Setelah Perkelahian Itu

Setelah Perkelahian Itu

aku teringat ketika kancing bajuku lepas

ibu menghampiriku yang bugil dan gigil

tangannya menyapu seluruhku

menjadi handuk hangat mengeringkan luka

di lekuk tubuh usia setengah matang

 

kenapa tidak mengalah saja?

namamu dikoyaknya lagi, bu

mengalah bukan berarti kau lemah

aku harimau dari rahimmu, bu

dan harimau akan patuh pada ibunya

 

ibu berlalu dari mataku

dan tiba di sarang hatiku

2026

 

Angka-Angka yang Kian Renta

: untuk Winda Yuliana

 

1

mata kita telah kawin sekian lama

kau selalu berdiri di balik jendela

menyambut ksatria pulang berperang

tanpa bunga

 

kerling mataku menangkap matamu

membaca angka-angka yang kian renta

gentong beras yang kosong

lemari es yang semakin dingin

gas

galon

token

apalagi?

lagu keroncongan dari perutku dan perutmu

membuat tanggal merahnya sendiri

 

pada kalender toko perhiasan pemberian tetangga

kau lingkari tanggal perkawinan kita

entah tahun keberapa

bahagia masih tinggal di kelopak mata

 

2

dua puluh tahun lalu

musim-musim mempertemukan kita

saling mengeja dan menerka

membaca kau sebagai perempuan

dan aku sebagai lelaki

suami

istri

 

kau pilih menjadi akar

aku pilih menjadi tinggi

waktu tak bisa memberi banyak pilihan

 

aku tumbuh diasuh matahari

meninggi dibasuh hujan

tubuhku hijau

pucuk-pucuknya mengundang

lebah manis

kupu-kupu malang

kumbang jalang

 

kau telah memilih menjadi akar

begitu kuat merasakan gelombang

di puncak rerantingnya

 

3

angka-angka yang kian renta

rambutmu dan rambutku

dikecup purnama ke empat belas

kulitmu dan kulitku

melukis garis dan tandanya sendiri

 

di halaman hati kita tumbuh tunas-tunas

embun mengalir pada mata yang berpendar

 

kini kau semakin jalar mengakar

dan aku semakin kuat terbakar

2026

 

Desersi Miahan Khan

aku Miahan Khan

tentara sepoy bentukan Inggris asal India

datang ke Indonesia di penghujung 1945

haluan takdirku berpijak di tanah Sunda

tanah hijau yang merajut kata merdeka

 

lacur dalam hidupku

di seberang moncong senjata

wajah Tuhan kita sama:

Alif Lam Ha

peluru kutembakkan ke atas langit

melebur dalam gema suara azan

aku tak berdaya

diserbu serdadu bersuara takbir

jiwaku rubuh

dalam bayang falsafah Gandhi

elang meninggi

membawaku terbang

di antara batas langit Indonesia

 

aku Miahan Khan

darah, daging, dan tulangku

menjadi mahar bagi sebuah perlawanan

kuserahkan 15 senjata, 8 granat, 1500 amunisi

karena haram bagiku

membunuh pejuang berpeluru takbir

bersama surat desersi ini

aku nyatakan lawan telah menjadi kawan

2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!