Saya membuka Bumble, membaca pesan dari seorang perempuan yang baru saja match dengan saya, dan tanpa sengaja merusak lagi momentum percakapan pembuka itu.
Dia membukanya dengan:
“Dorrr”.
Ini kali kedua saya menemui pesan pembuka seperti itu.
Beberapa waktu sebelumnya, saya menemukan pesan serupa dari perempuan yang berbeda. Dia menulis dengan sedikit variasi:
“Duarrr. Kaget nggak bang?”
Saya spontan membalas:
“Enggak, sih. Tapi kalau cuma ‘duarr’ doang tanpa ditanya seperti itu, mungkin aku kaget. Coba diulang.”
Kemudian, dia menghilang.
Tentu saja, saya tidak tahu apakah dia benar-benar menghilang karena jawaban saya. Bisa jadi dia sedang sibuk. Mungkin juga mendapatkan match lain.
Namun, bagaimanapun juga, tampaknya saya memang telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan seseorang ketika baru berkenalan di dating app: membedah lelucon pembuka sebelum sempat ikut tertawa.
Pada perempuan sebelumnya, balasan saya tampaknya menghasilkan efek yang kurang lebih sama. Bedanya, kali ini dia masih membalas.
“Aku perlu kaget nggak?” tanya saya.
Jawabannya datang begitu cepat sampai ia salah mengetik:
“Nggak uah. Nggak usah. Alay.”
Percakapan itu praktis sudah selesai sebelum sempat benar-benar dimulai.
Saya tidak membalasnya lagi.
Sejak awal, percakapan tersebut memang sudah agak meleset. Setidaknya, dari pihak saya. Mereka tampaknya mengajak saya bermain di jalur percakapan yang sudah mereka bentangkan. Pesan pembuka itu mungkin sudah sering digunakan di dating app.
Saya justru membelokkannya.
Seharusnya, mungkin, begini pola percakapan pembuka di dating app: seseorang melempar bola, lalu kita menangkapnya dan melemparkannya kembali.
Sederhana.
Tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu jauh. Apalagi sampai mempertanyakan asal-usul “Dorrr”, sejarah penggunaannya dalam kebudayaan dating app, atau apakah kata tersebut menunjukkan krisis autentisitas manusia modern.
Itu hanya semacam bola kecil yang dilempar.
Saya malah memeriksa bolanya, melihat bentuknya, memutarnya, lalu bertanya apakah bola itu memang seharusnya dilempar dengan cara seperti itu.
Dengan melakukan hal tersebut, saya seperti menolak mengikuti percakapan yang sudah memiliki cara bermainnya sendiri.
Saya pun bertanya-tanya dalam hati:
“Mengapa seseorang memilih bentuk sapaan yang tampaknya sudah digunakan banyak orang sebelumnya?”
Pertanyaan itu terdengar serius untuk sesuatu yang sebenarnya mungkin hanya dimaksudkan sebagai lelucon receh.
Namun, bagaimanapun juga, dalam banyak hal di kehidupan ini, kita memang tidak memulainya dari nol.
Kita belajar berbicara dari orang tua dan keluarga. Sementara itu, cara bercanda mungkin kita pelajari dari orang lain.
Cara menyapa atau menggoda orang yang kita sukai pun bisa jadi kita pelajari dari film, teman, media sosial, pengalaman masa lalu, dan entah berapa banyak sumber lain yang bahkan sudah tidak kita ingat.
Musik memiliki tangga nada yang berulang. Bahasa memiliki tata bahasa yang juga berulang.
Begitu pula dengan upacara pernikahan, cara berjabat tangan, hingga cara orang berkenalan. Semuanya dipenuhi pola yang kurang lebih sama.
Meski demikian, kita tidak serta-merta menganggap semuanya palsu hanya karena banyak orang melakukan hal yang sama.
Orang mengucapkan “selamat pagi” tanpa merasa perlu menciptakan ungkapan baru setiap pagi.
Kita juga tidak menganggap seseorang tidak autentik hanya karena ia mengucapkan “terima kasih” dengan cara yang sama seperti jutaan orang lain.
Lalu, mengapa saya justru begitu terganggu oleh “Dorrr”?
Apakah saya terlalu memuliakan keautentikan atau keaslian seseorang?
Atau jangan-jangan, saya memiliki semacam idealisasi tentang keaslian: bahwa percakapan yang autentik harus muncul langsung dari dalam diri seseorang, tanpa terlalu banyak dipengaruhi, dipinjam, atau dibentuk oleh pola, skrip, kebiasaan, maupun contoh yang sudah tersedia secara sosial?
Jika memang demikian, berarti saya diam-diam berharap seseorang yang baru mengenal saya sudah memiliki sesuatu yang belum pernah dikatakannya kepada siapa pun.
Seolah-olah autentisitas dapat diukur dari seberapa baru sebuah kata atau kalimat.
Padahal, seseorang baru saja match dengan kita. Ia belum mengenal kita sama sekali.
Ia belum tahu seperti apa humor kita atau di mana batas kenyamanan kita.
Apakah kita mudah tersinggung?
Apakah kita suka bercanda?
Apakah kita akan membalas “Dorrr” dengan “Kaget!”?
Atau mungkin “Dorrr balik”?
Bahkan, jangan-jangan kita malah membalasnya dengan esai panjang tentang struktur percakapan sosial.
Dalam situasi seperti itu, menggunakan sesuatu yang sudah familier justru masuk akal. Sebab, kita membutuhkan pola-pola yang sudah dikenali agar dua orang asing dapat mengetahui bagaimana sebuah percakapan dimulai.
Lagi pula, interaksi manusia sering kali memiliki semacam skrip sosial.
Dan skrip itu bukan sesuatu yang buruk.
Sebaliknya, skrip dapat membuat interaksi menjadi lebih mudah. Ia memberi dua orang yang belum saling mengenal sebuah jalur untuk berjalan tanpa harus menemukan jalan baru setiap kali bertemu.
Bayangkan jika setiap kali bertemu seseorang kita harus menciptakan cara baru untuk menyapa.
“Selamat pagi” tidak boleh digunakan karena sudah terlalu umum.
“ Apa kabar?” dianggap tidak autentik karena sudah ditanyakan jutaan orang.
“Sudah makan?” pun harus dicurigai sebagai hasil konstruksi sosial.
Kita akan kehabisan tenaga bahkan sebelum percakapan benar-benar dimulai.
Menariknya, mungkin saya sendiri sedang menggunakan skrip.
Hanya saja, skrip saya berbeda.
Orang lain menggunakan:
“Dorrr.”
Saya menggunakan:
“Kenapa banyak orang memakai pola percakapan yang sama?”
Orang lain menggunakan lelucon yang sudah tersedia.
Saya menggunakan pertanyaan filosofis yang juga sudah tersedia.
Yang satu ingin terlihat menyenangkan. Yang lain ingin terlihat berbeda.
Yang satu memakai pola yang sudah dikenal untuk memulai percakapan. Yang lain menolak pola tersebut demi mempertahankan keautentikannya.
Bukankah itu juga sebuah pola?
Lalu, mengapa saya merasa perlu mengatakan bahwa pesan pembuka yang saya terima di dating app itu kurang autentik?
Bukankah autentisitas tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada?
Nah, mungkin di sinilah saya perlu mengoreksi diri sendiri.
Saya barangkali hanya sedang membuat standar yang terdengar sok keren.
Saya berharap setiap orang yang baru mengenal saya langsung menghadirkan sesuatu yang benar-benar orisinal. Seolah-olah pertemuan pertama harus selalu melahirkan kalimat yang belum pernah diucapkan manusia sebelumnya.
Padahal, sebagian besar hubungan kita justru dimulai dari hal-hal yang klise.
“Selamat pagi.”
“Apa kabar?”
“Hai.”
“Sudah makan?”
Bahkan mungkin:
“Dorrr.”
Mungkin persoalannya bukan apakah sebuah kalimat pernah digunakan orang lain atau belum.
Barangkali, keautentikan justru tidak terletak pada kebaruan kalimat, tetapi pada bagaimana kita melanjutkan percakapan setelah kalimat itu membuka pintu.
Sebab, manusia memang tidak selalu memulai dari sesuatu yang baru.
Kita memulai dari sesuatu yang sudah ada.
Lalu, perlahan-lahan, kita membuatnya menjadi milik kita sendiri.
Penulis buku Selain Berengsek, Hidup Ini Penuh Hal Paradoks (2020). Tulisannya banyak mengangkat tema refleksi diri, spiritualitas, dan dinamika psikologis dalam kehidupan sehari-hari. Sesekali, membagikan potongan refleksi batinnya di Instagram @akimmahesa
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!