Selamat, Guru

Selamat, Guru

Selamat, sudah menjadi guru

Setiap hari berteriak hingga serak

Di telinga yang tidak semua mengharapkanmu

Mereka ingin kau tak ada

Karena itu cukup membuat mereka bahagia

Biarkan mereka bebas bercanda

tanpa harus terpaku menatapmu memuntahkan kata

Jam kosong adalah impian. Jam kosong adalah kemerdekaan

 

Biarkan mereka bermain gawai. Gim mereka belum usai

Biarkan mereka mabar. Pembelajaranmu terasa hambar

Apapun materinya, permainan mereka lebih memesona

Urusi saja cicilan dan berasmu yang habis

Karena senyum istrimu tak lagi manis

 

Jombang, 6 Oktober 2026

 

 

Guru Dungu

Aku baru sadar muridku lebih pintar. Berkilah dan bersilat lidah.

Dengan lantang menentang pengajaran.

Ini alif ba’ ta’, kata mereka tak suka.

Aku menuntun mereka membaca a b c d, mereka asyik nyanyi reage.

Tangan mereka rupa pengendang.

Terus memukul sambil berdendang.

Mengharap aku mau bergoyang.

Mereka minta recehan bukan pengetahuan.

 

Ayo bersenang-senang, Bu. Kita karaokean.

 

Suara mereka berdengung mengisi setiap lembar telinga.

Anak-anak, baca cerita di halaman 13!

 

Pikir keri. Pikir keri. Tak tung gendang dut.

 

Mereka jadi penyakit dangdut. Sakau.

Kepala geleng-geleng sambil menunduk, mengalahkan kiai yang mendoakan kami dengan khusyuk.

Mereka semakin beringas. Ruang kelas berdisco. Kacau.

Kaki dihentak-hentak, meja digebrak-gebrak.

Gulungan buku menjelma microfon.

Menyerukan suara sumbang penuh kebebasan.

Mulut mereka menjelma moncong serigala.

Yang siap mencabik gurunya.

 

Kerjakan PR ini nanti malam, ya! Besok kita bahas!

 

Kami tidak mau itu, Bu. Mana sempat.

Sepulang sekolah kami menghuni warung wifi.

Soal-soal Ibu seperti peluru yang menghantam otak kami. Mana tahan. Game dan video lebih menggairahkan.

 

Besok saya tes hapalan kalian satu per satu!

 

Sudahlah, Bu. Untuk apa menghapal rumus-rumus. Toh, ayah ibuku tak mengurus. Mereka sibuk. Ayah mencarikanku ibu baru. Sedang ibu yang melahirkanku, asyik dengan pria yang terpesona gincunya.

 

Aku baru sadar muridku memang lebih pintar

: dan tegar.

Jombang, 1 November 2018

 

Malam Jumat

sudah kah kau datang, Pak? Mengetuk dan minta dijamu

ada buku yasin dan tahlil di almari

dengung mengaji saat dulu di TPQ

washilah kepada nabi yang terhenti

sedang kami ramai di depan tivi

 

sudah kah kau pulang, Mak? Memanggil anakmu

mulut kami kaku menyahut dengan barzanji

namun luwes bernyanyi

diba’ yang pernah kau ajarkan

rawi dan nadhomnya berlarian

 

sudah kah kalian duduk, Pak? Mak?

sampai malam berhamburan

doa-doa lenyap dan mangkir

tak ada yang bisa dibawa

untuk membujuk munkar nakir

 

 

apakah kalian sudah pergi? Mengurai tangis

menderaikan sesal beranak kami

memakan semua yang kalian miliki

namun acuh bakti dan budi

 

Malulah kalian, Pak! Mak!

pada malaikat yang telah menunggu

 

Plosogenuk, 24 September 2019

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!