Menjadi Kelas Bawah-Menengah yang Mencintai dengan Sadar

Mengenal dua insan yang saling mencintai membuat kita terkesan akan indahnya romantisasi cinta, tentu za. Namun kehidupan tidak pernah seindah hari jatuh cinta, bukan?

Terlebih, untuk warga kelas bawah-menengah yang tidak pernah punya privilege.

Cinta yang tumbuh silih berganti menjadi korban keganasan dari sistem yang mengatur. Kalau kamu percaya konspirasi, ya dalam konteks ini anggap saja satanis yang mengatur. Sistem memaksa cinta ini tumbuh membangun dengan kualitas atau cinta yang menguntungkan kuantitas ekonomi. Maka dari itu, saya akan mendumal soal pertikaian perputaran cinta yang ada di kehidupan kita (atau saya saja) selama ini.

Ketika cinta mulai dinilai berdasarkan pendapatan, pekerjaan, status, fasilitas, keamanan ekonomi, atau keuntungan lainnya, maka cinta mulai memasuki ruang perhitungan material.

Bukan berarti cinta yang berkualitas harus menghilangkan kebutuhan material yang ada dalam kehidupan manusia, ya. Dua manusia yang saling mencintai tetap harus makan, bekerja, memiliki tempat tinggal, memikirkan masa depan, dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Cinta tidak hidup di ruang kosong yang terpisah dari kehidupan sosial dan ekonomi. Justru karena manusia hidup dalam kebutuhan tersebut, cinta akan selalu bertemu dengan kenyataan kehidupan yang memaksanya untuk mengambil keputusan.

Rouben Osborn dalam bukunya Psikoanalisis dan Marxisme menjelaskan bahwa cinta merupakan bentuk dari sadar (ego) yang diperbudak id (ketidaksadaran). Maka timbullah dua insan yang sama-sama mencintai dan berprinsip “dunia milik berdua” itu.

Namun tentu saja, seiring berjalannya waktu, dua insan saling membenturkan cintanya dengan kehidupan agar mereka untuk membangun (kualitas) atau menguntungkan (kuantitas) cintanya.

Sistem ekonomi jelas lebih mapan dan sudah terbentang sebelum cinta yang berkualitas ini tumbuh subur. Walau pada akhirnya kedua insan yang membangun cinta mencoba peruntungan di jalannya masing-masing, tapi apalah daya. Cinta tidak lagi hanya berhadapan dengan perasaan, tetapi juga dengan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Yang awalnya dibangun atas dasar saling menjaga perlahan harus berhadapan dengan pertanyaan tentang masa depan, pekerjaan, pendapatan, dan kehidupan yang ingin dicapai. Pertanyaan tentang masa depan kemudian membuat cinta berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar daripada hubungan dua individu.

Cara seseorang memilih pasangan, mempertahankan hubungan, bahkan melihat masa depan bersama dapat bersinggungan dengan kondisi material yang mereka miliki. Cinta yang awalnya tidak mengenal perhitungan dan risiko ekonomi pun perlahan pudar. Cinta yang (sayangnya) berakhir dengan kesadaran bahwa sistem telah mengatur mereka menjadi seseorang yang siap dieksploitasi pasar ini lah yang akan kita bicarakan.

Frederick Engels dalam bukunya Anti-Dühring menjelaskan bahwa seseorang akan terjerumus ke dalam sistem kapitalis melalui dogma good business. Dogma ini sudah tumbuh agar seseorang hanya mempertimbangkan untung-rugi. Ketika cara berpikir seperti ini masuk ke dalam hubungan manusia, cinta pun perlahan dapat dilihat seperti sebuah perhitungan:

Siapa yang memberikan keuntungan lebih besar?

Siapa yang dapat menjamin kehidupan?

Siapa yang memiliki sesuatu untuk diberikan?

dan, siapa yang dianggap mampu membawa kehidupan menuju keadaan yang lebih baik?

Pertanyaan serupa membuat manusia dapat merasa bahwa dirinya sedang memilih dengan bebas, padahal ukuran yang digunakan untuk memilih telah dipengaruhi oleh keadaan sosial dan ekonomi tempat dirinya hidup.

Pasangan tidak lagi hanya dipandang sebagai manusia yang memiliki perasaan, melainkan dapat berubah menjadi seseorang yang memiliki nilai berdasarkan hal yang mampu diberikan. Ketika hal tersebut terjadi, hubungan manusia perlahan mendekati cara kerja sebuah transaksi: ada yang diberikan, ada yang diterima, dan ada keuntungan yang diharapkan.

Lantas, apakah cinta harus sepenuhnya terbebas dari kebutuhan material?

Bukankah manusia tetap hidup dengan kebutuhan yang harus dipenuhi?

Ah, ya gak juga. Kita tidak dapat memisahkan manusia dari kebutuhan ekonominya, tetapi kita juga tidak seharusnya menjadikan keuntungan sebagai satu-satunya ukuran dalam mencintai. Sebab ketika cinta hanya dihitung dari hal-hal yang dapat diberikan, manusia perlahan tidak lagi dilihat sebagai manusia, melainkan sebagai sesuatu yang memiliki nilai tukar. Lagipula, segala kebutuhan ekonomi individu kan harus ditanggung masing-masing dan gak boleh digantungkan ke pasangan! Ya, kan?

Toh, cinta tanpa kualitas akan menimbulkan kekosongan, cinta tanpa kuantitas akan menimbulkan kebuntuan. Sip oke, kata-kata hari ini.

Bersama cinta, mari kita hadapi dunia dan sistemnya yang menyebalkan ini!

Sekarang saya sedang bekerja sebagai pengangguran yang masih sibuk mencari arah. Kadang menulis, membaca, dan mencoba memahami berbagai persoalan manusia serta kehidupan sosial sekitar. Instagram @rggar_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!