Semai dan Tuai: Bahasa Ibu Mencintai Akar

Menanam bahasa ibu di masa kini terasa seperti menyemai benih di lahan yang terus-menerus tergerus. Ada kecermatan yang sering dianggap ketinggalan zaman, dan ada kehati-hatian yang kerap kalah oleh arus modernitas serbainstan. Namun, bukankah setiap benih butuh waktu untuk perlahan tumbuh menjadi akar hingga kelak dapat berbuah?

Bahasa ibu laksana berkebun itu sendiri—tempat kemanusiaan kita pertama kali menyerap saripati kehidupan. Jika kita membiarkan tanah ini gersang, di mana lagi kita akan menyemai ketulusan dan menemukan tempat pulang? Merawat bahasa ibu di zaman ini bukan sekadar menambah kosakata, melainkan tindakan menjaga akar supaya kita tidak kehilangan arah di tengah musim pancaroba.

Menemani Ibu berkebun pada pagi hari adalah pelajaran berharga tentang makna tumbuhnya bahasa ibu. Ia tidak hadir melalui rentetan prosedur atau instruksi yang kaku. Bahasa ibu, bak tanaman di tangan Ibu, tumbuh dari ketelatenan yang dilakukan secara berulang dan sunyi, tetapi penuh daya hidup.

Bagi Ibu, tanaman bukan sekadar dekorasi. Tanaman merupakan makhluk yang memiliki rasa. Ibu tahu kapan sebuah tunas perlu dipindahkan agar mendapat cukup cahaya matahari. Ketelitian Ibu tidak melulu berupa perintah lisan, melainkan pada kedisiplinannya menyapa tanaman setiap pagi.

Demikian pula cara bahasa ibu pertama kali menyapa akar kemanusiaan. Saat Ibu menuturkan bahasa asalnya kepada sang anak, ia sedang menyirami jiwa sang anak dengan identitas terdalam. Ada kedamaian istimewa ketika kita menyadari bahwa kita tumbuh dari “siraman” kasih sayang yang setia.

Dunia akhir-akhir ini sering kali menuntut kita untuk tumbuh cepat, seperti tanaman yang kini dirangsang dengan berbagai produk bermerek hanya demi hasil melimpah yang instan. Namun, kebun Ibu mengajarkan dinamika yang berbeda. Ibu menyaksikan akar tanaman merambat secara alami ke dalam tanah untuk mencari pegangan. Ibu mengerti bahwa tumbuh terburu-buru tanpa akar yang dalam akan membuatnya mudah tumbang sehingga hasil panennya tidak sepadan.

Bahasa ibu adalah akar kemanusiaan. Di tengah kebisingan istilah asing dan tren bahasa yang lalu-lalang setiap saat, bahasa ibu tetap mengakar dalam dan menjadi fondasi. Ia adalah ketulusan. Dalam kedamaian pagi di kebunnya, Ibu terus belajar memahami makna tumbuh dari persemaian.

Dari rutinitas tersebut, apa yang Ibu tuai? Kadang ia memanen hasil yang berlimpah, kadang tidak seberapa. Namun, Ibu selalu mengartikannya sebagai ‘cukup’. Begitu pula dengan bahasa. Bahasa ibu menjaga agar manusia tidak menjadi robot yang serbamekanis dan serbaperfeksionis. Tidak ada manusia yang sempurna; demikianlah Ibu memaknai proses tumbuh.

Meski demikian, proses menyemai dan menuai pasti memiliki lika-liku. Ibu terus mengingatkan bahwa cinta adalah kerja keras penuh semangat. Merawat dan melestarikan bahasa ibu layaknya aktivitas berkebun—sebuah cinta yang bergolak antara kesabaran dan ketulusan.

Sampai di mana kita mencintai “halaman rumah” masing-masing? Jika kita berhenti menyemai, tidak akan ada yang dituai. Jika tidak lagi bangga menuturkan bahasa ibu, kelayuan akan melanda dan peradaban kita mungkin saja hilang. Namun, bukankah bahasa sudah ditanam semenjak Ibu menyirami jiwa kita? Bahasa ibu adalah cara kita mencintai akar agar kita bisa tumbuh setinggi apa pun tanpa takut kehilangan diri sendiri. Berkebunlah sejak dalam pikiran. Barangkali kita akan menuai kemanusiaan dan merangkul kebersamaan yang penuh cinta.

Sariamin Ismail, tokoh yang memperjuangkan bahasa ibu, terus berupaya menumbuhkan akar kemanusiaan dan teguh bersuara semasa hidupnya. Kita mengenalnya melalui berbagai nama pena, seperti Selasih, Selaguri, dan sejenisnya. Ia menyukai nama tanaman sekaligus menyenangi aktivitas berkebun itu sendiri. Selama berkiprah sebagai pengarang, Sariamin terus menyuarakan pentingnya bahasa ibu. Bahkan, pada masa tuanya yang kerap diisi dengan menyapa tanaman di halaman rumah, ia berikhtiar menyusun kamus bahasa Minangkabau. Sebab, ia terus mengingatkan secara tersirat bahwa saat ini “tidak ada lagi bahasa Minangkabau”, meskipun ia masih menggunakan bahasa tersebut dalam karya-karyanya.

Dengan demikian, kita dapat membangun kebiasaan untuk tetap menumbuhkan bahasa ibu. Seperti yang kerap kita dengar: tak kenal maka tak sayang. Kita menyemai bahasa ibu dan terus menyiram akar jiwa kita. Barangkali suatu saat nanti, anak cucu kita dapat menuainya dengan saksama. Tabik!

Menamatkan sarjana di Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Berdomisili di Bukittinggi, Sumatra Barat. Mari bersapa-sapa di Instagram @fdlhyti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!