Harta Akhir Zaman

Setiap hari, warga desa mengeluarkan uang yang bila digabung berjumlah hampir satu juta. Semua harta itu tidak mengalir ke investasi atau dana asing, tetapi ke pemilik pesantren di bagian barat desa. Hanya Parjo yang dengan akal sehat mengalirkan uang ke bosnya, walaupun ujung-ujungnya si bos juga memberikan uangnya ke pemilik pesantren tersebut.

“Bos, kalau semua uangnya dikasih pemilik pondok, saya digaji sabun colek gitu?”

“Ya sementara kau makan sabun colek, lah. Minum juga air bekas mesin cuci boleh … Sehat, lagi!” kata Bos sambil berjalan ke pesantren bersama nenek-nenek yang terkena penyakit strok, atau anak muda di sini sering menyebutnya “penyakit mati sebelah”.

Entah apa yang pemuda sekitar sini konsumsi hingga bisa berpikir demikian.

Parjo selama ini hanya melewati malam dengan menutup mata selama lima jam saja di sebuah kos kecil. Kamar mandi hanya satu, itu juga berebut sesama penghuni. Dapur juga satu, itu pun gas hijau “untuk masyarakat miskin”nya masih bunyi kalau sedikit saja diguncang.

Hari ini Parjo mencuci baju di ruko milik bosnya yang mengaku keturunan Arab itu, padahal bukan. Sebelum atau setelah bekerja, si bos melanjutkan perkuliahan di jurusan yang kalau tidak salah, jurusan Manajemen Pondok Pesantren. Entahlah apa maksudnya, Parjo tak begitu ngerti kuliah.

Bos sudah sampai di pesantren dengan lautan manusia bergulung-gulung dengan memegang lembaran uang merah dengan wajah Soekarno-Hatta di tangannya.

Segala macam salam terlempar ke segala sudut, bahkan ada yang menggunakan bahasa lokalnya sendiri. Bayi yang digendong seorang ibu pun seakan belajar mengucap salam, walau akhirnya uang-uang recehnya jatuh ke tanah.

Semua orang berkumpul seakan pagar pesantren adalah pintu keramat yang langsung menuju Tanah Suci tanpa harus menyeberangi laut menunggangi kapal atau pesawat. Lembar-lembar uang seratusan melayang tertiup merahnya senja yang akan segera berakhir.

Walau matahari baru mengintip dari balik gunung, pagar itu telah banjir oleh salam dan doa-doa. Hampir dari semua tetes lautan manusia itu melelehkan keringat dari balik baju hijau yang seperti terciprat putih-putih. Dilengkapi sarung yang membungkus urat-urat kaki, yang perlahan menahan tegaknya langkah tak beralas di atas kerikil. Tak ada bedanya jalan pesantren dengan jalan-jalan pedalaman daerah yang jauh dari pusat negara. Bisa dibilang sama seperti jalan dinosaurus memburu sesamanya.

Bos membuka amplop, menggeser tumpukan uang, lalu mengira-ngira. “Berapa pelanggan hari ini?”

“Cuma tiga, Bos. Dua ibu-ibu, satu lagi kayak orang asing pakai pakaian tertutup semua.”

“Tertutupnya kayak gimana?” Bos langsung bersila di atas tumpukan baju.

“Dia pakai gamis, sepatunya ada logo centangnya, sorbannya kayak maling ayam, dagu sampai hidungnya dibalut perban dengan sisa darah di dalamnya.”

“Kenapa kau nggak bilang saya? Itu pemilik pesantren di dusun sana, goblok! Udah salim kau?”

“Saya takut tangannya ada racun kobra. Jadi cuma sentuhan sedikit waktu dia nyerahin cuciannya.”

“Tangan mana yang dia sentuh?” Parjo memperlihatkan ujung jari telunjuk kanannya di bawah sinar mega yang menembus satu buah genteng kaca. Bos mengusap-usap lembut telapak tangan itu, sebelum telunjuk Parjo dengan cepat merasakan sebuah deretan pagar di dalam dinding.

“Ngapain, woy?!” Parjo merasa dilecehkan setelah telunjuknya tersisa lendir bau pecel bosnya.

“Biar berkah, dongo! Masa berkah diambil sendiri, gak bagi-bagi?!”

“Tadi dia juga nyenggol bagian bawah perut saya.” Bos dengan cepat berdiri dari silanya dan langsung maju ke perut Parjo.

Tak tendang pecah pala kau keparat!”

“Mas, ini berarti berapa cuciannya?”

“Semuanya pas 20 ribu, Kang.”

“Kau mau gak saya bayar 50?”

“Ya, saya kasih kembalian 30.”

“Wah kurang rukiah ini bocil. Ya kau ambil dong kembaliannya.”

“Wah, orang baik nih, Akang.”

“Tapi syaratnya kau besok datang ke pagar pesantren.”

“Ngapain, Kang?”

“Ya cari berkah dong. Kau nggak mau hidup bahagia? Punya istri bidadari surga? Punya rezeki yang nggak cuma muncul dari langit, tapi dari lubang toilet?”

“Bau tahi tuh duit. Nggak usah. Mending saya kerja dapat duit jelas.”

“Ya sudah, ambil nih 50. Pokoknya tetap datang. Kalau nggak datang, kubawa preman ke sini biar kau habis dipukuli,” lalu ia tiba-tiba berlari di antara kebun tebu yang sedang terbakar sisa-sisa tebunya.

Bos keluar dari balik ruang sebelah dan siap untuk menyisir baju dengan logam panas.

“Siapa itu tadi? Kayaknya cair nih duit.”

“Orang kemarin yang pakai sorban.”

“Mana bagian tubuh kau yang disentuh?”

“Ini setrika masih panas, loh, Bos!”

“Wahai manusia-manusia akhir zaman! Tiada harta yang dibawa mati! Bahkan harta yang kau kubur bersama mayatmu suatu saat nanti hanya menjadi santapan cacing-cacing liar! Harta yang bisa dibawa mati adalah harta yang kau sedekahkan dan menjadi amal yang berguna! Maka dari itu, agar semua uang bisa kalian tunggangi di akhir zaman layaknya kuda, kalian lemparkan ke balik pintu pagar ini! Niscaya … ”

“Hidup pemilik pondok!” semua warga layaknya memuji pemimpin tertinggi di daerahnya.

Wajah pemilik pondok itu tidak terlalu terlihat seperti biasanya, hanya saja matanya berbinar dan ia melambung tinggi diangkat santri-santrinya. Lautan manusia itu masih saja melempar merah-merah gambar orang sakral itu ke balik pagar. Santri-santri langsung memungut semua merah-merah itu seperti ayam liar melihat dedak ditabur tuannya.

Parjo semakin bingung, menganggap semua nama dan doa-doa digaungkan untuk si pemilik pondok. Sangat gemas rasanya ingin maju dan mencongkel jakun pemilik pondok itu. Ternyata Parjo hanya dibayar untuk datang dan ikut meneriakkan doa-doa, di sini doa dihargai uang.

“Padahal kan kalau doa agar kita dapat uang. Apa pemilik pondok itu doa supaya dapat uang, lalu hujan uang memenuhi gentengnya? Apakah juga karena itu dia membayar semua orang agar mendoakannya?” segala pikiran bodoh mengembun di kepala Parjo.

Sreeeet. Pintu gerbang menganga dengan decitnya. Segala jenis manusia seperti ombak ganas menerjang pantai. Anak kecil terinjak-injak, bahkan ada yang sampai isi lambungnya menyembur keluar dan terciprat ke mukanya. Tiada yang rela berdiri di barisan paling belakang, seakan-akan hanya orang-orang jahiliah yang berada di sana.

Pemimpin pondok itu berada di bawah kilau senja yang menyorot ke atap masjid. Ia berdalil bahwa dengan kekuatan doa, ia bisa terbang dirangkul lima malaikat cantik di sekelilingnya. Janggutnya mulai menembus sorbannya, bukti penuaan setelah lima tahun lalu wajahnya resmi ia tutupkan. Parjo berada paling belakang, bahkan berjarak lima orang dari barisan paling belakang yang mulai meronta dan melompat-lompat membelah barisan di depannya. Tidak peduli apakah ia jahiliah atau bukan, walau sebenarnya ia sudah lama merasa demikian.

“Wahai penduduk desa yang saya cintai! Sebentar lagi berbahagialah kalian karena kiamat akan segera turun!”

Warga sekitar semakin meronta-ronta mendengar kabar bahagia itu. 

“Maka dari itulah mari kita semua menukarkan harta dunia dengan harta akhir zaman!” suara pemilik pondok itu semakin melengking dan menutup semuanya dengan meludah ke arah depan, yang langsung disambar oleh warga yang tiba-tiba membuka mulutnya.

“Tolonglah, Parjo, kau sumbanglah beberapa juta ke pondok kami.”

“Mohon maaf, Kang, bukannya yang namanya sumbangan itu seikhlasnya? Kalau dipatok seperti ini, namanya bukan sumbangan, tapi iuran.”

“Ini untuk akhir zaman, lho. Kamu nggak mau nanti di surga saya kasih bidadari? Saya kasih tunggangan kuda emas, gak mau?”

“Udah punya aku. Udah nyumbang sapi bulan kemarin ke pondok kau untuk disembelih. Ya itu tungganganku nanti.”

“Itu gak akan kau tunggangi tanpa seizinku. Nah biar dapat izin, ini kau transfer ke rekening saya. Sudah, lah. Kalau kau gak mau, nanti santri-santri abangan saya bakal nyamperin kau.” Pemilik pondok itu hanya pergi tanpa mengucap salam.

Sebelum ia benar-benar melewati gerbang ruko, Parjo menarik simpul ujung sorban di belakang kepala pemilik pondok itu. Di situlah hutan rambut terlihat tumbuh subur di dagunya. Ada tato Arab yang memenuhi pipinya.

“Kubakar ruko kau, keparat!”

Kini pondok semakin meronta-ronta dengan uang merah berterbangan ke segala arah, seakan pesta akhir zaman sedang bergema di setiap sudut pondok. Bukan hanya warga yang berhamburan.

Anak kecil bukan lagi terinjak, tetapi juga tergilas hingga matanya keluar. Santri-santri pondok keluar semua. Mereka berhamburan memperlihatkan tangan penuh tato Arab yang membentuk angka-angka di dalam kotak-kotak. Parjo sangat mengenal tato itu karena ada satu tato yang sama di belakang punggungnya.

Parjo perlahan melangkah keluar dari gerbang pondok. Langkahnya nyata, seakan baru saja keluar dari suatu tempat di mana makna agama diputarbalikkan untuk memperkaya diri sendiri. Biarlah mereka bersama pemimpin mereka. Kini, mereka sedang merasakan neraka yang entah apakah akan mereka rasakan juga di akhir zaman.

Mereka semakin meronta-ronta. Uang-uang yang melayang tiba-tiba menjadi abu. Mereka semua meronta-ronta bersama api yang merobek kulit dan menggosongkan semua tulang manusia yang ada.

Parjo berjalan pelan sambil meremas-remas jantung pemilik pondok yang masih berdegup-degup di tangannya.

Penghuni bumi Kediri. Calon mahasiswa Universitas Islam. Umurnya 17 tahun tapi pasrah saja dibilang Gen-Z. Tidak berstatus, tidak tahu golongan darah, bermimpi menjadi Seno Gumira Ajidarma. Instagram @naskahsenja64_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!