

Tulisan ini merupakan arsip kegiatan Musim Mekar Selasih yang diadakan kawan-kawan Membaca Selasih.
Pada 30 Juli 2026, sehari sebelum tim Membaca Selasih (termasuk saya) berangkat untuk “Pulang ke Rumah Selasih”, tim Membaca Selasih mengadakan sebuah diskusi yang sekaligus menjadi penutup segmen “Musim Mekar Selasih”, rangkaian yang dipersiapkan sebagai pengantar menuju “Pulang ke Rumah Selasih”.
Diskusi kali ini menghadirkan Tini Hadad dan Hanna, anak dan cucu dari Sariamin Ismail. Agenda diskusi kali ini rasanya seperti video call dan reuni. Menyenangkan sekali dan mengalir begitu alami.
Tini Hadad mengawali ceritanya dengan sebuah pengakuan bahwa nama Sariamin mungkin sudah tidak banyak dikenal, terutama oleh generasi muda,
“Kalaupun masih ada yang mengenalnya, kemungkinan besar mereka adalah para penikmat sastra. Karena itu, ia merasa bangga karena dapat memanggilnya “Mama”, seorang perempuan yang, pada masanya, termasuk salah sosok yang lebih dahulu terlibat dalam dunia kepengarangan.”
Tini lalu melanjutkan ceritanya, “Mama berasal dari Pasaman. Pada masa kecilnya, akses menuju sekolah-sekolah yang dikenal di Padang Panjang dan Bukittinggi tentu tidak semudah sekarang. Ia kemudian bersekolah di Padang Panjang, sebuah perjalanan yang pada masa itu terbilang jauh sekali, ya. Tidak banyak anak yang dikirim bersekolah sejauh itu. Mama bahkan berangkat dengan berjalan kaki bersama ayahnya. Jika perjalanan kemalaman, mereka akan menginap di rumah penduduk desa sebelum melanjutkan perjalanan hingga sampai di Padang Panjang. Jadi menginap di rumah orang di desa mana gitu. Nah di sana, Mama bersekolah di sekolah perempuan yang pada masa itu setingkat dengan sekolah guru tingkat menengah pertama, sebelum kemudian melanjutkan pendidikan ke SGA.”
Tini menjelaskan, satu sifat yang paling diingat Tini dari mamanya adalah sosok yang keras hati. Jika sudah memiliki niat terhadap sesuatu, Bu Sariamin akan berusaha memastikan hal tersebut selesai.
Sifat itu juga diterapkan Ibu Selasih kepada anak-anaknya. Tini berkata,
“Mama bisa marah jika sesuatu dikerjakan setengah-setengah, bahkan dalam perkara sederhana seperti makan, saya kan kecil tidak terlalu suka makan, nah saya sering mengambil makanan dalam jumlah sedikit. Namun, setelah makanan itu diambil, Mama akan memastikan semuanya dihabiskan. Bagi Mama, sesuatu yang sudah dimulai harus diselesaikan, termasuk makanan itu.”
Tini menambahkan,
“Mungkin karena itulah Mama berhasil menghasilkan banyak karya. Ketika Daud Joesoef masih menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, pernah ada ajakan kepada para pengarang yang masih mampu dan ingin menulis untuk kembali berkarya. Mama pun kembali menulis. Beberapa bukunya sebenarnya masih dapat ditemukan di Balai Pustaka, meskipun tidak semuanya diedarkan. Ada pula tulisan yang menggunakan bahasa Minang, tapi saya juga gak ngerti gitu, ya, karena itu Minang lama.”
Bagi Tini, Ibu Sariamin bukan orang yang mengenal istilah berhenti bekerja dan beraktivitas. Tipikal workaholic dan produktif kalau dalam bahasa Gen Z mungkin, dalam bahasa Gen Alpha saya gak tahu lah 🙁
Dalam kehidupan sehari-hari pun, Ibu Selasih memiliki sisi yang menarik. Tini mengenang bahwa pada pagi hari, justru ayahnya dan sanak famililah yang banyak mengurus anak-anak.
“Mama lebih sibuk dengan pekerjaannya. Di rumah, keluarga memang tidak memiliki asisten rumah tangga, tetapi selalu ada keluarga atau keponakan jauh yang membantu mengurus rumah. Mama juga ternyata gemar menulis resep, meskipun hampir tidak pernah memasak. Jadi dia itu tahu berbagai bahan masakan, yang mana kunyit, lengkuas, jahe, dan sebagainya, tetapi tidak terlalu mengetahui takaran penggunaannya. Untuk rendang, tentu saja berbeda. Sebagai orang Minang, Mama merasa tidak mungkin tidak bisa membuat rendang. Hihihi.”
“Ada pula resep makanan Belanda, seperti salad atau selada, yang masih diingatnya.”
Hingga sekarang, Tini dan keluarganya masih menggunakan resep peninggalan Ibu Sariamin tersebut. Kalau membuat salad, Tini dan keluarga bahkan memilih membuat sendiri bumbunya daripada membeli bumbu dalam botol karena rasanya berbeda.
Buat Tini, Mama adalah sosok yang rajin, keras hati, pekerja keras, dan mendidik anak-anaknya dengan ketegasan.
Setelah Tini bercerita, selanjutnya ada Hanna, cucu perempuan dari Ibu Sariamin.
Hanna bilang bahwa ketika duduk di bangku SMP, buku karya neneknya, Kalau Tak Untung, secara kebetulan masuk ke dalam materi pelajaran.
Di keluarga pun, Selasih adalah semacam “keajaiban”, sebuah anomali. Bahkan pada masanya, Selasih dianggap sebagai sosok yang sangat berbeda dan “ajaib”.
Sebagai nenek, Selasih tidak menjalankan peran gambaran nenek pada umumnya. Hanna tidak pernah dimandikan atau disuapi oleh neneknya.
“Ada orang lain yang membantu mengasuh mereka di rumah. Namun, Nenek memang tidak pernah terlibat untuk memandikan dan menyuapi saya gitu, ya. Tapi kalau bermain justru Nenek sangat suka bermain. Kami cucu-cucunya semua diajari bermain bekel, congklak, bahkan catur juga. Semua cucu Nenek itu bisa main catur.”
Hanna kemudian melanjutkan ceritanya dengan mengatakan bahwa Selasih adalah orang yang sangat kreatif. Kreativitasnya tidak berhenti pada kegiatan menulis saja, lho.
Selasih rajin membuat berbagai kerajinan tangan, mulai dari hiasan dinding berbahan benang dan strimin (pakai pamidangan itu), hingga kolase dari bunga dan daun-daun kering. Selasih bahkan pernah membuat lukisan menggunakan kulit bawang yang dicetak menyerupai kelopak bunga, kemudian disusun menjadi sebuah lukisan bunga di dalam vas.
“Pokoknya Nenek itu orangnya gak bisa diam.” kata Hanna
Hingga akhir hayatnya, Hanna tidak melihat tanda-tanda demensia pada neneknya. Ia terus aktif, baik melalui kegiatan organisasi seperti Wanita Islam maupun dengan menghadiri berbagai forum diskusi. Ketika bosan menulis, ia berkarya. Ketika bosan berkarya, ia melakukan kegiatan lain.
Ah iya, soal permainan, satu-satunya permainan yang tidak pernah mereka lakukan bersama adalah bridge (semacam permainan remi), karena permainan itu membutuhkan empat orang,
“Dan di rumah itu jarang ada empat orang terkumpul.”
Rutinitasnya pun padat.
“Pagi hari Nenek mengurus bunga, lalu pergi bertemu teman-temannya, nanti sore apa gitu ya, menulis atau membuat hiasan pajangan itu.”
Selasih juga gemar bercerita. Setiap malam, Selasih hampir selalu punya cerita untuk cucu-cucunya. Ceritanya bisa bermacam-macam, kadang tentang dirinya sendiri, tentang nabi, dan berbagai kisah lain yang bisa berlangsung sangat panjang.
“Saya bahkan suka pura-pura tidur karena kalau gak gitu, Nenek gak berhenti cerita.”
Menarik sekali! Selasih mungkin tidak banyak terlibat dalam pengasuhan sehari-hari, tetapi memberikan kenangan manis melalui permainan, cerita, kreativitas, dan cara hidupnya sendiri. Keren!
Hanna lalu bercerita kisah meninggalnya Ibu Selasih.
Melalui cerita Hanna, menjelang akhir hayatnya, kondisi kesehatan Selasih mulai menurun pada Oktober 1995. Selasih sering mengalami vertigo dan lebih banyak berbaring di tempat tidur. Bahkan untuk pergi ke kamar mandi pun ia sudah kesulitan.
“Dokter Tabrani Rab beberapa kali datang dan menyarankan agar Nenek dirawat di rumah sakit.”
Selasih sebenarnya sudah terbiasa dirawat di rumah sakit. Bahkan ia memiliki “hobi” unik ketika cucu-cucunya sedang libur, ia senang dirawat inap di RS Tabrani Rab. RS itu sudah seperti tempatnya sendiri, sampai-sampai tersedia ruangan yang biasa digunakannya untuk rawat inap.
“Jadi dia punya ruangan khusus”
Setiap kali sakit, meskipun hanya sakit ringan, Selasih merasa setidaknya harus dirawat selama seminggu.
Namun, menjelang kepergiannya, Selasih justru tidak mau ke rumah sakit. Ia memilih tetap berada di rumah dan dirawat oleh keluarganya.
Pada 14 Desember, terjadi sesuatu yang membuat keluarga merasa kondisi Selasih membaik.
“Setelah lama hanya berbaring di tempat tidur, pagi itu Nenek tiba-tiba bangun dan berjalan menuju ruang tengah. Ya Nenek menonton televisi, makan di meja makan, dan menjalani aktivitas seperti biasanya saja gitu, seperti sehat.”
Bagi keluarga, makan bersama Selasih merupakan sebuah kebiasaan. Ketika Selasih ada di rumah, semua harus makan di meja dan pada waktu yang sama.
Hanna juga memiliki ingatan soal neneknya yang kebiasaan-kebiasaan kecil yang masih diingat,
“Kalau minum air putih, airnya harus dingin. Air hangat hanya untuk minuman yang berwarna ya seperti kopi susu atau teh. Nah di tanggal 14 Desember itu, Nenek bahkan masih makan mangga dan menonton televisi seperti biasa.”
Setelah itu, Selasih berpamitan dan pergi tidur. Ia tidur bersama cucunya, Bang Iwan, Kakak Hanna yang tertua.
“Sekitar pukul sepuluh atau sebelas malam, Nenek terbangun dan meminta dipijat. Terus Bang Iwan kemudian memijatnya sambil mendengarkan cerita-cerita Nenek, terus saja ya sampai jam dua. Kemudian, karena Abang saya sudah gak kaut lagi nahan ngantuk, akhirnya Abang saya membangunkan ibu saya untuk menggantikannya.”
Di malam itu, Selasih mulai mengalami halusinasi.
Selasih mulai bertanya,
“Papa dari mana?” dan meminta orang-orang yang menurutnya berada di luar untuk dipersilakan masuk.
“Setelah salat subuh, barulah ia tertidur.” tutup Hanna.
Masih dengan ceritanya, Hanna menjelaskan karena ibu dan abangnya kelelahan setelah berjaga semalaman, keluarga memutuskan untuk tidak menjalankan aktivitas seperti biasanya. Ibunya tidak mengajar, Bang Iwan tidak pergi, dan Hanna pun memilih tidak sekolah. Hampir semua anggota keluarga berada di rumah pagi itu, kecuali Ayah Hanna dan kakaknya yang kedua.
Pagi itu sebenarnya berlangsung seperti biasa. Orang yang membantu keluarga bahkan masih menyiapkan kopi susu dalam gelas tinggi dan meletakkannya di meja Selasih, seperti hari-hari biasanya. Hingga seorang sepupu yang hendak berangkat kuliah mencoba membangunkannya. Saat itulah mereka mengetahui bahwa Selasih sudah tidak ada.
Selasih meninggal pada Jumat, 15 Desember 1995. Namun baru dimakamkan keesokan harinya karena keluarga menunggu Tini yang baru menjalani operasi.
“Ibu Tini harus kita tunggu,” demikian keputusan keluarga.
Pada hari Jumat itu, dokter Tabrani Rab bahkan menginap di rumah untuk memastikan kondisi jenazah tetap baik. Sempat ada rencana untuk membalsem jenazah, tetapi karena tubuh Selasih masih hangat, rencana itu tidak dilakukan.
Bagi keluarga, keputusan menunda pemakaman tentu bukan perkara mudah. Ada yang protes karena Jumat dianggap sebagai hari yang baik untuk pemakaman. Namun, keluarga memilih menunggu Tini pulang.
Di antara cerita lainnya, Hanna juga mengingat kebiasaan Selasih yang selalu membeli kue kaleng dan menyimpannya di lemari kamar. Kue-kue itu memang ada, tetapi cucu-cucunya tidak bisa begitu saja mengambilnya. Untuk bisa menikmati kue tersebut, mereka harus menyetor hafalan terlebih dahulu.
Dalam diskusi tersebut, Devy Kurnia membawa pembicaraan Selasih ke wilayah yang lebih luas, yakni jejaring persahabatan, pendidikan, sastra, politik, dan gerakan perempuan yang mengitarinya. Dari sana, Devy menemukan semakin banyak jejak aktivitas Selasih dan Bu Syarifah, termasuk hubungan keduanya yang ternyata tetap berlangsung setelah Indonesia merdeka.
Keduanya bahkan pernah mendirikan sekolah di Pekanbaru. Yang menarik bagi Devy adalah kenyataan bahwa persahabatan mereka bertahan hingga usia senja. Jejak hubungan tersebut juga tersimpan dalam surat-surat yang mereka tulis menggunakan bahasa Belanda.
Bagi Devy, Selasih tidak hanya berkaitan dengan sastra, tetapi juga dengan politik dan pendidikan. Satu temuan yang menarik adalah bahwa Selasih pernah mengajar Rasuna Said. Di Padang Panjang, ia juga terlibat dalam pendirian majalah sastra Asyrak pada 1924 dan menjadi tonggak utama dalam keberlangsungan majalah tersebut.
Devy juga memberikan cerita “Bahkan sejak usia empat belas tahun, Selasih sudah bermain tenis.”
Dalam salah satu tulisannya, ia pernah menyebut menulis supaya dapat uang untuk bermain tenis. Detail semacam ini menunjukkan bahwa Selasih memiliki kehidupan yang jauh lebih beragam daripada sekadar apa yang selama ini dilekatkan kepadanya sebagai seorang pengarang.
Sebagai seseorang yang sedang meneliti gerakan perempuan, Devy juga tertarik pada aktivitas perempuan-perempuan pada masa itu yang menggunakan sastra dan seni pertunjukan sebagai medium untuk merespons persoalan sosial.
“Mereka pernah membuat pertunjukan teater dan berkeliling untuk mengumpulkan bantuan bagi korban bencana alam.”
Di tengah percakapan mengenai Selasih, muncul suara dari Shadiq, teman Hanna. Shadiq mengaku baru mengetahui bahwa Hanna adalah cucu seorang novelis, padahal pertemanan mereka berlangsung cukup lama. Bahkan Hanna sendiri tidak pernah banyak bercerita mengenai latar keluarganya. Shadiq juga baru mengetahui bahwa Tini Hadad adalah tante Hanna.
Shadiq kemudian mengajukan pertanyaan kepada Tini
“Apa yang dilakukan Sariamin sehingga ia masih memiliki semangat untuk terus berkarya hingga usia sekarang?”
Tini menjawab bahwa yang diwariskan Mama sebenarnya bukan doktrin dalam pengertian yang kaku, justru yang diberikan adalah contoh dan keteladanan.
“Selama seseorang masih kuat dan masih mampu berpikir, kemampuan itu harus dibagikan kepada masyarakat. Pengetahuan, pengalaman, dan pikiran tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri, jadi kamu harus membagikannya kepada orang lain.” ungkap Tini
Oh saya paling suka ini! Tentu saja keteladanan akan terletak pada cara hidup! Tini Hadad sudah membuktikannya!
Pembicaraan mengenai kreativitas Sariamin kemudian mendapat penguatan dari Shadiq dan Intan, kawan Hanna. Rumah Hanna bahkan dipenuhi berbagai hiasan yang ternyata dibuat sendiri oleh sang nenek. Rumah itu juga dikenal sangat rimbun karena dipenuhi tanaman.
Uni Rezki, partisipan juara 1 yang tidak pernah absen ini kemudian menawarkan cara pandang lain terhadap kebiasaan Sariamin mengerjakan berbagai kerajinan tangan. FYI, Uni Rezki memang mendalami pedagogik.
Uni Rez bilang, dalam istilah Minang, ada ungkapan “orang yang suka mangarapiak”, yakni orang yang tangannya selalu sibuk mengerjakan sesuatu. Bagi Uni Rez, kebiasaan tersebut justru sangat mengesankan karena pekerjaan tangan memiliki proyeksi yang luas terhadap cara berpikir seseorang. “Makanya dahulu itu kan itu digunakan di sekolah gitu, ya. Pelajaran kerajinan tangan, begitu.”
Uni Rezki juga menghubungkan keteladanan Selasih dengan Tini. Sebagai kawan pergerakan, menurut Uni Rez, Tini merupakan bagian dari generasi tokoh sosial yang pada zamannya belum banyak. Gerakan sosial semacam itu pun tidak selalu mendapat tempat, terutama dalam konteks politik Orde Baru di bawah Soeharto.
“Jadi ya sama-sama bandel juga ini Tini ini. Mirip Selasih.”
Oleh karena itu, di akhir percakapan Uni Rez, Uni Rez berharap Tini dan Hanna dapat terus mengumpulkan kisah-kisah kecil yang bersifat anekdotal tentang Sariamin. Cerita-cerita dari seorang anak dan cucu perempuan sepertinya bisa jadi cara penting untuk memperkaya pemahaman mengenai sosok Sariamin yang jauh lebih dekat lagi dalam kesehariannya.
Pembicaraan kemudian beralih pada kehidupan pribadi Sariamin, khususnya kisah cintanya dengan Ismail, yang kemudian menjadi suaminya.
Ketika Devy menanyakan kisah tersebut, Tini justru tertawa dan mengaku tidak terlalu banyak mengetahui atau menganggap kisah itu sebagai sesuatu yang istimewa. Sebelum bertemu dengan Ismail, Sariamin memang pernah memiliki beberapa hubungan dengan laki-laki. Namun, Tini mengingatkan bahwa cara orang menyebut “pacaran” pada masa itu tentu berbeda dengan sekarang.
“Mama itu banyak pacarnya.”
Dahulu, seseorang yang datang bertamu ke rumah saja kadang sudah dianggap sebagai pacar. Hehe, dalam konteks ini, saya bercanda, “Berarti kalau Arini punya pacar banyak sekarang, Arini sudah meneladani nilai-nilai Selasih, ya.”
Gubrak. Ngaco!
Sariamin kemudian bertemu Ismail ketika ia pergi ke Riau. Ismail pada waktu itu memiliki pabrik bata. Keduanya kemudian saling mengenal dan akhirnya memutuskan untuk menikah.
Sariamin menikah pada usia 31 tahun. Sekali lagi, keputusan itu menunjukkan Sariamin mendobrak sejumlah batas sosial yang berlaku pada zamannya. Zaman dulu kan, perempuan menikah di usia belasan.
Hubungan Sariamin dan juga memiliki sejarah yang berkaitan dengan pengalaman politik Sariamin. Pada 1937, ketika Sariamin dipenjara, Ismail menjadi satu diantara orang yang membelanya. Setelah menikah, situasi politik dan konsekuensinya tetap membayangi kehidupan Sariamin. Hak-hak tertentu yang sebelumnya dimiliki Ismail kemudian dicabut. Pengalaman tersebut kembali menunjukkan bahwa perjalanan hidup Sariamin tak pernah terpisah dari situasi sosial dan politik pada zamannya.
Melalui Zoom yang sangat seru inilah, saya membuat poin-poin keteladanan Selasih:
Nah, setidaknya sekarang, kalau saya ingin menjadi seperti Selasih, saya sudah punya checklistnya 🙁
Terima kasih Bu Tini dan Teh Hanna yang sudah berbagi cerita! Menyenangkan sekali!
Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!