Tulisan ini merupakan arsip kegiatan Musim Mekar Selasih yang diadakan kawan-kawan Membaca Selasih.
Bagian pertama baca di sini.
Saya menulis ini ketika berada di Pati, hampir satu bulan setelah perjalanan saya dari Sumatra Barat. Namun, ingatan-ingatan tentang Selasih dan perjalanannya tentu akan selalu membekas. Lagipula, saya harus buru-buru mengosongkan memori HP saya dengan mengonversi video-video perjalanan menjadi vlog. Ya, meskipun PR dan harus melawan kemalasan dengan seribu kekuatan, namun vlog itu membantu saya mengingat perjalanan ini.
Saya memulai perjalanan dari Bukittinggi yang dingin luar biasa menuju ke Padang Panjang. Ada sedikit hal yang lucu pagi itu: kami melupakan Dilla. Padahal, bisa dibilang Dilla adalah sosok krusial dalam perjalanan kami. Yang lebih parah lagi, kami sudah berjalan sepanjang 5 kilometer dan baru mengingatnya. Sungguh kekejaman struktural~
Dari jalanan yang begitu asing, saya terus dicekoki cerita Bang Arbi. Soal masa mudanya, dan awal mula menjadi penulis. Dimulai dari perjalanannya naik sepeda dengan kakaknya, mendatangi kantor redaksi suatu surat kabar, sampai akhirnya membawa pulang sembako hasil keringatnya sendiri. Tak henti juga Dilla bercerita soal suatu bangunan lengkap dengan nama-nama tokoh di Sumatra Barat.
Mendekat ke arah Padang Panjang, jalanan semakin sempit dan berkabut. Tak mau menyia-nyiakan hal tersebut, saya buka jendela, lalu saya hirup segera udara segar kabut putih yang mejadi barang mewah buat saya yang tinggal di lanskap industri.
Seingat saya, di Jawa Barat, saya pernah merasakan kabut serupa di Bogor pada 2004 dan Pangalengan 2016. Pada tahun 2012, Karawang pernah diguyur hujan seminggu penuh seperti London. Namun tak pernah udara dan kabutnya sebegini segar. Hanya banjirnya saja di semua tempat.
Kami sampai di SMAN 1 Padang Panjang, masyarakat sekitar sering menyebutnya “Papa” kepanjangan dari Padang Panjang. Hal ini bisa dibuktikan dengan papan nama “SMAN 1 PAPA” yang terpajang tepat di tengah gerbangnya.
Begitu melewatinya, saya merasa diajak ke masa lalu (yang tak pernah saya rasakan juga, sih). Masa lalu yang kegiatannya jalan kaki ke sekolah dengan kabut yang penuh dan mengisi hidung. Memang, kabut itu membuat pandangan terbatas, tapi tak masalah. Pohon beringin tua nampak berdiri di tengahnya, dan lapangan terbuka begitu hijau. Jauh lebih hijau dari padang golf Pupuk Kujang di depan rumah saya.
Murid-murid di sini berjalan kaki, dan tak perlu Dedi Mulyadi untuk itu. Jalan yang bagus, udara yang segar, pepohonan yang hijau, sudah menjadi daya tarik sendiri untuk siswa berjalan kaki.
Saya lalu membayangkan, ini tahun saja begitu asyik dan hijau. Bagaimana nampaknya sekolah ini seratus tahun yang lalu?
Lebih dari seratus tahun yang lalu, Selasih, menginjakkan kaki di sini. Waktu namanya masih A Meisjes Normaalschool (sekolah guru perempuan, selanjutnya kita sebut MNS).
Banyak perasaan iri muncul di hati saya, berikut poinnya:
Oh, betapa menyedihkan nasib saya sebagai warga Karawang di Jalur Pantura. Sejak kecil saya hanya terbiasa dengan jalan jelek dan kecelakaan lalu lintas terus kalau mau sekolah!
Kedatangan tim Membaca Selasih disambut begitu baik oleh pihak sekolah. Runtutan acara dibuat sederhana sekaligus bermakna. Acara diadakan di tengah lapang sekolah, anak-anak SMAN 1 Papa duduk di lapangan basket. Hadir juga semua guru dan beberapa pihak dari kedinasan Padang Panjang.
Rangkaian acaranya ialah: sambutan (mengenalkan Selasih), berdoa bersama, pembacaan puisi, dan musikalisasi puisi. Tepat dan efisien. Sambutan dalam rangka mengenalkan Selasih menjadi “gerbang” masuk yang menurut saya penting. Ini hari saat semua remaja tiba-tiba doomscroll dan tidak mengenal “alumni” atau “tokoh sastra”, dalam kegiatan ini mendadak diperkenalkan “alumni” sekaligus “tokoh sastra” yang tentu bakal menjadi kebanggaan dan melekat di dalam pikiran mereka masing-masing.
“Alumni sekolah gue novelis perempuan pertama loh,” begitulah kiranya bunyi arogansi yang menyenangkan itu.
Setelah sambutan, diadakan juga doa bersama. Menarik saya pikir. Di sekolah negeri di Jawa Barat (yang mungkin lebih heterogen, maksud saya tidak hanya Islam), saya saja jarang merasakan doa bersama. Kali ini, saya merasakan doa bersama yang dipimpin oleh Wakasek SMAN 1 Papa khusus untuk Selasih.


Setelah berdoa bersama, para siswa (BTW, saya menolak menyebut siswi karena Selasih mengajarkan saya sikap menolak kelaminisasi dalam kata) SMAN 1 Padang Panjang membaca puisi. Puisi yang dibacakan yakni puisi Beringin Sakti. Setelahnya, barulah musikalisasi puisi.

Selepas itu, kami melakukan foto bersama.


Selanjutnya, saya dan tim Membaca Selasih sebetulnya pergi ke perpustakaan untuk menemukan “harta karun” Selasih, tapi sayangnya nihil. Maka, kami melanjutkan perjalanan untuk kemudian berkeliling melihat asrama putri di SMAN 1 Padang Panjang.
Oh iya, soal ini saya tidak tahu masih digunakan atau tidak, seharusnya ya saya tanya, tapi entah, saya terlalu kagum pada saat itu dengan suasana yang ada. Begitu asri sampai saya tidak bisa menihilkan “sosok” Selasih. Sebab, di lingkungan yang asri begitu, mustahil rasanya tidak melahirkan pemikir dan penulis hebat.
Maksud saya begini: lingkungan sudah pasti berpengaruh adalah iya. Sebab dengan banyaknya pohon, segarnya udara, saya yakin itu membuat Selasih merenung. Siapa yang tahu?
Bahwa mungkin saja, renungannya itu lah yang membuatnya menjadi seperti dikenal saat ini. Saya tidak bisa membayangkan Selasih jika tinggal di Karawang, apalagi kalau hari ini. Pabrik di mana-mana, hadeuh.
Sebelumnya, saya memiliki pandangan bahwa ketika satu pohon ditebang, maka akan ada satu keluarga burung yang kehilangan rumah, puluhan anak yang kehilangan pengetahuan, dan masyarakat yang kehilangan budaya. Pandangan itu diperkuat ketika saya melakukan perjalanan ini.
Ketika satu saja pohon ditebang, maka udara sejuk yang dihirup akan berkurang, dan perenung, pemikir, yang menuliskan gagasannya akan semakin sedikit. Saya rasa itu yang terjadi saat ini. Sip. Kata-kata hari ini.
Terakhir, marilah beri ruang untuk saya narsis barang sedetik. Haha.

Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!