya. Namanya Rusdi, kepala desa yang sejak awal telah berpihak pada perusahaan.

“Lagi pula, ini juga demi kemajuan negara. Setelah tambang emas dibangun di desa kita, pendapatan desa akan meningkat, pembangunan fasilitas umum bisa lebih maju, dan lapangan kerja akan terbuka untuk warga desa ini,” tambah Pak Kades, membuat warga saling menatap dan berbisik-bisik.

“Cih, sejak kapan negara peduli pada rakyat kecil seperti kita?” bisik-bisik terdengar dari kerumunan warga.

“Tidak, tanah saya tidak akan dijual berapa pun harganya!” teriak Nusi tiba-tiba dari belakang kerumunan warga. “Tanah itu peninggalan kakek dan orang tua saya. Ini bukan soal harga, melainkan sejarah keluarga kami!” tambah Nusi, diikuti seluruh warga yang mulai berteriak-teriak menolak adanya tambang.

“Tanah kami bukan untuk dijual! Tolak tambang! Usir perusahaan tambang!” teriak warga desa.

Situasi yang mulai tidak kondusif memaksa Pak Kades menghentikan pertemuan di balai desa. Warga diminta pulang dan mempertimbangkan kembali keputusan mereka. Setelah balai desa sepi, Pak Kades juga meminta utusan perusahaan untuk pulang.

“Bapak-bapak tidak usah risau, saya akan membujuk warga,” Pak Kades berbicara pelan. Kumis tipisnya bergoyang-goyang licik.

“Senang bekerja sama dengan Bapak!” jawab seorang utusan perusahaan berbadan gemuk. Namanya Edi. Ia pemimpin utusan sekaligus orang paling tepercaya yang dikirim perusahaan tambang. Edi bersama dua ajudan dan tiga pengawalnya bergegas menaiki mobil.

“Ah, benar juga. Jika Bapak berhasil membujuk warga, saya pastikan Bapak akan mendapat imbalan besar!” kata Edi kepada Pak Kades yang berdiri di samping mobilnya.

“Terima kasih, saya akan berusaha sebaik mungkin!” jawab Pak Kades. Ia telah menunggu-nunggu Pak Edi mengatakan itu. Mobil-mobil korporasi itu pun bergerak meninggalkan balai desa, meluncur menuju ibu kota kabupaten.

Pada hari-hari berikutnya, banyak atribut penolakan tambang terpasang di desa. Atribut itu dibuat warga dengan bahan seadanya. Ada kain putih bertuliskan “Tolak Tambang!” dengan cat merah. Ada pula papan, tripleks, atau spanduk bekas yang bagian belakangnya digunakan warga untuk menuliskan kalimat penolakan. Sementara itu, Nusi memasang bendera Merah Putih di depan rumahnya, tepat di atas papan penolakan yang sengaja dipasangnya. “Itu tanah leluhurku, mati pun tak akan kujual!” tulis Nusi dengan cat hitam di papan miliknya.

“Cih, orang-orang bodoh!” umpat Pak Kades setelah orang-orang suruhannya gagal membujuk dan mengancam warga agar menjual tanah. Pada suatu malam di balai desa, ia terlihat gelisah ditemani orang-orang kepercayaannya.

“Bahkan setelah kita ancam, warga tetap bergeming!” lapor salah satu orang kepercayaan Pak Kades. Ia lantas melanjutkan, “Semua ini karena Nusi. Dialah yang menghasut warga agar tidak menjual tanah!”

“Nusi? Apa maksudmu, Gopal?”

“Ya. Penolakan Nusi membuat warga lain ikut-ikutan enggan menjual tanah. Kau tahu, Pak? Satu keberanian akan menyalakan keberanian lainnya!” hasut Gopal kepada Pak Kades.

Gopal sebenarnya adalah sepupu Nusi. Ia pernah bersengketa soal tanah dengan Nusi. Ia merasa berhak atas tanah tersebut karena merupakan warisan leluhur mereka. Sayangnya, Gopal kalah dalam sidang sengketa tanah sehingga menyimpan dendam terhadap Nusi.

“Kalau begitu, kita harus membuat Nusi mau menjual tanahnya. Bagaimanapun caranya!” ucap Pak Kades sembari menyeruput kopi. Gopal yang duduk di dekatnya ikut menyeruput kopi sembari tersenyum tipis. Ia telah menantikan momen balas dendam ini selama bertahun-tahun.

Pada malam hari, saat suara jangkrik sahut-menyahut di pematang sawah, warga desa telah terlelap. Maklum, pemadaman listrik rutin terjadi di desa itu, dan kebetulan malam ini giliran mereka. Nusi yang baru saja mengunci pintu dan jendela rumah langsung berbaring di ranjang. Tubuhnya lelah, tetapi entah mengapa ia tidak bisa tidur. Ia terus memandangi langit-langit kamar yang gelap, sesekali memejamkan mata dan berusaha terlelap.

Tuk, tuk, tuk! Suara ketukan terdengar dari arah depan rumah. Sepertinya Nusi kedatangan tamu tengah malam.

“Siapa?” tanya Nusi sambil berjalan menuju pintu depan. Ia hanya membawa pelita sebagai penerang.

Meski diselimuti rasa takut, ia memberanikan diri membuka pintu walaupun pertanyaannya tidak mendapat jawaban. Ketukan itu hanya berbalas bunyi yang sama.

Tepat saat Nusi membuka pintu, sebuah tangan kekar langsung memiting lehernya. Nusi terkejut dan berusaha berteriak, tetapi mulutnya langsung dibekap pelaku. Pelita yang dipegangnya terjatuh dan padam. Tak lama kemudian, karena kesulitan bernapas, ia kehilangan kesadaran.

“Oi, air lagi! Cepat padamkan apinya!” teriak warga yang telah berkerumun di depan rumah Nusi. Mereka terbangun dan langsung berkumpul karena kebakaran tersebut. Awalnya, tetangga Nusi terbangun karena mendengar suara gemeretak aneh dari rumah Nusi yang ternyata sudah terbakar hebat.

“Apakah ada yang melihat Nusi?” tanya salah seorang warga.

“Tidak, dia mungkin masih di dalam, terjebak api!”

“Sial, dari mana api ini berasal?”

Tiba-tiba, dari dalam rumah yang terbakar hebat itu terdengar teriakan keras. Samar-samar, di balik kobaran api, terlihat bayangan seseorang. Tak lama kemudian, bayangan itu menerobos kobaran api dan melompat keluar.

“Nusi, itu Nusi!” teriak warga yang langsung beramai-ramai menyelamatkannya.

Keesokan paginya, api perlahan padam setelah menghanguskan seluruh bangunan hingga rata dengan tanah.

Perlahan, mata Nusi terbuka. Pandangannya yang semula samar berangsur membaik. Ia melirik selang kecil yang tersambung ke tangan kirinya. Saat melirik ke kanan, ia langsung meronta hebat. Nusi baru menyadari seluruh tubuhnya terbalut perban. Namun, yang paling membuatnya terkejut setengah mati adalah sebagian tangan kanannya telah hilang. Air matanya meleleh. Ia ingin berteriak, tetapi suaranya tidak mau keluar. Seluruh tubuhnya terasa sangat perih akibat luka bakar. Melihat Nusi terus meronta, perawat yang berjaga segera memberikan suntikan penenang.

Setelah tenang, Nusi menatap langit-langit puskesmas kecamatan. Ia masih tidak memercayai nasib malangnya. Perlahan, ia mengingat kembali kejadian malam itu. Seorang pria misterius menyekapnya di dalam kamar, lalu membakar rumahnya dengan bensin. Beruntung, Nusi berhasil menyelamatkan diri, meski sebagian tangan kanannya hancur tertimpa reruntuhan atap.

“Nusi, tenang saja. Biaya pengobatanmu biar desa yang tanggung,” hibur Pak Kades. Hal itu sengaja dilakukannya agar Nusi merasa berutang budi dan mau menjual tanahnya.

“Terima kasih, Pak Kades,” jawab Nusi pelan. Ia sudah bisa berbicara setelah beberapa bulan dirawat di puskesmas. Di tengah obrolan itu, seorang pria berbadan besar dan kekar masuk. Ia salah satu orang kepercayaan Pak Kades. Nusi memperhatikan pria itu dengan saksama.

“Bedebah! Kau yang membakar rumah dan hampir membunuhku, kan?” teriak Nusi tiba-tiba sambil menunjuk ke arah pria kepercayaan Pak Kades tersebut.

Nusi menyadari luka cakar di leher pria itu. Ia yakin itu bekas cakarannya saat melawan pria misterius yang menyekapnya malam itu. Melihat Nusi berteriak histeris ke arahnya, pria itu mematung. Ia lantas berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Nusi yang terus meronta di atas ranjang hingga membuat seisi puskesmas geger.

“Hei, brengsek! Mau ke mana kau? Dasar bedebah!”

Orang-orang segera berusaha menenangkan Nusi. Kejadian itu pun menjadi buah bibir di kalangan warga desa. Sebagian warga memercayai Nusi, tetapi mayoritas meragukannya. Mereka menganggap kondisi emosional Nusi sedang tidak stabil sehingga asal menuduh. Singkatnya, Nusi dianggap trauma akibat musibah kebakaran tersebut. Lagi pula, menurut penyelidikan polisi, kebakaran dipicu oleh pelita yang tidak sengaja menyambar kelambu kamar. Versi polisi inilah yang akhirnya dipercaya sebagian besar masyarakat.

Setelah musibah itu, berembus kabar angin bahwa rumah Nusi sengaja dibakar karena ia menolak menjual tanahnya. Terlebih lagi, pada malam-malam berikutnya, sering muncul orang tidak dikenal yang melempari rumah warga dengan batu dan menciptakan teror mencekam. Meskipun warga sudah bergantian ronda, pelaku teror tetap tidak tertangkap. Mereka seolah-olah tahu jadwal dan posisi warga yang berjaga sehingga pelemparan batu tetap terjadi meski siskamling telah diaktifkan.

Warga yang awalnya menolak menjual tanah akhirnya mulai goyah. Satu demi satu, mereka menjual tanah kepada perusahaan. Keputusan itu diambil setelah salah satu warga mengalami nasib serupa; rumahnya tiba-tiba terbakar hebat tanpa sebab yang jelas. Akibat didera ketakutan dan termakan bujuk rayu kaki tangan Pak Kades, warga akhirnya menyerah. Seolah-olah perusahaan tambang tengah mengancam, “Jual saja tanah kalian jika tidak ingin bernasib sama dengan Nusi!”

Sebagian warga yang telah menjual tanah memilih pindah dan menetap di daerah lain untuk memulai hidup baru. Ada yang membeli lahan baru untuk kembali bertani, ada pula yang membuka kios kelontong, bengkel, atau warung makan. Mereka telah terusir dari desa sendiri—entah sebagai korban kejahatan bermotif kemajuan negara atau sebagai domba-domba yang mencari padang rumput baru demi menghindari serigala.

Beberapa tahun kemudian, Nusi sering terlihat di gapura desa, menunggu belas kasihan warga yang lewat untuk memberinya sedikit makanan. Ia jatuh miskin setelah rumahnya hangus. Tanahnya terpaksa dijual ke perusahaan setelah lahan di sekelilingnya habis dilepas pemiliknya. Nusi tahu bahwa begitu tambang beroperasi, tanahnya tidak akan bisa ditanami lagi. Lagi pula, ia membutuhkan uang untuk membiayai pengobatan luka bakar dan membangun kembali rumahnya. Sialnya, uang tersebut akhirnya hanya cukup untuk membangun kembali rumah dan membayar biaya pengobatan yang mahal.

Nusi akhirnya menghabiskan hari-harinya di gapura tua desa, melamun sembari menunggu makanan. Ia memandang penuh harap setiap warga yang berjalan melewati jembatan menuju gapura. Tubuhnya yang kurus dan lemah sejak musibah kebakaran itu membuatnya tidak mampu bekerja lagi. Bahkan, untuk berjalan ke gapura saja, ia harus bersusah payah.

“Warga desa itu memang bodoh. Baru diintimidasi sedikit, nyalinya sudah keok!” umpat Gopal.

“Ya, ya. Kau ingat wajah Nusi ketika melihatku di puskesmas kecamatan? Menyedihkan sekali, tapi lucu!” sahut pria kekar itu sambil tertawa terbahak-bahak. Ia lantas kembali menenggak minuman kerasnya.

“Mengapa kau diam saja, Bobi?” tanya Gopal kepada Bobi, orang yang bertanggung jawab meneror warga dengan lemparan batu pada malam hari.

“Ah, aku hanya mengantuk. Terima kasih sudah mengawasi warga yang berjaga ketika aku berkeliling melempar batu!”

“Tenang saja, Kawan. Kita ini satu tim, harus bekerja sama!” celetuk pria berbadan kekar yang membakar rumah Nusi. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam.

“Kita akan kaya raya! Perusahaan tambang itu sudah sepakat memberi kita masing-masing dua miliar rupiah!” sahut Pak Kades di tengah-tengah mereka.

Ditemani perempuan di sisi kiri dan kanannya, Pak Kades bersama orang-orang kepercayaannya asyik berpesta pora. Mereka sengaja menyewa ruang VIP di sebuah klub malam di ibu kota kabupaten untuk merayakan keberhasilan tersebut. Pesta itu dipenuhi wanita cantik, minuman keras, dan tentu saja barang haram bernama sabu-sabu. Mereka benar-benar terlihat seperti sekelompok serigala yang berhasil memangsa kawanan domba.

Beberapa tahun kemudian, sekelompok anak yang tengah berenang di pinggir sungai desa berteriak histeris. Mereka terkejut karena di bagian tengah sungai—bagian yang sangat dalam—terlihat mayat seorang pria kurus mengambang. Mayat itu tampak putih pucat dengan sebagian tubuh masih terendam air. Lokasinya persis di bawah jembatan yang berujung di gapura desa.

“Nusi, itu Nusi!” teriak salah seorang warga yang melongok dari atas jembatan.

Ia mengenali luka bakar pada mayat tersebut. Benar, pagi itu Nusi melompat dari atas jembatan, meninggalkan dunia yang begitu kejam bagi orang kecil sepertinya.

Minpang di sini~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!