Ada satu stereotipe atau beban yang menurut saya sangat berat dan terus menempel pada aktivitas membaca buku di Indonesia, yakni buku selalu diidentikkan dengan proses menjadi pintar.
Sejak sekolah dasar, kita dibombardir dengan slogan-slogan heroik macam “Buku adalah Jendela Dunia” atau “Buku adalah Gudang Ilmu”. Efek sampingnya, membaca buku mendadak bergeser status dari sekadar aktivitas pengisi waktu luang menjadi sebuah beban moral yang sakral.
Alhasil, kalau kamu terlihat sedang memegang buku—entah itu novel, komik, atau esai populer—orang-orang di sekitarmu akan langsung merasa kalau kamu rajin, pintar, atau yang paling menjengkelkan, diberi label “sok intelektual”.
Padahal, ya, bagaimana kalau ada orang yang membaca buku karena memang suka saja dengan aktivitas membacanya? Tanpa ada beban ingin jadi ahli filsafat, tanpa ada ambisi ingin menang debat di media sosial, dan tanpa ada niat terselubung buat menaikkan intellectual capital di mata banyak orang.
Masyarakat kita punya kecenderungan merasa kalau segala sesuatu itu harus ada gunanya secara langsung dan terukur.
Kalau kamu sedang joging, kamu akan dianggap si paling sehat. Kalau kamu sering kerja lembur, kamu akan dianggap kaya raya. Dan tentu saja, kalau kamu sering terlihat membaca buku, stereotipe yang melekat adalah si anak pintar dan rajin.
Gara-gara dogma inilah, banyak orang akhirnya kapok menyentuh buku. Mereka merasa belum apa-apa sudah dibebani ekspektasi tinggi. Seolah-olah begitu selesai membaca satu buku, besok paginya mereka harus bisa menjelaskan teori relativitas Einstein atau bisa memberikan analisis geopolitik Timur Tengah saat cangkruk di warung kopi.
Padahal, membaca buku itu sejatinya sama persis dengan hobi-hobi lainnya. Ya, sekadar dilakukan saja.
Ngapain orang betah berjam-jam memancing ikan di pemancingan, padahal di pasar ikan sudah ada yang tinggal beli? Ya, karena suka sama proses nunggunya! Ngapain orang betah main game sampai subuh, padahal tidak dapat piala apa-apa? Ya, karena ketagihan sama sensasi permainannya!
Begitu juga dengan membaca. Bagi sebagian orang, membalik lembaran kertas, menikmati aroma khas buku baru, serta mengikuti jalinan kata demi kata adalah sebuah kesenangan mandiri. Pure joy. Tidak ada urusannya dengan IQ atau indeks prestasi kumulatif. Titik.
Di tengah gempuran konten durasi pendek TikTok yang membuat rentang perhatian (attention span) kita rontok serta ritme hidup yang makin lama makin ngegas, duduk diam membaca buku selama satu jam adalah bentuk melambat sekaligus recharge energi yang sangat mewani.
Saat membaca fiksi, misalnya, kita tidak sedang berambisi jadi cendekiawan. Kita cuma sedang “pindah dunia” sejenak—mengintip kehidupan karakter yang dibuat penulisnya, menikmati konflik orang lain tanpa perlu ikut terkena dampak di dunia nyata.
Itulah kenapa membaca komik atau novel itu sama nikmatnya dengan menonton film bioskop. Bedanya, yang ini versi visualnya diputar langsung di dalam kepala kita sendiri.
Kalaupun setelah membaca itu ada pengetahuan baru yang tersangkut di kepala, ya anggap saja itu bonus. Bukan tujuan utama.
Sudah saatnya kita merombak aktivitas membaca buku dari panggung kesakralan yang membosankan. Membaca tidak perlu selalu menghasilkan gelar, karya ilmiah, atau kutipan-kutipan bijak yang dipajang di caption Instagram.
Iya, sekali lagi, biarkan orang membaca buku hanya karena mereka menikmati rasanya membaca. Sudah. Itu saja. Tanpa syarat, tanpa beban moral, dan tentu saja, tanpa perlu mendapatkan stereotipe anak rajin dan pintar. Sudahlah, biarkan kami menikmati hobi dengan ketenangan.
Introvert yang baik. Tinggal di Lamongan.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!