Lirik lagu milik .Feast tiba-tiba berputar di kepala saya saat memperhatikan ruang guru di sekolah tempat saya mengajar: “Namun aku bingung kenapa ku tak pergi, aku bingung, kalian masih di sini.”
Lirik itu terasa begitu presisi menggambarkan absurditas realitas di dunia pendidikan kita hari ini. Jika kita menghitungnya dengan kalkulator rasionalitas ekonomi, profesi guru, terutama tenaga honorer dan swasta non-yayasan besar, adalah pekerjaan yang seharusnya dihindari oleh siapa pun yang ingin hidup sejahtera.
Sebab, gajinya sering kali berada di batas yang mengenaskan, jauh di bawah standar hidup layak, apalagi jika dibandingkan dengan beban kerja dan tanggung jawab moralnya.
Secara pribadi, menjadi guru awalnya adalah satu hal yang sangat saya hindari. Ada ketakutan saat membayangkan harus berdiri di depan kelas, berhadapan dengan wali murid, dan mengkompromikan masa depan finansial.
Namun, ketika nasib akhirnya membawa saya benar-benar berdiri di depan papan tulis dan berhadapan langsung dengan murid-murid, saya baru memahami muara dari semua kebingungan itu. Saya akhirnya mengerti kenapa ada begitu banyak orang yang memilih bertahan di profesi ini bertahun-tahun, meski dompet mereka terus-menerus menjerit.
Dulu, ketika saya bergelut di industri kreatif, hari-hari saya dihabiskan untuk mengejar deadline yang tidak pernah ada habisnya. Saya memeras otak dari pagi sampai malam hanya demi memuaskan revisi klien, mengejar target, atau memenuhi KPI (key performance indicator) perusahaan.
Di akhir bulan, gaji mungkin masuk ke rekening tepat waktu. Namun, ada rasa hambar yang pekat. Ada ruang kosong di dalam dada, sehingga muncul pertanyaan, “Sebenarnya untuk apa semua kerja keras ini?”, “Urep meh golek opo iki?”
Dan entah kenapa menjadi guru memberikan jawaban atas ruang kosong tersebut. Iya, ketika kita berhasil menjelaskan satu konsep rumit dan melihat binar pemahaman di mata seorang murid, ada kepuasan batin yang tidak bisa ditakar dengan lembaran uang rupiah.
Merawat dan mencerdaskan kehidupan bangsa ternyata bukan sekadar slogan usang di pembukaan UUD 1945, melainkan sebuah pengalaman spiritual yang mengisi jiwa hingga terasa penuh. Rasa pencapaian inilah yang tidak pernah saya temukan di pekerjaan-pekerjaan korporat atau kreatif sebelumnya.
Di sekolah tempat saya mengajar, saya kerap menemui rekan-rekan sesama guru yang punya rekam jejak karier cukup berwarna. Mereka adalah orang-orang yang dulunya sering berpindah-pindah pekerjaan di berbagai perusahaan swasta, mencari tempat yang “pas” untuk berlabuh.
Namun, ketika mereka akhirnya terdampar di dunia pendidikan dan mulai mengajar, perjalanan panjang itu berhenti. Mereka kerasan. Mereka memilih untuk menetap, melupakan hiruk-pikuk persaingan dunia luar yang kerap menggerus kewarasan.
Tentu saja, menjadi guru tidak lantas membuat hidup kita steril dari masalah. Konflik dengan sesama rekan kerja, dinamika dengan wali murid yang beragam tingkah lakunya, hingga tumpukan berkas kurikulum yang membingungkan tetap ada. Semua pekerjaan di dunia ini pasti membawa paket konfliknya masing-masing.
Bedanya, di dalam dunia pendidikan lelah itu terasa punya makna. Konflik-konflik itu dihadapi dalam kerangka sebuah misi yang lebih besar dari sekadar mencari keuntungan pemilik modal, yakni mendampingi tumbuh kembang manusia.
Tentu saja, tulisan ini sama sekali tidak berniat untuk meromantisasi kemiskinan atau memvalidasi ketidakadilan gaji yang dialami oleh jutaan guru di Indonesia. Kesejahteraan finansial tetaplah hak dasar yang wajib dipenuhi oleh negara dan lembaga pendidikan mana pun.
Namun, mengabaikan kenyataan bahwa ada kepuasan jiwa yang begitu tinggi di dalam profesi ini juga merupakan sebuah ketidakjujuran.
Yah, pada akhirnya, merasa bermanfaat bagi manusia lain inilah yang menjadi perangkap manis sekaligus benteng pertahanan terakhir bagi para guru. Ia adalah alasan mengapa ketika malam hari para guru mengeluhkan gaji yang pas-pasan, tetapi esok paginya tetap merapikan pakaian, tersenyum, dan berjalan menuju kelas dengan hati yang penuh.
Introvert yang baik. Tinggal di Lamongan.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!