Tubuh perempuan seringkali dikenali, dicoba dipahami, lalu berulang-ulang dibingkai dari kacamata realitas. Sebagian darinya gagal dipahami, sebagian lainnya terus menerus melakukan perlawanan. Kita diajak memahami bahwa tubuh perempuan kerap tidak lagi jadi milik empunya. Ia menjadi objek dan sasaran dari apapun di luar dirinya.
Kumpulan esai tutur karya Feby Indirani Tubuh yang Tumbuh meletakkan tubuh perempuan sebagai medium penting kehidupan. Tulisan-tulisan di dalamnya memuat refleksi terang tentang tubuh dan bagaimana tubuh itu merespons dinamika sejak kelahiran hingga penghujung usia.
Di dalam buku ini, tubuh diinsisi lapis demi lapis. Pembaca dikenalkan dengan anatomi perempuan yang sesungguhnya tidaklah asing.
Menjadi asing dan terasa baru ketika bagian-bagian tubuh yang telah lama ada itu menyimpan makna, peristiwa, dan pengalaman kolektif yang selaras.
Struktur tubuh seperti kulit, pembuluh darah, jaringan saraf, dan hormon yang beredar, tidak sekonyong-konyong dihadapkan pada pembaca.
Lebih dari itu, Tubuh yang Tumbuh memenuhinya dengan beragam isu yang sebenarnya tidak cukup dipaparkan dalam 130 halaman saja. Feby Indirani menguraikan tubuh perempuan yang kompleks dengan jujur dan hangat.
Di balik panggung megah anatomi, kita dituntun pada panggung belakang yang lebih kecil dengan sorot cahaya temaram. Di sana, tubuh kita dibicarakan dengan hormat tanpa menjustifikasinya. Tubuh bukanlah selongsong kosong, melainkan ruang yang terus menerus berbicara.
Apa yang dibicarakan sebetulnya tidak sepenuhnya baru, namun seringnya terkubur begitu saja dan tidak sempat dibicarakan dengan lantang. Di sini, suara tubuh perempuan bergaung melampaui selongsongnya.
Feby Indirani membicarakan bagian-bagian tubuh perempuan: buah dada, vulva, rambut, dan selaput dara. Masing-masing dibidik dengan tajam, mengetuk hati tiap pembaca. Perempuan seperti bercermin dan lelaki tidak ubahnya terus belajar bagaimana cara bersikap.
Dalam nukilan berjudul ‘buah dada’, Feby menulis demikian ‘Ia adalah buah kehidupan yang memberi makan peradaban. Ia adalah cerita panjang tentang rasa nyeri yang hadir bersama pertumbuhan’. (2026: 25)
Perempuan pasti akrab dengan rasa nyeri yang datang bersamaan dengan kali pertama tumbuhnya payudara (breast budding). Tak berselang lama, anak perempuan belajar memakai miniset (training bra). Payudara terus tumbuh.
Beranjak dewasa, perempuan disibukkan memilih bra berdasarkan jenis dan ukurannya. Perempuan kemudian terbiasa dengan rasa nyeri yang menyertainya. Payudara bengkak menjelang menstruasi, puting lecet saat menyusui, hingga rasa ngilu yang muncul selama masa perimenopause.
Tak jarang, payudara dibingkai layaknya ornamen yang dikonsepsi sedemikian rupa. Harus sempurna, dikatakan lebih baik jika sesuai dengan standar yang sebenarnya fana. Tak banyak dari kita mengetahui, bagian tubuh ini pun pada kebanyakan perempuan tercipta tidak simetris dan tidak ada yang salah dengan itu.
Payudara jelas pantang dikerdilkan dari sudut pandang seksual saja. Ia hadir lengkap dengan faal yang agung dan sunyi bernama menyusui. Di balik puting dan aerola yang mudah dihakimi, air susu seorang ibu lebih dahulu diproduksi dalam kelenjar bernama lobulus untuk kemudian disalurkan melalui duktus. Ada gentong-gentong peradaban yang tercipta di balik piciknya objektifikasi yang lagi-lagi hanya membahas soal ukuran, warna, maupun bentuk.
Melalui nukilan berjudul ‘vulva’, Feby menyoroti betapa banyak dari kita mengenal vagina sebagai bagian tubuh dalam proses reproduksi. Padahal, organ reproduksi perempuan bagian luar juga terlibat dan punya fungsinya sendiri. Organ itu bernama vulva. Vulva membawa bagiannya sendiri, seperti lapisan kulit, jaringan lemak, serta ujung-ujung saraf.
Dalam potongan berjudul ‘selaput dara’, kita lagi-lagi diajak mengkritisi konsep keperawanan yang disimbolkan dengan keutuhan satu lapisan membran mukosa, hymen. Menariknya, secara anatomi, hymen justru memiliki berbagai variasi normal.
Dalam anatomi, kita mengenal hymen berjenis annular, crescentic, septate, dan cribriform. Lubang pada hymen justru berfungsi sebagai jalan keluar darah menstruasi dan cairan lainnya. Hymen yang robek atau meregang tidak semata-mata akibat aktivitas seksual belaka. Tidak jarang hal itu terjadi akibat olahraga, cedera, dan berbagai kondisi lainnya.
Menyoal objektifikasi dan kelanggengan mitos tentang selaput dara ini, Feby dengan cakap menyindir demikian, ‘Kita tahu kuku kuasa yang sebenarnya mencengkeram tubuh perempuan adalah gagasan tentang keperawanan. Sebuah cerita yang telah berabad-abad ditanamkan pada tubuh perempuan-agar tubuh itu bisa dikendalikan, dinilai, dan diserahkan.’ (2026: 30)
Dalam banyak hal, rambut menjadi salah satu struktur anatomi yang berkelindan erat dengan otonomi tubuh itu sendiri. Rambut menjadi lokus kontrol sosial, sasaran relasi kuasa yang kerap tidak disadari. Dalam tulisan berjudul Politik Tubuh Perempuan Antara Kontrol Sosial dan Resistensi, Swastini mencatat bahwa tubuh perempuan menjadi medan artikulasi berbagai kekuasaan, mulai dari negara, agama, hingga media.
Berbagai spektrum kuasa mengontrol tubuh perempuan dengan polanya masing-masing. Feby menuliskan fakta pahit berikutnya ‘Tak ada rambut yang lebih sering jadi target pertama kekuasaan, selain rambut perempuan’. Ia lalu mengurai berbagai contoh kontrol kuasa terutama dari medium negara dan agama. ‘Di Iran, Mahsa Amini tewas dianiaya polisi moral karena dianggap tak cukup rapi menutup rambutnya’. (2026: 28)
Contoh nyata dari Iran ini seketika memutar ulang ingatan saya tentang sinema Iran. Di sinilah, saya kemudian menyadari betapa film-film Iran yang begitu sederhana dan memukau, masih harus beradu dengan negara dalam membentuk persona karakter perempuan di depan kamera.
Ali Farahmand dalam artikelnya di laman Indiewire, menyoroti karakter yang memakai headscarf bukan lagi representasi murni perempuan Iran, melainkan bentuk represi yang terwujud dalam bahasa visual. Ini adalah contoh bagaimana tubuh dikontrol penuh oleh tiga medium tadi: negara, agama, dan media.
Ironisnya, tubuh yang berjarak dari otonomi ini tidak mengijinkan ruang diskusi. Kuasa itu hadir mandatori. Bahkan, tak jarang membawa serta konsekuensi fisik dan sosial. Bukan lagi gagal mendapatkan jawaban atas nalar kritis, perempuan masih saja dibungkam, dipatutkan, sampai lupa bahwa sebenarnya ia punya pilihan dan berhak mengajukan pertanyaan.
Melalui potongan demi potongan esai tuturnya, Tubuh yang Tumbuh menetaskan pertanyaan berikutnya. Tubuh perempuan ini lantas milik siapa?
Bagian kedua buku ini secara khusus diberi tajuk ‘Tubuh yang dikendalikan’. Tentu bukan tanpa sebab. Feby membincangkan kepatuhan yang diajarkan pada perempuan. Caranya bervariasi mulai dari hegemoni, manipulasi, ancaman, dan kekerasan. Tubuh perempuan juga kerap ditakar dan dihakimi sembarangan.
Taruhlah ketika perempuan menjadi korban kekerasan atau pelecehan, justru tubuh perempuan yang lebih dahulu dipersalahkan.
Dalam bagian kelimanya, Tubuh yang Tumbuh mengurai ambivalensi perempuan terkait pilihan-pilihan hidupnya. Bisa kita cerna sebagai upaya resistensi terhadap kontrol kuasa dan bagaimana perempuan tetap berdaya. Pembaca diingatkan, perempuan seharusnya tidak dirangkum berdasarkan satu label saja.
Menikah atau tidak menikah. Lajang atau janda. Memiliki anak atau tidak memilikinya. Menyusui atau memberikan susu formula. Mengurus anak atau berkarir.
Dikotomi identitas ini seringkali dijadikan pijakan bagi orang lain untuk menilai dan memberi peringkat. Di era modern sekalipun, masyarakat begitu cepat melabeli perempuan berdasarkan pilihan hidupnya. Pemikiran sempit ini mengasosiasikan suatu pilihan pada stereotipe yang dapat dengan cepat berkembang menjadi stigma serampangan.
Sungguh sebuah perjuangan bagi perempuan untuk sekedar mewujudkan otonomi tubuh mereka sendiri.
Dalam perjalanannya, tubuh perempuan lantas menjadi ambigu. Tidak lagi bersifat personal dan privat, namun juga dikonstruksikan oleh kekuasaan yang lebih besar.
Benedicta dalam tulisan berjudul Dinamika Otonomi Tubuh Perempuan: Antara Kuasa dan Negosiasi atas Tubuh membahas komodifikasi tubuh perempuan serta bagaimana otonomi atas tubuh perempuan meresponsnya. Dapat dilihat bahwa ketika perempuan tidak mampu menentukan arah atas tubuhnya, di titik itu pula tubuh perempuan telah menjadi komoditas, bergeser pelan dari polaritas subjektifikasi menjadi objektifikasi.
Selain dua topik besar yang terurai di atas, anatomi dan otonomi, saya sengaja mengikutsertakan sekilas mengenai kebingungan anak perempuan. Saya lalu membayangkan jika suatu hari ada sekumpulan anak perempuan menuntut jawab perihal kebingungan mereka selama masa pubertas. Dalam cerita ‘haid pertama’, Feby Indirani menjadi salah satu dari anak kecil itu.
‘Darah menstruasiku terbit pada usia sebelas. “Kau terlalu cepat dewasa,” ujar Ibu tersamar sesal pada suaranya.’ (2026: 14)
Uraian berikutnya mengikuti pengalaman Feby yang kebingungan merespons momentum haid pertama. Banyak pertanyaan berputar di kepala yang kemudian terpaksa disimpan sendiri. Nyatanya, memori tentang perkataan sang ibu seakan abadi.
‘Bertahun-tahun setelahnya, aku masih mencoba memahami kalimat itu: kau terlalu cepat dewasa. Seberapa lama seharusnya seseorang menjadi kanak-kanak? Apakah menjadi terlalu cepat dewasa adalah salahku? Apakah aku seharusnya bisa menahan laju waktu? Mengapa? Bagaimana?’
Dalam perjalanan panjang tubuh perempuan, seorang anak harus melewati berbagai momentum asing. Selain pertumbuhan payudara, haid pertama (menarche) menjadi penanda dalam masa transisi itu. Menariknya, pengalaman menarche ini senyap sekali. Kebingungan rasanya jamak, tetapi pengungkapannya subtil.
Ada banyak anak perempuan yang tidak menerima pengetahuan tentang tubuh. Banyak yang tidak siap, terkejut, dan bingung. Kemudian ketika ingin bertanya, mereka justru dijejali petuah-petuah praktis. Orang dewasa kerapkali abai pada psikis sang anak yang sedang bergejolak menerima perubahan.
Anak perempuan ini bisa jadi adalah saya. Juga kalian, para pembaca perempuan. Bagi pembaca laki-laki, anak itu bisa jadi adalah saudara perempuanmu, atau bahkan ibumu.
Celah inilah yang semestinya diperbaiki dengan pendidikan seks usia dini. Anak disiapkan untuk bertumbuh dan mengenali tubuh. Pendidikan seks usia dini bukanlah medium informasi soal tubuh saja, melainkan juga usaha preventif menghadapi maraknya kasus kekerasan dan eksploitasi.
Di dalamnya, anak diajarkan mengenai sebutan organ tubuh secara terang dan jelas, bagian tubuh mana yang bersifat privat, dan cara-cara melindungi diri dari paksaan.
Bagi orang tua, pengetahuan tubuh perempuan amat penting dalam perannya sebagai ruang aman bagi anak. Tanda pubertas, onset, perubahan fisik dan psikis selayaknya dipahami supaya pengalaman anak perempuan terkait tubuhnya tidak lagi terasa menyeramkan dan membingungkan.
Selama membaca isu serupa, saya menemukan panduan menarik tentang menstruasi dari UNICEF. Isi panduan ini adalah bagian dalam Manajemen Kebersihan Menstruasi. Di dalamnya, menstruasi dijelaskan dengan istilah yang mudah dimengerti disertai ilustrasi berwarna cerah.
Menariknya lagi, alih-alih untuk anak perempuan saja, panduan ini juga memberikan informasi bagi anak laki-laki di bagian akhirnya. Anak laki-laki kemudian belajar bahwa menstruasi adalah siklus fisiologis perempuan, menghormatinya, dan bahkan dapat menawarkan bantuan jika diperlukan.
Semoga suatu hari kelak, tidak ada lagi anak perempuan yang merasa asing dengan tubuhnya, tidak lagi merasa ditinggalkan dan sendirian. Anak berhak mendapatkan rasa aman dan nyaman ketika tubuhnya bertumbuh.
Bagi saya, tidak ada satu kata yang tepat untuk membingkai Tubuh yang Tumbuh. Buku ini menghadirkan pengalaman perempuan, secara berani membawanya ke permukaan, dan menuturkannya dengan lembut. Selain meresapi tulisan-tulisan Feby Indirani di dalamnya, mata pembaca juga akan dimanjakan oleh ilustrasi menawan dari Aprilia El Shinta. Kolaborasi serasi ini berhasil menambahkan nyawa pada tulisan, menjadikannya semakin imajinatif sekaligus eksploratif.
Referensi:
Indirani, F. (2026). Tubuh yang Tumbuh. Yogyakarta: Indonesia Tera.
Swastini, N. L. M. E., Erviantono, T., & Noak, P.A. (2025). Politik Tubuh Perempuan Antara Kontrol Sosial dan Resistensi. Socio-political Communication and Policy Review Vol 2 No 3.
Benedicta, G. D. (2011). Dinamika Otonomi Tubuh Perempuan: Antara Kuasa Negosiasi atas Tubuh. Masyarakat, Jurnal Sosiologi: Vol 16: No 2 Article 2.
Farahmand, A. (2025). Does Iranian Cinema Construct Its Own Cinematic Veil for Women? Pulling Back Hijab in Recent Films. Indiewire.
UNICEF. (2017). Apa Itu Menstruasi. (https://www.unicef.org/indonesia/sites/unicef.org.indonesia/files/2019-05/MHM-ComicBook.pdf).
Part-time writer, full time-doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano. Instagram @mariamonataliani
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!