Semakin Dewasa Saya Akhirnya Paham, Alasan Mengapa Orang yang Bekerja Suka Menyalakan Radio

Sebagai orang yang usianya dianggap sudah dewasa—walaupun saya sendiri tidak siap menjadi dewasa—saya mulai bisa memahami tindakan-tindakan orang dewasa yang tidak saya pahami waktu kecil. Dulu waktu kecil merasa aneh, sekarang malah bisa paham dan bahkan melakukannya.

Hal itulah yang saya rasakan sekarang. Dulu waktu kecil, saya merasa heran pada tukang bengkel, tukang cukur, kuli bangunan, dan lain-lain yang bekerja sambil mendengarkan radio.

“Gimana mereka mau fokus kerja kalau di sekitar mereka bising? Padahal, radio kan paling isinya lagu-lagu yang sekarang sudah bisa didengar lewat handphone, iklan-iklan lokal, dan penyiar radio yang ngoceh soal macet.”

Namun, sekarang, ketika sedang mengerjakan sesuatu, mendengarkan radio ternyata enak juga. Saya tidak tahu kenapa, pekerjaan rasanya bisa lebih cepat beres jika dilakukan sambil mendengarkan radio.

Membunuh Kebosanan Ketika Kerja

Pada awalnya, saya sempat idealis bahwa mengerjakan sesuatu itu harus fokus. Artinya, tidak boleh ada gangguan sama sekali ketika saya mengerjakannya. Misalnya, saat mencuci piring atau menyapu rumah, saya akan fokus dan sebisa mungkin menghindari gangguan atau istilah kerennya, distraksi.

Namun, kebosanan kadang datang di tengah-tengah pekerjaan. Hal itu membuat saya menyapu lebih lama. Di situlah saya sering kali terdistraksi dengan membuka handphone lalu scrolling media sosial. Saya bisa menghabiskan waktu sepuluh menit sendiri sebelum lanjut menyapu lagi.

“Lho, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat ketika scrolling. Oke, sekarang waktunya kerja lagi.”

Dari situ, saya mencari solusi dan akhirnya menemukannya. Solusi itu adalah mendengarkan radio untuk membunuh kebosanan saat bekerja.

 

Keunikan Radio yang Tidak Ada Duanya

Kalau kita mendengarkan radio, ada keunikan yang tidak kita temukan saat mendengarkan lagu di Spotify, misalnya. Di radio, kita akan mendengarkan iklan-iklan lokal yang khas, suara penyiar yang sok akrab—bahkan kadang menggunakan bahasa daerah—dan tentunya informasi lalu lintas yang tidak ada duanya, padahal kita tidak ke mana-mana.

Keunikan radio seperti itu sangat nyaman untuk saya dengarkan. Bagi saya, keunikan radio yang telah disebutkan sebelumnya menjadi alasan mengapa pekerjaan saya bisa cepat beres. Sebab, audiens radio memang biasanya berusia di atas 18 tahun, sesuai dengan umur saya yang sudah dianggap dewasa.

Kalau dibandingkan dengan mendengarkan lagu di Spotify, bagaimana? Bagi saya, rasanya jauh berbeda. Di Spotify kita bisa memilih lagu sesuka hati, sementara di radio tidak. Radio terasa seperti ruang publik yang kolektif.

Walaupun lagu-lagu yang diputar di radio dan di Spotify mungkin kurang lebih sama, iklan-iklan radio yang khas dan informasi lalu lintas tersebut tidak bisa saya nikmati di Spotify.

“Iklan-iklan di radio lebih enak untuk dinikmati ketimbang lagu-lagunya.”

Obat Manjur untuk yang Lelah dengan Gadget dan Medsos

Bagi saya, radio juga menjadi jawaban bagi saya yang akhir-akhir ini mulai lelah dengan penggunaan gadget dan medsos. Saya yakin banyak orang terdistraksi oleh kedua hal itu dan berusaha menguranginya.

Namun, mengurangi penggunaan gadget dan medsos kadang ada risikonya juga, sebab ada segelintir orang yang pekerjaannya memang memerlukan gadget dan medsos. Mau tidak mau, mereka pun sulit lepas dari kedua hal itu, dan saya termasuk ke dalam golongan tersebut.

Bagi saya, solusinya adalah menggunakan gadget dan medsos seperlunya untuk pekerjaan saja, bukan untuk hiburan. Menurut saya, (kembali) mendengarkan radio adalah jawaban bagi kita yang masih ingin mendapatkan hiburan, tetapi di sisi lain tetap ingin produktif dan terhindar dari distraksi. Karena tetap produktif sekaligus terhibur lewat radio, secara tidak sadar pekerjaan kita pun menjadi lebih cepat beres.

Mungkin itu tanda saya mulai tua. Sebab, sekarang saya bisa memahami mengapa suara radio selalu menjadi teman setia bagi tukang bengkel, tukang cukur, kuli bangunan, dan lain-lain.

Jadi, bagaimana? Tertarik untuk mendengarkan radio (lagi)?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!