Di rumah kami, sore tidak pernah benar-benar sunyi.
Ayam-ayam berjalan di halaman, sesekali berhenti untuk mengais tanah. Dari kandang, terdengar suara sapi ketika lalat hinggap di tubuhnya. Sementara itu, dari dapur terdengar bunyi tampah beradu dengan beras, pelan dan berulang.
Suara-suara itulah yang sejak kecil membuatku mengenali rumah.
Rumah kami sederhana. Sebuah rumah bangsal yang kukenal sebagai tempat paling tenang untuk pulang. Tidak banyak yang berubah sejak dulu. Dinding bambu di dapur masih berdiri, telah dihaluskan dan dijadikan sekat sederhana. Terlebih menjelang sore, hawa dapur selalu terasa hangat.
Di sana, tangan Nyi Ro hampir tidak pernah benar-benar diam.
Hari itu, ia sedang nampe bherras. Beras diletakkan di atas tampah, lalu ditampi perlahan. Gerakannya teratur. Sesekali ia berhenti sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Aku duduk di dekatnya sambil memperhatikan.
“Ka, jha’ bhe jebbhe.”
Aku menoleh. Nyi Ro masih sibuk dengan beras di tangannya.
“Iya, Nyi.”
Lantas, kuambil sapu yang terletak di dekat dinding.
***
Sejak kecil, aku sudah terbiasa mendengar kalimat-kalimat pendek dari Nyi Ro.
“Jha’ bhe jebbhe.”
“Jha’ ngakan nekkang.”
Ada satu kalimat lain yang paling sering membuatku berpindah tempat.
“Tak ekapajuh lakeh.”
Kalimat itu pertama kali kukenal ketika masih kecil. Saat itu, aku belum mengerti mengapa ambang pintu begitu penting.
Bagiku, tempat tersebut justru nyaman untuk duduk. Dari sana, aku bisa melihat halaman tanpa harus benar-benar keluar rumah. Ayam-ayam yang berjalan ke sana kemari, suara sapi dari kandang, dan angin sore yang menyentuh wajah menjadi pemandangan sederhana yang kusukai.
Namun, setiap kali duduk di sana terlalu lama, Nyi Ro akan mengingatkanku.
“Tak ekapajuh lakeh.”
Aku pun bergeser tanpa bertanya atau membantah.
Seiring bertambahnya usia, perlahan aku mulai memahami maksud kalimat itu. Di kampung kami, ada kepercayaan bahwa seorang paraban tidak seharusnya duduk di ambang pintu karena kelak bisa tak ekapajuh lakeh, alias tidak mendapatkan suami.
Aku tidak tahu dari mana tepatnya kepercayaan itu bermula. Nyi Ro pun tidak pernah menjelaskannya panjang lebar.
Barangkali, memang tidak semua hal di rumah harus diterangkan seperti pelajaran di sekolah. Ada yang cukup didengar, ada yang cukup dilakukan, dan ada pula yang diwariskan begitu saja melalui kebiasaan.
***
Suatu siang, aku sedang makan di dapur. Tanpa sadar, posisi dudukku membuat kakiku terbuka.
“Jha’ ngakan nekkang.”
Segera kuperbaiki posisi dudukku.
“Iya, Nyi.”
Setelah itu, Nyi Ro kembali mengerjakan pekerjaannya. Aku memperhatikannya sebentar.
Kadang-kadang, aku merasa ia memiliki cara sendiri untuk menjaga rumah tetap berjalan. Bukan melalui suara keras atau aturan tertulis, melainkan lewat kalimat-kalimat sederhana yang diucapkan berulang kali.
Tanpa kusadari, kalimat itu tumbuh bersamaku.
Nyi Ro juga pernah bercerita tentang masa ketika ia masih menjadi paraban. Dahulu, aku mendengarkan cerita-cerita itu sambil melakukan banyak hal lain. Sesekali sambil makan, duduk di dapur, atau membantu pekerjaan rumah.
Kini, sebagian besar ceritanya telah kulupakan.
Aneh memang. Kita sering mengira akan mengingat semuanya tentang orang-orang yang kita cintai. Nyatanya, tidak selalu demikian.
Terkadang, yang tertinggal bukan jalan ceritanya, nama-nama orang di dalamnya, ataupun setiap kejadian yang pernah mereka alami. Justru hal-hal kecil yang bertahan paling lama.
Suara seseorang ketika memanggil nama kita. Gerakan tangannya saat bekerja. Cara ia mengucapkan kalimat yang sama berkali-kali.
Begitulah ingatanku tentang Nyi Ro.
Banyak cerita tentang masa mudanya mungkin sudah hilang dari ingatanku. Namun, suaranya masih kuingat. Tampah di tangannya, hawa dapur, dan kalimat yang berulang kali diucapkannya pun masih tinggal di kepala.
Tentu saja, aku masih ingat kalimat itu.
“Tak ekapajuh lakeh.”
***
Pada suatu sore yang lain, aku kembali duduk di dekat pintu. Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin melihat halaman.
Ayam-ayam berjalan tanpa arah yang jelas, sementara angin masuk dari luar. Dari dapur, suara Nyi Ro terdengar beriringan dengan bunyi tampah.
Baru saja aku hendak menyandarkan tubuh ketika sebuah panggilan terdengar.
“Ka.”
Aku menoleh.
Nyi Ro memandang ke arahku.
Aku sudah tahu apa yang akan dikatakannya.
Ada sesuatu yang terasa akrab dalam kejadian itu. Seolah-olah waktu berjalan berputar, membawaku kembali menjadi anak kecil yang duduk di tempat yang sama dan mendengar kalimat yang sama.
Bedanya, kini aku lebih dewasa. Aku mulai memahami bahwa ingatan tentang rumah tidak selalu tersimpan dalam bentuk peristiwa besar. Sering kali, justru pengulangan-pengulangan kecil yang membuat sebuah tempat terasa begitu dekat.
Aku tidak pernah benar-benar memikirkan apakah kepercayaan itu benar atau tidak. Bagiku, tak ekapajuh lakeh bukan sesuatu yang perlu kubuktikan.
Kalimat itu telah menjadi bagian dari rumah, sebagaimana nasihat Nyi Ro yang lain. Ia melekat bersama suara ayam dan sapi yang hampir setiap hari kudengar, juga nampe bherras yang sejak dulu kulihat dilakukan oleh tangannya.
Mungkin, begitulah cara sebuah rumah mewariskan kenangan. Bukan hanya melalui dinding, pintu, atau benda-benda yang tersimpan di dalamnya, tetapi juga melalui suara dan kebiasaan yang terus berulang.
***
Ada banyak hal yang tidak kita mengerti ketika masih kecil. Kita hanya mendengarnya, menuruti apa yang dikatakan, lalu melanjutkan hari seperti biasa.
Namun, suatu hari, ketika usia bertambah, kita menyadari bahwa suara-suara itu ternyata masih tinggal di dalam kepala. Bahkan, hal yang dahulu terasa biasa saja bisa menjelma menjadi bagian paling dekat dari ingatan kita.
Sore semakin turun. Cahaya dari halaman masuk melewati pintu dan jatuh di lantai dapur.
Kali ini, aku kembali duduk, tetapi tidak di ambang pintu.
Nyi Ro masih bekerja. Tampah tetap berada di tangannya, beras masih ditampi perlahan, dan suara-suara rumah kembali memenuhi sore.
Aku duduk sambil memperhatikan semuanya.
Barangkali, rumah memang tidak hanya dibangun dari dinding dan pintu. Ia juga dibangun dari kalimat-kalimat sederhana yang terus diulang, dari kebiasaan yang diwariskan, dan dari suara orang-orang yang kita cintai.
Kelak, mungkin aku akan lupa lebih banyak cerita tentang Nyi Ro. Namun, aku ingin percaya bahwa suara itu akan tetap tinggal.
Termasuk satu kalimat yang sejak kecil selalu membuatku bergeser dari ambang pintu.
“Tak ekapajuh lakeh.”
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!