Gondol Pacol dan Wortel Sakti
Gondol langsung meletakkan wortel itu ke giginya. Ia menatap kesal ke orang itu. Juragan.
Gondol langsung meletakkan wortel itu ke giginya. Ia menatap kesal ke orang itu. Juragan.

Tangan gempal itu meremas dada Umi dengan kasar, sampai Umi mesti menggigit bibirnya, menahan sakit. Ini jelas jenis terapi yang berbeda. Karena remasan Hanip sangat pelan dan aku tidak perlu menahan sakit. Apalagi, tangan itu menjulur dari belakang, sedangkan Hanip melakukannya dari depan.

Sampai di apartemen, ia melihat tumpukan pakaian Laras. Mereka kini hanyalah kain.

Setiap kali ia mencoba mengucapkan kata "keadilan", tenggorokannya seolah diperas oleh tangan-tangan tak terlihat. Ia memuntahkan debu hitam pekat yang segera menutupi pakaiannya yang mahal.

Minimarket ini lumayan ramai. Tak peduli siang, sore, atau malam, pengunjung berdatangan seperti tak ada habisnya. Suara AC dan decit sepatu memenuhi ruangan luas ini.

Mendengar itu, Mas Karni langsung sumringah karena istrinya akhir-akhir ini belum datang bulan.

Di lantai malam, anggur berfermentasi mengendapkan sunyi di dasar botol retak, rasanya pahit, seperti doa yang lupa alamat pulang.

Berita-berita itu menayangkan apa yang aku alami hari ini. Tentang kecelakaan, orang yang bunuh diri karena ternyata terjerat hutang dan tentang berita banyaknya bayi yang dibuang oleh para remaja.

Lagi dan lagi. Bukan wajahnya yang Nata lihat di pantulan cermin, tetapi cerita masa lalunya. Seketika, mimik wajahnya menekuk. Rasa geram menggerogotinya. Ketika bercermin, Nata seolah membuka cara pikirnya yang dulu, lukanya yang tak kunjung sembuh, dan mimpi-mimpinya yang terkubur tanpa sempat tumbuh. Di tengah pergulatan sunyi dengan pikirannya sendiri, dering gawai terdengar. Nama Daniel […]

Ferry menerima cincin itu tanpa berkata apa-apa.
