“Aku tidak melakukan apa-apa,” ujar Warta bernada lemah, hampir seperti berbisik.
Mendengar hal itu, Karang memilih bungkam. Seketika sebuah kafe tempat mereka berada juga menyepi, meskipun gerombolan manusia membanjiri kafe itu, meskipun masing-masing telah membuat keriuhannya sendiri: ada yang memesan caramel latte, ada yang menyantap hidangan dengan kecapan serupa terompet marching band, ada yang menarik kursi hingga bunyi derit memenuhi ruangan, dan ada yang keluar-masuk pintu hingga lonceng di atasnya terus menggema.
“Aku tidak melakukan apa-apa,” kata Warta lagi, kini dengan air mata.
Karang tetap mengunci mulutnya rapat-rapat. Hanya matanya yang berbahasa, memberi tanda bahwa berita yang hendak disampaikan sebaiknya tidak setengah-setengah.
“Ia mati kau tahu?” lanjut Warta. “Ia mati!”
Biar-kah yang ia maksud?
Karang tahu soal kematian Biar. Ia mendapat berita bahwa Biar gantung diri di kamar kosnya. Ia juga mengerti bahwa Biar baru ditemukan oleh induk semangnya setelah sebulan tidak menapak tanah, setelah mendapat banyak laporan yang menyatakan Biar tidak pernah menampakkan batang hidungnya.
Karang pun paham bahwa Biar telah lama menjadi orang yang pemurung. Apalagi setelah tragedi memalukan yang menjeratnya, ketika ia menjadi pembicara di sebuah acara seminar yang membahas budaya ketimuran. Ketika itu, Biar tanpa sengaja menampilkan dalam PowerPoint sebuah foto, foto yang menangkap kemesraan Biar dengan kekasihnya di ranjang tanpa sehelai benang melekat di tubuh mereka. Semua orang tahu, mereka belum menikah.
Kemudian, malapetaka dengan cepat menjadi topik utama. Tidak hanya di kalangan peserta, tetapi juga penduduk di seluruh kota. Teknologi membuat tragedi lebih mudah menyebar, seperti tikus-tikus yang menjelma virus di dalam gorong-gorong.
Karang tahu semua. Karang tahu. Namun, ia tidak mengerti alasan Warta menceritakan sejarah yang terjadi berbulan-bulan yang lalu. Menurut Karang, tidak mungkin Warta baru mengetahui kabar kematian Biar, teman dekatnya sendiri. Tidak mungkin juga Warta tidak tersentuh sedikit pun oleh desir angin berita yang memenuhi lini masa media sosial dan menjangkit kantin-kantin kampus. Karang hanya mengira percakapan mereka tidak lebih dari Warta yang belum bisa beranjak dari suasana berduka.
“Ini semua salahku. Aku tidak melakukan apa-apa.” Warta menangkup mukanya dengan kedua telapak tangan.
Karang pun tidak melakukan apa-apa.
Setelah peristiwa memalukan itu menimpa Biar, Karang rutin menanyakan kabarnya via aplikasi pesan digital. Karang juga mengajaknya ke suatu kafe, menjemput distraksi berupa kopi. Karang menjelma bantal empuk untuk orang yang baru jatuh dari puncak pendakiannya.
Namun, Biar tidak pernah membalas pesan. Karang juga tidak ingin memaksa. Ia tidak ingin ini dan itu tanpa persetujuan orang yang bersangkutan. Tidak perlu menyalahkan siapa pun dalam hal ini.
“Tidak! Kau tidak mengerti!” tegas Warta dengan mata yang dipaksa membara meskipun sedang layu.
“Satu hari sebelum acara,” lanjut Warta dengan suara seraknya, “Biar sempat mengirimkan tautan PowerPoint kepadaku. Ia meminta kritik dan saranku untuk materi dan visual yang telah dibuatnya. Ketika itu, sebenarnya aku menyadari foto kemesraan mereka terpampang di sana. Namun, aku biarkan. Sebab aku yakin Biar lebih pintar dariku. Aku percaya Biar tidak mungkin tanpa alasan memajang foto itu di salindianya. Aku pikir dia sengaja.”
Warta menunduk. Suaranya semakin lama semakin pelan. “Ditambah lagi, kesibukanku tidak memungkinkanku untuk berlama-lama memegang ponsel. Segera saja pesannya kubalas: ‘Bagus, Biar. Semoga besok sukses, ya.’”
Karang pun menunduk, mencari kata di kaki meja yang tidak bisa ditemukan di kepalanya. Ia bimbang. Tidak mungkin ia berkata apa adanya atas hal yang diceritakan Warta. Lagi pula, rasa sesal Wartalah yang telah membawanya kepada Karang. Buat apa ia menegaskan kesalahan yang telah disadari?
Kemudian, sebelum pikiran Karang semakin menjelma persimpangan yang bercabang, Warta telah lebih dulu memberikan suatu arahan, suatu perintah. Ia hanya menginginkan suatu hal yang lebih sederhana.
Warta menambahkan, “Tidak semua orang kuceritakan hal ini. Jadi jangan beri tahu siapa-siapa, ya.”
“Ia membiarkannya mati!” ujar Karang berteriak. Ia menghidupkan api di matanya, seolah bumi akan hancur besok pagi.
Mendengar hal itu, Roman batal menyeruput es teh yang dipesan di kantin kampus, meskipun sedotan telah bersarang di ujung bibirnya. Matanya membelalak. Para mahasiswa juga menoleh ke arah meja mereka. Mungkin juga pasukan semut berhenti mengerubungi sedikit tumpahan jus kemasan di lantai demi menguping kerumitan manusia.
Sadar suaranya terlalu keras, Karang memajukan kepalanya, lalu berbisik, “Ia membiarkannya mati.”
Roman mematung. Ia tidak melakukan apapun, selain mengernyitkan dahi. Raut wajahnya seperti bingung, tetapi juga menampakkan kegeraman. Ia kesal karena waktu istirahatnya setelah kuliah yang memecahkan kepala digunakan untuk sesuatu yang berat dan sulit dipahami.
“Warta,” Karang mengambil jeda. “Ia membiarkan Biar mati.”
Roman menggeleng. Tidak ada celah baginya untuk percaya. Setahunya, Warta adalah tipikal orang yang akan turun dari motor, lalu membeli sejumlah kerupuk dari pedagang yang bersandar di tiang pilar SPBU pada malam hari. Dia bukanlah pengendara yang melaju begitu saja sehabis mengisi bensin, padahal penjual kerupuk terduduk lelah di pinggirnya. Ganjil rasanya jika seseorang datang kepada Roman dan menyatakan bahwa Warta adalah tipe yang kedua.
Terlebih lagi, fakta kedekatan antara Warta dan Biar membuat Roman semakin menganggap perkataan Karang mengada-ngada. Tidak mungkin dua orang yang selalu bersama ke pameran lukisan yang sukar dimaknai itu, atau pergi ke toko buku bekas mencari buku-buku langka, atau sekadar duduk di gazebo kampus, bisa dengan kejam mengabaikan yang lainnya. Mustahil! Kecuali ada pertengkaran hebat di antara mereka yang Roman tahu tidak pernah terjadi.
“Aku tahu. Aku tahu kau tidak akan percaya. Ini kuketahui dari Warta sendiri. Kau pasti tahu tragedi memalukan yang menimpa Biar. Sebenarnya tragedi itu bisa dicegah. Bisa dicegah.”
Roman menyeruput es tehnya yang menganggur sejak tadi.
“Jika Warta tidak mengabaikannya.” lanjut Karang dengan tatapan yang lurus.
Roman lebih khusyuk mendengarkan denting es batu di dalam gelas. Sesekali ia juga memainkan lubang sedotan, menyentilnya dengan jari telunjuk. Berita dari Karang itu dianggapnya tidak lebih dari lalat yang mengganggu selera makan.
“Dengar,” Karang menepuk-nepuk pipi Roman, “Dengarkan aku sedikit lebih lama sebelum kau menganggapku gila.”
“Sehari sebelum tragedi memalukan itu,” sambung Karang, “Biar sempat mengirimkan PowerPoint kepada Warta. Ia meminta memasukan materi yang telah dikerjakannya. Namun, Warta tidak membalasnya. Tidak memberikan catatan apa pun kepada Biar. Padahal ia sadar ada yang salah di sana. Yang Warta lakukan justru memujinya. Memujinya! Bagaimana mungkin aku tidak geram dengan perilakunya yang seolah-olah membiarkan Biar melangkah ke neraka, bahkan menyemangatinya?”
Tak!
Es teh Roman pun tumpah tanpa sengaja, tersenggol sikut pelanggan lain yang berlalu-lalang. Seisi gelas sirna perlahan, mengular di atas meja seperti keyakinan Roman yang semakin memudar. Segala pandangan Roman mengenai Warta runtuh seketika.
Manusia tidak pernah sepenuhnya baik. Roman memahaminya. Itu semua bergantung pada kepentingan yang menyeret pelaku. Namun, apa kepentingan Warta sehingga ia menyelami kejahatan yang mengorbankan teman dekatnya sendiri? Roman tidak habis-habisnya bertanya.
Kemudian, sebelum Roman selesai mendalami persoalan yang menggunung dalam kepalanya, Karang menampilkan wajah serius. Matanya memandang lurus. Roman sadar, ada yang terpendam dalam mulut Karang, seolah menanti kedua telinga Roman benar-benar terbuka lebar.
“Selain aku, hanya kau yang tahu cerita ini. Jadi jangan pernah beri tahu siapa-siapa!” titah Karang tanpa ragu.
“Kau membunuhnya?” tanya Roman sambil menyalakan rokok yang telah bersarang di mulutnya.
Warta tidak mengacuhkan pertanyaan Roman. Ia terlalu asyik menggulir video-video pendek yang terpampang di ponselnya, mengisi kehampaan akibat menunggu seorang teman di parkiran fakultas sastra. Baginya, kicauan Roman sama dengan suara mesin kendaraan, irama langkah pejalan kaki, dan bunyi angin menyentuh daun. Baginya, kicauan Roman tidak bijak jika disambut dengan serius.
Roman pun menghembuskan asap rokok yang telah dihisapnya ke muka Warta, “Kau membunuhnya?”
Satu-satunya jawaban yang diberikan Warta adalah batuk-batuk. Ia benci kepada orang-orang yang merokok. Ia kesal kepada toko-toko yang menjualnya. Ia dendam kepada pabrik-pabrik yang melintingnya. Pertanyaan Roman kembali terpinggirkan dengan pertanyaan lain dalam kepala Warta: mengapa orang-orang tidak mengemut permen saja daripada menyesap rokok?
“Itulah akibat kabur dari pertanyaanku.”
Warta memamerkan wajah bingung, sambil mengipas-ngipas asap rokok yang bermukim di udara. Kerut-kerut di dahinya seolah sandi morse yang bermakna: aku tidak paham dengan sesuatu yang kau bicarakan.
“Apa benar berita kau membunuh Biar?”
Warta tersekat. Sekujur darahnya mengalir lebih deras dari biasanya, juga lebih panas. Dadanya berdebar tidak karuan, tidak pada tempo yang sewajarnya. Seluruh tubuhnya bermandikan peluh.
Asap rokok telah luput dari penglihatan Warta.
“Gelagatmu telah menjawabnya. Tidak perlu repot-repot membuka suara.”
Warta pun mengecil. Ia tidak berniat membusung. Warta berpikir, adalah kesia-siaan menyekatkan perbedaan gejala psikologis antara pelaku kejahatan yang terpergok dengan pemilik luka yang tersenggol. Warta berdiri di persimpangan antara membicarakannya, atau menanggungnya sendiri.
“Kau selalu mempunyai pilihan untuk mengoreksinya, tetapi kau justru memuji PowerPoint yang bermasalah itu. Kau sengaja, bukan? Kau memang berniat membunuhnya. Kau cemburu dengan Biar yang lebih kaya, lebih mudah memperoleh akses ke setiap sisi kehidupan ini. Sementara kau melangkah di situ-situ saja.”
Warta tertunduk malu. Ia merasa ditelanjangi di tubuh yang bukan miliknya. Berita-berita yang menyangkutnya, disebarkan ala cerita rakyat yang hiperbolis. Setidaknya sejauh apa yang didengar Warta dari Roman.
Warta tidak mengelak bahwa ada kebenaran dari perkataan Roman, tetapi selebihnya, sensasi yang ditemui. Sensasi itu akan ampuh mengubah cara orang memandang seluruh cerita. Warta kecewa.
Kenapa, Karang? Kenapa?
Warta menitikkan pikirannya kepada orang itu. Ia hanya bercerita kepadanya. Satu orang saja. Ialah orang yang paling dipercaya Warta. Warta terlambat tahu bahwa kepercayaan hanyalah tanda ketidakmampuan. Ia merasa dicampakkan. Dibuang. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa dikhianati adalah cara mati yang paling menyiksa.
Teman Warta pun tiba. Ia segera menarik Warta untuk pergi menaiki kendaraan roda duanya. Mereka lurus saja. Namun, rumor yang beredar tidak pernah lurus.
Sebelum Warta benar-benar lenyap dari pandangan Roman, Roman kembali menyiarkan kicaunya, “Tidak perlu khawatir. Aku tidak akan beri tahu siapa-siapa. Sesuai janjiku kepada Karang.”
Roman pun menyesap rokok yang bertengger di sela-sela jarinya.
Di perjalanan, bising klakson kendaraan mampu diredam oleh helm di kepala Warta. Namun, suara Roman yang menggema tidak mampu diredam oleh helm apa pun di dunia. Ia terputar berulang-ulang di kepala Warta: “Aku tidak akan beri tahu siapa-siapa.”
Aku tidak akan beri tahu siapa-siapa.
Bekasi, 8 Januari 2026
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!