Gara-Gara Menyapu Kurang Bersih

Semua bermula ketika Ibu menginjak sebutir nasi di ruang tamu sepulang kerja, lalu ia mendidih. Wajahnya meremas seolah dipaksa memerah,

“Siapa ini yang menyapu tidak bersih? Tidak takut pasangannya berewokan?!”

Bandana, anak lelaki Ibu, tidak ambil pusing dengan pertanyaan-pertanyaan Ibu yang dilontarkan seperti peluru. Hardik Ibu ia biarkan masuk dan keluar dari telinganya dengan leluasa. Ia mempertahankan posisi duduknya yang mengangkat satu kaki sambil terus menggulir layar ponsel di tangannya. Lebih baik menonton video-video pendek di media sosial daripada melihat Ibu murka.

Sementara Pita, anak perempuan Ibu, membuka pintu kamar dan melangkah mengambil sapu di dapur. Bukan ia sebenarnya yang menyapu setengah-setengah. Namun, kadang-kadang tindakan memang lebih keras terdengar daripada kata-kata.

Ia tidak ingin terjebak dalam kondisi saling menyalahkan dan terpaksa menjalani perdebatan panjang tanpa makna, serupa para calon pemimpin negeri yang sedang mencari suara.

Ibu semakin geram setelah muntahan pertanyaannya hanya menyasar telinganya sendiri. Kemudian, ia dengan lekas mendekati Bandana yang secara terang-terangan memasa-bodohkannya.  Ibu pun menarik ponsel dari genggaman Bandana tanpa pengumuman dan peringatan. Bandana mendongak. Ia menantang mata Ibu dengan duduk tetap mengangkat satu kaki.

“Ibumu ponsel?” Ibu memasuki ponsel Bandana ke dalam tas bahunya.

Bandana menunduk, memainkan jemari kakinya, menilik-nilik, “Sedang kupertimbangkan.”

“Sejak kapan kau diasuh oleh ponsel?”

“Sejak kecil, ketika aku gemar merengek, dan Ibu hanya memberikan ponsel untuk meninabobokan aku.”

Ibu merasa dadanya terbakar dan kepalanya mengebul, “Ponsel itu tidak mendidikmu!”

“Dia memberitahuku banyak hal.”

“Tapi ponsel itu tidak mengajarkanmu bahwa menyapu harus bersih, jika sampah tersisa, orang-orang berewok menunggu menjadi pasanganmu.”

“Apa salahnya dengan berewok?”

“Kau laki-laki, Bodoh! Tidak wajar pasanganmu juga laki-laki!”

“Ibu terlalu kuno. Berewok tidak selalu berarti berantakan, dan berantakan tidak melulu soal laki-laki.”

“Lihat saja lantai ini!” Ibu menunjuk ke bawah dengan kedua telapak tangannya yang terbuka, “Tetap kotor, meskipun kau telah menyapunya.”

“Mungkin aku ingin pasangan yang berewokan.” Bandana mengalihkan pandangannya ke jendela.

Di luar, matahari hampir rampung ditelan bumi, menyisakan kelam yang berangsur-angsur menduduki cakrawala. Sebelum dunia benar-benar padam, Pita yang telah membawa sapu, menekan saklar lampu. Teranglah ruang tamu, pekarangan, dan tempat-tempat yang membutuhkan cahaya.

Pita pun menyapu, menyingkirkan sampah-sampah yang tersisa. Ia sengaja memulai dengan melintas ke antara Ibu dan Bandana, demi memecah perbantahan yang semakin meradang. Dengan ijuknya, ia seolah Musa yang membelah buasnya Laut Merah.

Ibu menoleh kepada Pita yang melangkahinya begitu saja, “Pokoknya kalian kalau menyapu harus bersih!” Mata Ibu menyalang kepada Bandana, “Ingat!”

Ibu pun meninggalkan mereka di ruang tamu. Ia beranjak ke kamarnya membawa ponsel Bandana. Bandana tidak peduli. Ia justru memusatkan matanya kepada Pita yang sedang membersihkan sedikit kelupasan dinding di sisi ruangan.

“Kamu terlalu patuh kepada Ibu,” tuduh Bandana sambil menurunkan kaki dan menyandarkan diri di kursi.

“Tidak semua hal pantas didengarkan,” lanjut Bandana, “Tidak masalah jika sesekali kamu menutup telinga. Permintaan-permintaan Ibu hanya membuatmu menjadi bidak. Kesempurnaan tidak pernah dicapai bidak. Bidak selalu luput dari sesuatu. Tidak peduli seteliti apa pun mata Bidak sebelum dicungkil majikannya.”

Pita tetap sibuk membasmi segala kotoran yang ada. Ia bersikeras mengeluarkan beberapa helai rambut yang menyelip di bawah pintu. Setelah terlepas, ia memasukkannya bersama sampah-sampah lain ke dalam serokan. Ia tidak ingin ada yang tertinggal. Semua serpihan ia pastikan telah terkumpul, sebelum membuangnya ke tempat sampah.

Bandana mengerut, dahinya dipenuhi urat-urat, “Jangan bilang kamu percaya dengan ucapan Ibu? Kamu takut itu terjadi, maka dari itu kamu patuh.”

Pita membatu. Ia sedang memegang gagang pintu, hendak menutupnya, sebelum akhirnya menoleh kepada Bandana, “Aku hanya berusaha menyingkirkan segala perkara, mistis ataupun ilmiah, yang bisa mencegahku untuk tidak memiliki pasangan berewokan. Aku tidak suka pasangan yang berewokan.”

Pita pun menutup pintu. Tidak keras, tidak lembut juga.

***

Demikianlah Pita dipercaya untuk memegang gagang sapu di rumah. Tidaklah berlebihan jika mengatakan Pita menyerupai seorang ratu yang diberi kehormatan untuk mengenakan mahkota istana. Sebab, sapu bagi keluarga ini adalah kuasa, dan siapa pun yang memegangnya, memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja di kerajaan kecil itu.

Ia bisa menggeser-geser lemari, melipat-lipat permadani, ataupun mengangkat-angkat meja dan kursi. Semua dilakukannya demi kepentingan menyapu, mencegah debu-debu bermukim di lantai rumahnya. Sesekali ia juga mengotak-atik tata letak benda-benda, jika tidak membuangnya, agar ruangan terlihat minimalis, selain memudahkannya untuk menyapu.

Ibu pasti akan marah melihat kelakuan Pita jika ia tidak ditugaskan untuk memonopoli sapu yang ada. Sebab, Ibu sangat ketat menjaga barang-barang di rumah. Tidak bisa hilang, apalagi dibuang. Tidak peduli sepadat dan sesempit apa pun rumah telah dibuatnya. Ibu akan menyadari jika ada barang yang bergeser, meskipun sedikit, dan segera melacak pelakunya.

Dengan sapu di tangan Pita, ia juga bisa mendapatkan keramahtamahan yang tidak wajar dari Ibu. Ibu yang bermuka datar, berhati keras, dan berkepala batu. Seperti hari ini, ketika Pita sedang meraih kemasan kosmetik dengan sapu di kolong ranjangnya, Ibu telah bersandar di bingkai pintu kamar Pita.

“Rajin sekali anak Ibu,” puji Ibu, lalu ia menerbitkan senyum di bibirnya.

Pita menoleh, lalu memantulkan senyumnya, sebelum ia menarik keluar benda yang dicarinya dari kolong ranjang.

“Tidak seperti Bandana,” lanjut Ibu. Ia melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya kembali suram, “Bisanya hanya melawan. Semalam pun pergi tidak tahu ke mana. Sampai sekarang belum pulang! Seperti gelandangan saja. Trotoarlah tempat tidurnya, menggelar kardus bersama Setya. Berandal!”

Pita menelan seluruh kata-katanya, tidak berminat menanggapi muntahan serapah dari Ibu. Ia tetap mengayun-ayunkan sapu, meskipun umpatan Ibu mampu membuat matanya kosong. Benaknya dibuat berpaling dari sana, menuju malam ketika Ibu dan Bandana bertengkar hebat.

Malam itu, Bandana sedang telentang di ranjangnya, berusaha terlelap. Ia kelelahan sehabis mengikuti acara bedah buku sejawatnya. Belum sempat ia meraih mimpi, Ibu menggedor pintu kamarnya dengan memburu. Kaki Bandana dipaksa untuk beranjak, meskipun berat, lalu melangkah untuk membuka pintu.

Di ambangnya, Ibu telah mengangkat tangan sekepala Bandana, menunjukkan benda mungil yang dipegang dengan telunjuk dan jempolnya. Bandana pun menggosok matanya, seakan mengatur kepekaan kamera dalam menangkap cahaya. Setelah mendapatkan pengaturan yang pas, ia mampu melihat sesuatu di hadapannya dengan jelas. Kondom. Ibunya memegang kondom.

Bandana membelalak. Ia terkejut, “Ibu dapat benda itu dari mana?”

Ibu tidak perlu membuka suara agar Bandana mendapatkan jawabannya. Ia ingat meninggalkan tasnya di kursi ruang tamu, dan kondom sedikit mencuat dari saku yang berada di sisi ransel.

“Pertanyaan Ibu sama. Kau dapat benda ini dari mana?” datar Ibu. Wajahnya begitu lurus, tidak ada lengkungan sedikit pun.

“Kenapa Ibu ingin tahu? Bukankah ini ranah pribadiku?”

“Ibu ingin tahu segelap apa masa depan yang menantimu, dan menanti pelacur yang rela menggadaikan tubuhnya untuk orang sepertimu!”

“Siapa yang Ibu sebut sebagai pelacur? Kenanga?”

Mata Bandana mulai mengapi. Tinggal menunggu waktu untuk meledak.

“Lalu siapa lagi selain pacarmu itu?” tantang Ibu, singkat, tetapi mampu mengaktifkan sinyal kebakaran di dada Bandana.

“Tidak selamanya orang-orang yang bersetubuh itu pelacur! Dan orang-orang yang melacur itu hina!” Bandana meninggalkan Ibu tanpa melirik, lalu keluar dengan membanting pintu rumah hingga memekik.

Malam itu, Pita hanya mendekap di kamarnya. Ia berbaring menyamping dan sebuah bantal menutup telinganya dengan rapat. Ia berusaha mengabaikan apa yang terjadi. Namun, ia dikutuk memiliki telinga yang peka. Ia tidak bisa begitu saja pura-pura tuli.

Pita mengingatnya. Ia mengingat kata apa yang ditekan Bandana. Pelacur. Hina. Ia juga tidak melewatkan bagaimana bunyi napas Ibu yang didenguskan. Bunyi serupa api unggun yang disiram seember air.

Pita pun kembali dengan kesadarannya, ketika ia tanpa sengaja menginjak sebuah jarum di lantai, setelah terlampau sibuk mengingat-ingat. Ia meringis. Jarum yang tertanam di telapak kakinya berusaha dikeluarkan dengan perlahan, lalu diletakkannya di laci nakas.

Ibu yang melihat itu tidak bereaksi sedikit pun. Ia masih memampangkan raut kakunya, “Pilihlah teman dengan benar, Pit. Ibu tidak ingin kau menjadi seperti Bandana.”

Pita mengangguk. Kemudian, ia duduk di pinggir ranjang dengan plester luka di tangannya.

“Baiklah. Ibu ingin ke supermarket dulu.” lanjut Ibu, “Katanya kau ingin pergi dengan Desi? Sepertinya dia orang baik. Pulangnya ajak dia mampir dulu ke sini. Kita makan bersama.”

Pita lagi-lagi mengangguk. Kemudian, bersamaan dengan Ibu yang mengangkat kaki, Pita kembali mengambil sapu yang bersandar di dinding. Ia kembali menggerak-gerakkan sapunya, setelah mengenakan plester luka. Ia harus membuat rumah menjadi sedemikian putih tanpa noda, sebelum berangkat ke suatu tempat yang telah direncanakan dengan Desi.

Pita terus menyapu, menyapu, dan menyapu. Semua dilakukannya dengan ketelitian yang tidak wajar. Jika ia merasa ada kotoran yang tertinggal, ia akan mengulang seluruh prosesnya dari awal.

Kamar tidur. Dapur. Ruang tamu. Kamar Tidur. Dapur. Ruang Tamu.

Pita pun tidak sadar bahwa jam dinding telah memamerkan angka lima. Lebih tiga puluh menit dari waktu yang telah disepakati dengan Desi. Pita tetap rekat menggenggam sapunya, sampai Desi mengemuka di depan pintu rumah. Dengan mata yang tidak tajam ataupun sayu, Desi memandang Pita yang sibuk bergumul dengan sapunya.

Kamar tidur. Dapur. Ruang tamu. Kamar tidur. Dapur. Ruang tamu.

***

Ibu menaruh keranjang supermarket di kasir. Kemudian, pemuda di depannya mulai mengeluarkan satu per satu barang dari keranjang untuk dipindai. Ada pasta gigi, sampo, dan sabun mandi. Ada juga minyak goreng, makanan ringan, dan roti. Tidak lupa buah-buahan yang telah dipotong: melon, mangga, dan stroberi.

Di sela-sela mesin pintar menghitung jumlah harga barang belanjaannya, Ibu mendengar pembicaraan pasutri di belakangnya yang juga mengantre.

“Kita harus lebih waspada mengawasi anak kita, Pa.” ujar Si Istri sambil meluruskan ujung hijabnya di dada.

Sang Suami sedang memeriksa barang-barang di dalam keranjang yang digenggamnya, takut meninggalkan sesuatu, sebelum menoleh, “Apakah kita kurang waspada selama ini? Lagi pula dia anak yang baik.”

”Bukan begitu. Aku hanya jauh lebih cemas setelah mendengar cerita-cerita dari temanku.”

Sang Suami tidak menyuarakan sepatah kata pun untuk membalas, seakan bersedia untuk mendengar lebih banyak, untuk mendengar kalimat selanjutnya. Ia mengelus-elus hutan rimbun di dagunya.

“Dunia telah berubah banyak, Pah.” lanjut Si Istri, “Di kala para orang tua dahulu takut anak perempuannya tidur bersama dengan seorang lelaki, lalu dihamili. Para orang tua kini juga takut anak perempuannya tidur bersama dengan perempuan lain, dan menjalani hubungan mesra layaknya sepasang kekasih. Kita menjadi sukar menilai kedekatan antar perempuan, atau antar laki-laki, adalah kedekatan wajar seperti hubungan pertemanan, atau kedekatan tidak wajar seperti hubungan asmara.”

Ibu yang mendengar itu bergidik. Ia ingat anak perempuannya, Pita, begitu akrab dengan Desi. Keakraban macam apa di antara mereka?

Ia juga ingat Pita akan pergi bersama Desi. Di saat-saat itu tidak ada yang mengawasinya. Tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan.

Di antara rasa cemas yang menimpanya, Ibu tiba-tiba tersadar sempat menyuruh Pita mengundang Desi untuk makan bersama. Ia segera mengingat sebuah pepatah, kesempatan tidak datang dua kali.

Ketika jumlah harga belanjaan telah terhitung, Ibu pun segera memberikan dua uang kertas berwarna merah, lalu beranjak pulang. Ia tidak peduli seorang kasir teriak memanggil-manggil, karena uang kembaliannya tidak diambil.

Sesampainya di pekarangan rumah, Ibu melihat sepatu asing. Ia menebak-nebak, mungkin itu sepatu Desi. Mereka pulang cepat sekali, pikirnya. Atau mungkin mereka tidak pernah beranjak pergi.

Ibu pun melangkah masuk ke ruang tamu. Tidak ada siapa-siapa. Namun, ia mendengar ranjang berbunyi di kamar Pita. Secercah bunyi yang dihasilkan ketika seseorang mengubah posisi tidur. Ibu ingin menengoknya.

Sebelum itu, Ibu menaruh barang belanjaan di meja, lalu mengambil buah-buahan yang telah dibelinya. Ia pun membawanya ke kamar Pita. Tepat ketika Ibu telah berada di depan pintu, ia berhenti sejenak, mengambil napas. Kemudian, ia mendorong pintu dengan perlahan. Di sana, Ibu melihat baju terserak di lantai, celana tergeletak di pinggir nakas, dan pakaian dalam tergantung di sandaran ranjang. Di sana, Pita tidur menyamping, memeluk Desi yang telentang. Mereka telanjang.

Kemudian, Ibu melangkah masuk, menaruh buah-buahan di atas nakas sambil berbicara dengan nada yang cukup keras untuk membangunkan mereka, “Hidangan utama belum matang. Sementara makan buah dulu, ya. Untuk mengganjal perut.”

Mereka terkesiap. Pita yang menyadari Ibu ada di kamarnya, seketika menutupi tubuhnya dengan menarik selimut yang tidak jelas ujung pangkalnya. Begitu juga Desi. Pita ingin menyiarkan pleidoi ketika Ibu mulai beranjak dari kamarnya, tetapi kata-kata terjebak macet di tenggorokan. Ia tidak mengatakan apa pun sampai Ibu menutup pintu.

Dengan keburu-buruan yang menggebu, mereka mengenakan pakaian yang telah berceceran di mana-mana. Setelah itu, Pita berusaha keluar mengejar Ibu. Namun, pintu kamarnya tidak bisa dibuka. Ibu menguncinya dari luar. Pita mulai melolong, memanggil-manggil Ibu. Ia memohon-mohon agar pintu segera dibuka. Permohonan yang terasa sia-sia. Pada akhirnya, Pita mundur. Ia bersandar di dinding, lalu menangis.

Tiga jam berlalu.

Pita duduk di sudut ruangan dengan kepala menunduk. Desi mendekapnya, berusaha menenangkan Pita, meskipun ia sendiri gelisah tidak keruan. Dalam situasi yang suntuk, tiba-tiba cahaya memancar dari luar. Pintu terbuka. Mereka melihat Ibu merangkul Bandana dan Setya.

“Maafkan Ibu semalam, ya, Dan. Maafkan tante juga terlalu membenci kau, Ya. Sebagai gantinya, Ibu ingin memberikan kalian hadiah.” Ibu menunjuk Desi dan Pita dengan tangan terbuka, “Tada! Selamat menikmati!”

Selepas itu, Ibu menjauhi kamar Pita, lalu menutup pintu, meninggalkan kebingungan kepada Bandana dan Setya. Bandana pun mendekati pintu, mencoba membukanya. Terkunci. Ia mengetuk-ngetuk pintu dengan meledak-ledak, “Apa maksud dari semua ini, Bu?”

“Kau punya kondom, bukan? Gunakan saja kepada mereka! Sembuhkan!” tegas Ibu, sebelum langkah kakinya menjadi sunyi.

Bandana semakin bimbang. Raut wajahnya begitu kusut. Alisnya menukik. Lantas, ia menoleh kepada Pita, “Kenapa ini? Apa yang terjadi?”

Pita kembali menunduk, “Mungkin aku yang menyapu kurang bersih.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!