Seingat saya, sejak pandemi melanda Ibu Pertiwi, kegiatan onliniyyah menjadi semakin lazim dalam kehidupan kita. Sekolah, kuliah, rapat, seminar, bahkan berbagai urusan yang sebelumnya mengharuskan kita keluar rumah, perlahan bisa dilakukan dari depan layar.
Awalnya, semua itu mungkin terjadi karena keadaan. Mau tidak mau, kita harus beradaptasi. Kampus tutup, kelas dipindahkan ke Zoom atau Google Meet, sedangkan tugas dikumpulkan secara daring. Seiring berjalannya waktu, pandemi memang berlalu, tetapi kebiasaan tersebut tidak ikut hilang. Kuliah online tetap berjalan dan, bagi sebagian orang, justru menjadi pilihan yang cukup masuk akal.
Saya sendiri melihat kuliah online dengan perasaan yang agak campur aduk. Di satu sisi, tentu ada kekurangannya. Namun, jika ditanya apakah sistem ini membantu, jawabannya juga iya. Terlebih ketika berada dalam rentang usia 18–35 tahun, masa yang kerap dikaitkan dengan istilah quarter-life crisis.
Pada usia seperti itu, kadang kita merasa sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak hal yang memenuhi pikiran, mulai dari pekerjaan, masa depan, uang, keluarga, pendidikan, hingga hubungan dengan orang lain. Bahkan, muncul pula pertanyaan sederhana tentang sebenarnya kita ini mau menjadi apa.
Sementara itu, teman-teman sudah memiliki jalan masing-masing. Ada yang telah bekerja, menikah, melanjutkan pendidikan, atau membangun usaha. Sebagian lainnya mungkin belum mencapai hal-hal tersebut, tetapi setidaknya terlihat sibuk menjalani kehidupannya.
Di tengah keadaan itu, kita mungkin masih sibuk mencari arah.
Bukan berarti setiap hari mengalami depresi atau tidak ingin melakukan apa-apa. Hanya saja, ada masa ketika melakukan aktivitas di luar rumah terasa lebih berat daripada biasanya. Pergi ke kampus, menempuh perjalanan, bertemu banyak orang, mengikuti kelas berjam-jam, lalu pulang kembali membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
Oleh karena itu, kuliah online bisa menjadi alternatif yang cukup membantu.
Kita tidak perlu pergi ke mana-mana. Cukup membuka laptop dari rumah, masuk kelas, mendengarkan dosen, mengerjakan tugas, lalu selesai. Bagi orang yang sedang enggan keluar rumah, sistem ini bisa menjadi jalan keluar. Setidaknya, masih ada kegiatan yang dapat dilakukan, alasan untuk bangun dan membuka laptop, serta sesuatu yang sedang diperjuangkan. Yang paling penting, pendidikan tetap bisa dilanjutkan.
Bagi saya, inilah salah satu hal menyenangkan dari kuliah online. Sistem ini seolah memberikan kesempatan kepada orang yang sedang tidak terlalu siap menghadapi kehidupan untuk tetap berjalan pelan-pelan. Kita tidak harus langsung berlari. Terkadang, berjalan terlebih dahulu sudah cukup.
Selain membantu orang yang sedang mencari arah hidup, kuliah online juga memungkinkan kita melakukan beberapa kegiatan sekaligus. Kita bisa bekerja, mengurus organisasi, menulis, atau menjalankan aktivitas lain sambil tetap kuliah.
Memang, semuanya membutuhkan pengaturan waktu yang baik. Meskipun demikian, setidaknya kita tidak harus selalu memilih salah satunya. Berbeda dengan kuliah tatap muka yang mengharuskan kita datang ke kampus, sistem daring memungkinkan kegiatan belajar dilakukan dari rumah.
Belum lagi, ada perjalanan yang harus ditempuh, biaya transportasi yang perlu dikeluarkan, dan waktu yang habis di jalan. Dengan kuliah online, berbagai hal tersebut bisa dikurangi. Semembantu itu.
Bahkan, saya pernah berpikir bahwa kuliah online ini agaknya seperti ilmu super. Bagaimana tidak? Orang melihat kita setiap hari di rumah. Tidak pernah kelihatan pergi ke kampus ataupun membawa tas berisi buku. Kita juga tidak terlihat duduk di kelas. Namun, tiba-tiba beberapa tahun kemudian sudah punya gelar.
“Eh, kok sudah selesai?”
“Ya, kuliah.”
“Di mana?”
“Online.”
Selesai.
Tentu saja, perjalanan sebenarnya tidak sesederhana percakapan tersebut. Di balik fleksibilitasnya, kuliah online tetap memiliki sejumlah persoalan yang perlu diperhatikan.
Salah satu persoalan yang paling sering muncul adalah jaringan internet. Masalah ini mungkin terdengar sepele, tetapi bisa sangat mengganggu ketika terjadi di tengah diskusi. Suara dosen terdengar putus-putus, mahasiswa kesulitan menyampaikan pendapat, atau layar tiba-tiba membeku ketika perkuliahan sedang berlangsung.
Akibatnya, proses belajar tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Padahal, salah satu hal penting dalam pendidikan tinggi adalah diskusi. Kita tidak hanya datang untuk mendengarkan dosen berbicara, tetapi juga perlu bertanya, menyampaikan pendapat, membantah argumen, serta mendengarkan pandangan orang lain.
Melalui proses tersebut, kita belajar mempertimbangkan kembali pendapat sendiri, baik untuk mengubahnya maupun mempertahankannya dengan alasan yang lebih kuat. Sayangnya, interaksi semacam ini terkadang kurang maksimal ketika pertemuan hanya dilakukan melalui layar.
Meskipun demikian, bukan berarti diskusi online tidak bisa berjalan dengan baik. Dengan jaringan yang memadai, pengelolaan kelas yang tepat, dan partisipasi aktif mahasiswa, proses pembelajaran tetap bisa berlangsung secara efektif. Hanya saja, ada tantangan tersendiri yang perlu diatasi bersama.
Selain persoalan teknis, ada hal lain yang menurut saya tidak kalah penting, yaitu adab kepada dosen.
Kuliah online membuat interaksi antara mahasiswa dan dosen terasa lebih santai. Dalam kondisi tertentu, kedekatan akademik pun terasa kurang terbangun. Bahkan, jika tidak disikapi dengan baik, hubungan tersebut bisa kehilangan rasa hormat yang semestinya dijaga. Persoalan ini terutama terasa ketika memasuki masa bimbingan.
Menghubungi dosen melalui WhatsApp memang mudah. Namun, kemudahan itu terkadang membuat kita lupa bahwa orang yang dihubungi tetaplah seorang dosen yang perlu dihormati. Akibatnya, pesan yang seharusnya bisa ditulis dengan baik justru dikirim seadanya.
“Pak, bisa bimbingan?”
Atau bahkan lebih pendek lagi:
“Pak, kapan?”
Tidak jarang pula kita lupa memberi kabar ketika tidak bisa menghadiri pertemuan. Terlambat mengikuti jadwal bimbingan pun terkadang dianggap biasa karena semuanya dilakukan dari rumah.
Saya sendiri pernah melakukan hal semacam itu. Dampaknya, hubungan saya dengan dosen pembimbing sempat tersendat, bahkan sampai pada situasi yang cukup krusial. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa kuliah online boleh mengubah tempat kita belajar, tetapi tidak seharusnya mengubah adab kita.
Dengan kata lain, kemudahan berkomunikasi secara digital tetap harus diimbangi dengan etika. Kita perlu memperhatikan pilihan kata, waktu menghubungi dosen, serta kesediaan untuk memberi kabar jika ada kendala. Bagaimanapun juga, kesopanan tidak bergantung pada apakah kita bertemu secara langsung atau melalui layar.
Masalah lain yang tidak kalah nyata adalah kedisiplinan. Kuliah online memang menawarkan fleksibilitas, tetapi fleksibilitas tersebut bisa menjadi keuntungan sekaligus jebakan.
Karena tidak harus datang ke kampus, kita merasa memiliki banyak waktu. Selain itu, kelas yang bisa dilakukan dari rumah membuat kita berpikir bahwa tugas masih dapat dikerjakan nanti. Ketika dosen tidak bertemu langsung dengan kita, dorongan untuk segera menyelesaikan sesuatu terkadang terasa lebih kecil. Akhirnya, pekerjaan pun ditunda.
Besok.
Lusa.
Minggu depan.
Sampai akhirnya kita menyadari bahwa yang sebenarnya kurang bukanlah waktu, melainkan kemauan untuk mulai mengerjakan sesuatu.
Inilah salah satu bagian tersulit dari kuliah online. Kita dituntut untuk mampu mengatur diri sendiri tanpa selalu bergantung pada pengawasan orang lain. Jika tidak disiplin, kuliah bisa berlangsung jauh lebih lama dari yang seharusnya.
Di sisi lain, ada mahasiswa yang lebih cocok dengan suasana kampus karena lingkungan tersebut membuatnya terbiasa belajar. Mereka memiliki teman untuk berdiskusi, dosen yang bisa ditemui secara langsung, serta jadwal yang mendorong mereka datang dan menyelesaikan tugas.
Sementara itu, suasana rumah menghadirkan godaan yang berbeda. Laptop memang terbuka untuk kuliah, tetapi tab sebelah justru berisi YouTube. Niatnya membaca jurnal, tetapi tiba-tiba malah membuka Instagram. Mau mengerjakan tugas, tetapi kasur terlihat jauh lebih meyakinkan.
Karena itu, kuliah online membutuhkan kesadaran dan pengendalian diri yang baik. Kita perlu membangun rutinitas, menentukan prioritas, serta membedakan waktu untuk belajar dan beristirahat. Tanpa kebiasaan tersebut, fleksibilitas yang semula membantu justru bisa membuat proses belajar berantakan.
Pada akhirnya, kuliah online tidak bisa dinilai sepenuhnya baik atau buruk. Sistem ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, bergantung pada kebutuhan, kondisi, dan kedisiplinan orang yang menjalaninya.
Bagi saya, sebagai alumni kuliah online dari salah satu kampus di Jakarta, manfaatnya terasa cukup besar. Dalam keadaan tertentu, sistem ini memberikan kesempatan untuk tetap belajar ketika kita sedang tidak terlalu sanggup menjalani aktivitas seperti biasanya.
Terutama bagi orang yang masih mencari arah hidup, kuliah online bisa menjadi salah satu cara untuk terus melangkah tanpa harus memaksakan diri melakukan semuanya sekaligus. Setidaknya, kita masih memiliki sesuatu yang sedang diperjuangkan.
Meskipun demikian, kita perlu memahami bahwa gelar tidak serta-merta menyelesaikan persoalan hidup. Setelah lulus, belum tentu semuanya menjadi jelas. Kita masih bisa bingung soal pekerjaan, uang, masa depan, dan berbagai hal lainnya.
Namun, setidaknya ada satu hal yang bisa kita katakan kepada diri sendiri: kita masih bergerak. Walaupun pelan, walaupun dari rumah, dan walaupun terkadang kuliah sambil rebahan.
Mungkin itulah yang paling saya sukai dari kuliah online. Bukan karena sistem ini selalu mudah, melainkan karena ia memberikan kesempatan kepada kita untuk tetap melanjutkan sesuatu ketika hidup sedang terasa berat.
Tentu saja, kesempatan itu harus diimbangi dengan tanggung jawab. Jangan sampai karena semuanya bisa dilakukan dari rumah, kita justru tidak melakukan apa-apa. Sebab, fleksibilitas hanya akan bermanfaat jika kita mampu menggunakannya dengan bijak.
Seseorang mendapatkan gelar bukan semata-mata karena kuliahnya berlangsung secara online atau offline. Bagaimanapun juga, tetap ada tugas yang harus dikerjakan, buku yang harus dibaca, dosen yang perlu ditemui, penelitian yang harus diselesaikan, dan kemauan untuk bertahan sampai akhir.
Jadi, jika ada yang bertanya apakah kuliah online itu menyenangkan, saya mungkin akan menjawab: iya, dalam beberapa hal.
Apakah mudah? Belum tentu.
Apakah efektif? Tergantung pada orang dan keadaannya.
Lantas, apakah kuliah online bisa membantu seseorang yang sedang mengalami quarter-life crisis? Bagi saya, iya.
Setidaknya, kita masih punya alasan untuk membuka laptop dan berkata kepada diri sendiri:
“Ya sudah, kuliah dulu saja.”
Adapun soal hidup mau dibawa ke mana, kita tetap perlu berusaha semaksimal mungkin. Pendidikan memang bukan jaminan bahwa semua persoalan akan selesai, tetapi bisa menjadi salah satu bekal untuk melangkah menuju masa depan.
Kita mungkin belum tahu akan berlabuh di mana. Namun, selama masih mau belajar dan berusaha, setidaknya kita tidak berhenti berjalan.
Alumni salah satu universitas di Kota Kairo. Tertarik pada kajian-kajian keislaman dan kebudayaan.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!