

Kebebasan warga negara kerap terkukung di bawah bayang-bayang kekuasaan. Kelihatannya sporadis, namun puncaknya muncul dalam sejarah berbagai negara. Pemberontakan Gwangju di Korea Selatan dan Peristiwa Mei 1998 di Indonesia menjadi sebagian kecil gambaran perebutan kembali kebebasan itu.
Layaknya negara-negara yang hidup dalam rezim otoriter militeristik, Taiwan juga pernah mengalami kondisi serupa. Dalam sejarahnya, darurat militer di Taiwan pernah diberlakukan oleh pemerintah Kuomintang selama empat dekade, sejak 1947 hingga 1987. Periode ini juga dikenal sebagai Teror Putih (White Terror). Selain gejolak transisi politik dan krisis ekonomi, hal ini juga dipicu oleh Insiden 228 pada 28 Februari 1947, ketika demonstrasi massa di Taipei dibalas dengan pembantaian oleh rezim yang dipimpin Chiang Kai-shek.
Sutradara Chen Yu Hsun menghadirkan A Foggy Tale, sebuah film bergenre drama yang mengambil latar waktu, budaya, dan politik pada masa itu. Alih-alih menjadi film sejarah dengan tokoh-tokoh populer, A Foggy Tale justru dikemas menjadi cerita kehidupan sederhana dari sudut pandang gadis belia. Meskipun fiksi, film ini berhasil mendekatkan penonton pada realitas sejarah bangsa yang pahit.
Fragmen cerita berputar mengikuti Yue (Caitlin Fang), gadis remaja yang tinggal di Chiayi, sebuah desa pinggiran Taiwan. Adegan awal film bergerak lambat, memperlihatkan Yue membawakan makanan untuk kakak lelakinya bernama Yun (Tseng Jing Hua), aktivis buron yang sedang bersembunyi di ladang.
Tak berselang lama, persembunyian Yun pun terbongkar. Aparat mengejar lalu menangkapnya. Pada momen terakhir ia melihat kakaknya masih hidup, Yue juga ikut dipukuli. Sebagai yatim piatu, Yue lantas pulang ke keluarga paman yang kini menempati rumahnya.
Beberapa hari kemudian, tetangga datang membawa kabar bahwa Yun telah dieksekusi. Malangnya, sang paman tidak sanggup menebus jenazah Yun di Taipei. Biaya mengambil jenazah setara dengan biaya hidup keluarga setahun penuh. Mendengarnya, Yue tidak tinggal diam. Esok harinya, Yue memutuskan pergi diam-diam ke Taipei seorang diri, bertekad membebaskan jenazah sang kakak dan membawanya pulang.
A Foggy Tale memotret dampak instabilitas negara terhadap kesejahteraan rakyatnya. Penduduk Chiayi hidup dalam garis kemiskinan. Penduduk Taipei juga tak jauh beda. Kemiskinan yang mencekik melahirkan berbagai kejahatan, seperti perdagangan orang yang diceritakan pada satu adegan. Penjaja makanan dan barang dagangan beredar, namun daya beli masyarakatnya cukup rendah. Di tengah itu, rumah judi tersembunyi gandrung menjadi sarana menghibur diri atau mencoba peruntungan.
Merunut sejarahnya, pemberontakan penduduk Taiwan di masa Teror Putih mengakibatkan puluhan ribu penduduk hilang dan terbunuh.
Usai diberlakukannya darurat militer, KMT (kuomintang, Partai Nasionalis Tiongkok) mengeksekusi penduduk yang dicurigai beraliran kiri atau yang berafiliasi dengan komunis. Warga sipil diadili secara serampangan, makna kebebasan kemudian dipertanyakan.
Adegan dibuangnya burung yang tidak sengaja terlepas di dalam gerbong kereta oleh seorang petinggi militer mudah dikenali sebagai alegori hilangnya kebebasan sipil. Warga yang melihat kesewenang-wenangan itu menunjukkan reaksi yang sama: terkejut lalu takut. Namun dari seluruh reaksi yang ada, tidak ada yang benar-benar berani melawan. Sebab, petinggi militer itu sudah lebih dulu menghardik halus dengan cara membawa seorang tawanan di gerbong yang sama.
Jika sudah begitu, siapa yang tidak jeri?
Ironisnya, hilangnya kebebasan ini tidak saja bagi mereka yang hidup, namun juga yang telah tiada. Korban eksekusi negara, keluarga yang hilang, wajah-wajah yang tidak lagi bisa tersenyum. Dalam A Foggy Tale, pembebasan jenazah Yun bukan perkara mudah. Ada harga yang harus dibayar, ada kesopanan semu yang harus diberikan, ada resistensi yang harus dijaga.
Saat Yue berujar hanya punya uang 100 untuk menebus jenazah sang kakak, seorang penarik becak sekaligus kawan bernama Chao Kung Tao (Will Or) membalas dengan cepat.
“Uang 100 hanya bisa menebus satu tangan.”
Kebebasan untuk raga yang telah mati inilah yang diperjuangkan Yue untuk mendiang sang kakak. Yue tidak memimpin perjuangan besar-besaran, pun tidak menjadi ikon atau lakon. Ia adalah ejawantah bagaimana perjuangan kecil melawan tirani itu diinisiasi dari diri dan ikatan yang paling personal: anggota keluarga.
Ruang kebebasan sipil tergerus. Yang hidup dibungkam. Sementara yang mati masih saja ditahan. Sejarah pahit ini kemudian menimbulkan pertanyaan lanjutan. Jika yang hidup bisa berjuang dan yang mati bisa diambil kembali, bagaimana jadinya dengan mereka yang bahkan tidak diketahui rimbanya?
Mengacu pada buletin KONTRAS Edisi “Melawan Lupa”, saya akan menarik isu yang sama pada sejarah negeri kita sendiri. Peristiwa penculikan dan penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998 di Indonesia nyatanya menyisakan 13 orang korban yang masih hilang dan belum dikembalikan. Di antaranya adalah Wiji Tukul. Juga ada 12 orang lain yang tiada temu.
“Tolong berikan kepastian pada kami. Jika anak-anak kami masih hidup, di mana mereka? Jika sudah meninggal, di mana kuburannya?” ucap orangtua Yadin Muhidin, aktivis yang hilang tanggal 14 Mei 1998, terakhir terlihat di Sunter.
Jika tubuh dan ruh tidak diketahui muaranya, lantas bagaimana kita memaknai kebebasan dan kemerdekaan?
Perjalanan Yue ke Taipei tidaklah mudah. Keberanian melanglang buana ke kota besar tidak cukup untuk membuat dirinya bertahan. Ada ketakutan yang menyerbak tiap kali Yue asing dengan arah, bersinggungan dengan aparat, serta inkompetensi dirinya dalam menebus sang kakak.
Dalam diri Yue yang naif itu, keberanian besar sekali porsinya. Namun, terkadang keberanian saja tidak cukup menyelamatkan seseorang. Manusia perlu menerima ketulusan orang lain untuk dapat bertahan dan terhindar dari petaka.
Kebaikan-kebaikan yang menjaga Yue muncul dari diri orang asing. Ibu penjual mie di Taipei dengan telaten menerangkan arah ke rumah duka. Seorang polisi baik juga melindungi Yue dari pukulan atasannya. Dan tentu saja dari semua orang yang pernah bersinggungan dengannya, Chao Kung Tao menjadi yang paling berjasa.
Penarik becak itu menggagalkan kejahatan perdagangan orang yang nyaris Yue alami. Seperti bayangan, Chao selalu hadir di masa-masa sulit Yue dalam perjalanannya menjemput jenazah sang kakak. Mereka berdua berbagi hal-hal yang sama dalam perjuangan: makanan, waktu, uang, dan identitas.
Dalam artikelnya berjudul “Seni perlawanan: Makin dibungkam, rakyat akan makin kuat melawan”, Wawan Kurniawan menulis bahwa ketika individu atau kelompok merasa kebebasan dibatasi secara tidak adil, mereka akan mengalami dorongan untuk melawan dan memulihkan kebebasan yang hilang. Solidaritas kolektif ini timbul dari reaktansi psikologis.
Kita barangkali akrab dengan tagar #WargaJagaWarga. Tagar ini kerap dilontarkan di masa-masa sulit: pandemi, bencana, juga perlawanan terhadap yang jahat. Alih-alih solidaritas vertikal pada penyelenggara negara, solidaritas horizontal lebih sering dihidupkan dalam ruang-ruang digital. Bantuan diberikan dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Donasi digalakkan, ibu-ibu menyediakan logistik makanan, sipil saling menjaga dengan dokumentasi kamera. Begitulah masyarakat melawan, menjadi tunggal dengan siasat yang jamak.
Nyaris di penghujung film, Yue akhirnya menemukan jasad Yun. Bukan di rumah duka seperti seharusnya, melainkan di kampus kedokteran. Sekuens kejadian ini menjadi yang paling berat bagi saya sebagai penonton. Di dalam ruangan yang gelap dan dingin, jasad Yun teronggok di kolam formalin, bersama entah berapa jasad lainnya. Situasi itu kejam dan mencekam. Namun, di sana lagi-lagi ditemukan percik solidaritas untuk Yue.
Penanggung jawab tempat itu, Wang, awalnya enggan menerima Yue sebab dianggap merepotkan. Namun setelah didorong bawahannya, Wang pun melunakkan hati. Ia memberi jalan bagi Yue untuk bertemu mendiang Yun. Wang bahkan memberikan guci secara cuma-cuma guna membawa abu kremasi Yun. Bantuan yang bagi Wang mungkin terasa kecil, sungguh meringankan beban di pundak Yue.
Chao Kung Tao memang tidak dipenjara ketika pertama kali bertemu Yue. Namun, gerak-geriknya diawasi. Perlahan kita tahu, Chao pernah dihukum akibat terafiliasi dengan mantan atasannya. Hanya butuh satu noda untuk membuat ia masuk dalam daftar.
Bagi Chao, penjara tidak hadir dalam bentuk bangunan. Penjara hadir subtil ketika ia kehilangan pekerjaan akibat kesewenang-wenangan penguasa. Penjara hadir ketika ia mendadak diancam dan ditekan aparat. Penjara hadir ketika ia tidak bisa membawa pulang jenazah kawan-kawannya dan hanya mampu menyimpan satu tulang saja.
Selain itu, ancaman penjara sebagai sistem yang mewariskan trauma juga muncul pada adegan akhir. Awalnya, saya merasa adegan rekonsiliasi antara Yue dan Chao di masa senja terlalu didramatisasi. Namun ketika saya memikirkannya ulang, saya akhirnya mengerti untuk apa adegan itu dihadirkan. Ketika Yue menyuruh Chao Kung Tao menunggunya sejenak, Chao justru diam-diam pergi sambil berkelakar seperti kebiasaannya sebagai penarik becak. Bagi saya, bagian itu bukanlah akhir yang sia-sia. Bagian itu justru menjadi yang paling menyentuh, sekaligus diperlukan.
Meski Chao bersyukur bisa bertemu kembali dengan Yue setelah terpisah sangat lama, Chao pastinya enggan menjadi “noda penanda” yang sama untuk Yue. Chao tidak ingin Yue mengalami kesulitan akibat relasi mereka. Kini penonton mengerti, hukuman penjara bagi Chao memang sudah dihabiskan, namun kebebasan tidak pernah benar-benar ia dapatkan.
Di masa kini, penjara tidak lagi berbentuk tempat, melainkan sistem dan kondisi. Eksil politik dijauhkan dari republik lantaran tidak seirama dengan rezim. Masyarakat sipil kena gebuk setelah menyuarakan pendapat. Tahanan politik kehilangan waktu dan kesempatan. Penduduk di garis kemiskinan, masyarakat adat yang terpinggirkan, serta kaum marjinal sering dikorbankan demi kepentingan oportunis. Baru-baru ini, kebakaran hutan dan lahan menjadi penjara paling kejam, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi binatang, tumbuhan, dan ekosistem lingkungan.
A Foggy Tale tidak hanya menjadi cerita penuh sejarah yang membekas bagi rakyat Taiwan. Tidak sulit bagi kita membaca masalah serupa melalui kacamata negeri sendiri. Keresahan yang sama, ketakutan yang dipelihara, serta perlawanan yang mengikutinya akan selalu ada pada setiap masa.
Di masa-masa sulit, kebebasan menjadi barang mahal. Kadang kala, ia terbelenggu dalam cengkeraman kekuasaan. Rumit untuk dimaknai bersamaan dengan berseminya teror dan ancaman. Di sela-sela kecemasan dan ketakutan itu, saya ingin mencuplik ujaran Yun kepada sang adik, sesaat sebelum ia dibawa paksa oleh aparat.
“Pada tahun 1980, aku akan menjadi pelukis. Pada saat itu, dunia akan menjadi tempat yang damai, tanpa perang. Semua orang bebas dan setara. Takkan ada yang dianiaya atau disiksa.”
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS). Kasus Penculikan dan Penghilangan Paksa Aktivis 1997-1998: Siapa Bertanggungjawab? (https://kontras.org/inilah-penculik-aktivis-1998-kasus-penculikan-dan-penghilangan-paksa-aktivis-1997-1998-siapa-bertanggungjawab/).
Kurniawan, Wawan. 2025. Seni perlawanan: Makin dibungkam, rakyat akan makin kuat melawan. The Conversation Indonesia. (https://theconversation.com/seni-perlawanan-makin-dibungkam-rakyat-akan-makin-kuat-melawan-250631).
Santosa, Iwan. 2025. Menelusuri Jejak Perang Saudara di Taiwan. Kompas. (https://www.kompas.id/artikel/perang-saudara-dan-kemarahan-rakyat-taiwan-pada-penguasa).
Part-time writer, full time-doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano. Instagram @mariamonataliani
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!