Rumah Terakhir

“Aku cari kerja di mana lagi?”

Pratama mengeluh sambil menatap langit terik, seolah malas mendengar keluhannya. Matahari terpaku diam di pertengahan cakrawala. Asap dan bising kendaraan yang tak kunjung usai sepanjang hari membuat hawa siang ini terasa sangat menyengat.

Ia beranjak dari toko kedua puluh yang ia masuki sejak beberapa hari lalu. Namun, semua enggan menerima lamaran Pratama dengan ijazah standar enam puluh yang dipegangnya.

“Ijazah begini mau kerja apa? Sekolah baik-baik dulu, baru cari kerja,” ucap seseorang yang mengembalikan berkas kepada Pratama. Ia sedari pagi menunggu di depan toko, bersabar dengan penuh harap, namun sia-sia.

Kata-kata itu masih teringiang-iang di kepalanya, semacam pukulan telak bahwa ijazah di bawah standar tidak akan berguna di kota ini.

“Apa aku pulang saja ya…” batinnya berucap seketika.

“Tidak, bodoh! Pulang juga lebih buruk nantinya,” ucap Pratama sambil menampar ringan wajahnya sendiri.

Pratama melamun di bangku panjang halte bus. Ia sejenak teringat akan kematian seseorang yang amat ia cintai, cinta kasihnya yang lebih dari apa pun, sehingga bulir air mata menetes perlahan, membuat dua garis memanjang di wajahnya yang kusam. Ia secepatnya mengusap wajah dengan lengan kemeja yang lusuh, menatap langit lama, lalu mengembuskan napas panjang.

“Tidak usah khawatir, Bu. Aku bisa mandiri di sini. Ibu tenang saja di sana.”

Seperti hari-hari biasa di kampungnya, motor diparkir serampangan di depan rumah. Dari pintu, langkah itu sudah dikenal Pratama dari kamarnya.

“Mana uang?” katanya setengah mabuk.

Suara ayahnya terdengar parau kasar dari ruang tamu menuju dapur. Dari dapur, ibunya menjelaskan kalau uangnya sudah dipakai untuk keperluan dapur. Suara ayahnya tiba-tiba semakin meninggi, begitu pula ibunya. Pratama menutup telinganya dan mencoba untuk tidak menghiraukan, tetapi perdebatan itu terjadi setiap malam. Pratama akhirnya terbiasa dan mulai menganggapnya sebagai rutinitas pada hari-hari berikutnya.

Semua itu terjadi pada satu tahun lalu di kampung halamannya, ketika bendera putih berkibar bisu seakan tak ingin membawa kabar, tetapi warga sudah mengetahui bahwa ibu Pratama harus meregang nyawa di rumahnya.

Siang hari yang terik, Pratama pulang dengan bola yang dirangkulkan di pinggang. Ia menginjakkan kaki di halaman rumah, tetapi ia merasa ada keanehan. Suasana rumah sangatlah hening, seolah ia merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya.

“Bu?” Tak ada jawaban dari ruang televisi, tempat biasa ibunya duduk menunggu anaknya pulang. Pratama semakin merasa ada yang tidak beres.

Pratama mengecek kamar orang tuanya dan tidak menemukan siapa pun. Ketika memasuki dapur, bolanya terjatuh dari rangkulan dan menggelinding jauh, sedangkan mata Pratama terpaku bisu melihat seonggok mayat dengan darah bercucuran memenuhi lantai. Beberapa detik terpatung, Pratama berteriak histeris, memeluk erat ibunya yang tak terasa lagi kehangatannya. Teriakannya mengundang warga sekitar untuk melihat apa yang terjadi.

Seminggu semenjak kematian ibunya, rumahnya terasa sepi. Pratama selalu mengingat hal-hal yang dilakukan ibunya, sekaligus teringat bagaimana ia melihat sang ibu terakhir kali, membuat Pratama sering ketakutan dengan rumahnya sendiri.

Ayahnya? Ia tidak peduli di mana perginya, entah sudah menikah lagi dengan perempuan lain atau sudah mati, ia tak peduli lagi.

Suatu ketika, Pratama baru mengetahui dari warga bahwa kemarin sore para pengumpul kayu bakar yang hendak pulang menemukan seseorang yang tewas dengan seutas tali rafia di lehernya, bergantung kaku dan membusuk dimakan belatung di tengah hutan. Walaupun sebagian badannya sudah digerogoti belatung dan bau bangkai tak tertahankan, wajahnya jelas menunjukkan bahwa itu adalah ayah Pratama. Dari semua itu, ia mengetahui bahwa yang membunuh ibunya pasti ayahnya sendiri, karena pada waktu kejadian Pratama tidak melihat ayahnya, dan sampai beberapa minggu setelah kematian ibunya, sang ayah tidak pernah kembali ke rumah.

Keesokan harinya, Pratama memilih putus sekolah di tingkat SMA kelas sebelas semester dua karena tidak memiliki uang untuk membayar SPP. Pratama sadar bahwa dirinya tidak punya alasan lagi untuk tinggal di sini, terlebih ia takut ingatan mengenaskan itu selalu menghantuinya setiap malam di rumahnya.

Seusai salat subuh, ia bersandar di mimbar musala dan berpikir sejenak.

“Aku harus cari rumah baru,” tekadnya dalam hati.

Dengan keputusan berat, Pratama beranjak dari musala dan bersiap mengembara ke tempat pertarungan hidup selalu berkobar di tengah bangunan dan kepulan asap, membawa sedikit keberanian dan harapan agar ia bisa mendapatkan rumah terakhirnya di sana. Ia memasukkan dua pasang baju, selembar ijazah SMP, dan foto ibunya ke dalam tas.

Cakrawala berubah warna menjadi kemerahan. Pratama baru saja beranjak dari warung nasi goreng dan mencari masjid terdekat untuk mendirikan salat magrib, sekaligus meminta izin kepada marbot agar bisa beristirahat di masjid malam ini.

Menurutnya, masjid adalah tempat kedua setelah rumah lamanya. Di tempat ini ia bisa melepaskan masalah dalam salat dan bermunajat kepada Tuhannya. Rasa nyaman dan tenang sesekali membuat Pratama beristirahat lama, sebelum akhirnya diusir oleh marbot karena aturan masjid. Tapi hal itu tidak membuat ia berhenti mencari tempat serupa di masjid-masjid lain yang dikunjunginya.

Azan berkumandang tidak jauh dari tempatnya berjalan. Lama menyusuri jalan besar, tiba-tiba langkahnya terhenti melihat bangunan masjid yang teramat megah. Dinding seputih susu, kubah berkilauan keemasan, dan tangga tersusun memanjang menuju pintu yang dipenuhi aksara Arab. Matanya terpaku kagum melihat masjid yang jauh lebih indah daripada masjid-masjid sebelumnya.

Pratama melepas sepatunya yang penuh debu, begitu pula lengan kemejanya yang lusuh dipenuhi keringat. Ia menggulung kasar lengan baju dan celana panjangnya, kemudian berwudu. Dengan bergegas ia mengisi saf yang masih kosong dan mendirikan salat.

Seusai salat dan berdoa, ia bersandar di salah satu pilar emas dan melamun lama tentang apa yang harus ia lakukan besok. Langkah kaki seorang bapak paruh baya menghampiri Pratama, membuyarkan lamunannya. Di tangannya, bapak itu membawa dua gelas kopi hitam yang masih mengepul panas.

“Assalamualaikum, Mas. Boleh saya ikutan duduk di sini?” ucapnya ramah.

“Waalaikumsalam. Silakan, Pak.”

“Ini, Mas, saya bawain kopi. Mas ini musafir ya?”

“Terima kasih, Pak. Bisa dibilang begitu sih, tapi saya sudah lama di Jakarta, hanya saja belum punya rumah.”

“Sebentar, nama Mas siapa?”

“Saya Pratama. Kalau Bapak?”

“Saya Abdul, marbot masjid ini. Loh, bagaimana bisa Mas Pratama sudah lama di sini tapi belum punya rumah?” ucapnya penasaran.

“Saya sudah lama di sini cari kerja, tapi kalau tempat tinggal, saya pindah-pindah tidur di masjid.”

“Ooh, jadi ceritanya malam ini mau nginep di sini?”

“Anu, kalau boleh ya, Pak. Ka-kalau di luar pun nggak apa-apa, Pak.”

Pikir Pratama, ia akan ditolak seperti biasanya atau disuruh tidur di luar. Tetapi sebaliknya, Pak Abdul menerima dengan sangat antusias. Ia mengajak Pratama ke salah satu ruangan tempat musafir tinggal sementara. Ruangan itu luasnya sepuluh meter persegi dengan fasilitas yang sangat memadai. Pak Abdul bergegas menyiapkan tempat tidur agar Pratama bisa beristirahat.

“Untuk malam ini, aku patut bersyukur kepada Tuhan yang telah menolong hamba-Nya yang sedang kebingungan ini,” pikirnya sebelum terlelap.

Azan subuh berkumandang mengisi setiap sudut keheningan sampai Pratama terbangun. Dengan sisa kantuknya, ia beranjak dari tempat tidur dan hendak berwudu. Ia bergegas mengerjakan salat sunah qobliyah subuh agar mendapat yang terbaik dari Tuhan, lalu melanjutkan salat subuh berjemaah.

Mentari mengedarkan warnanya, cahaya merengsek masuk di sudut-sudut masjid melalui kaca-kaca besar di bawah kubah. Pratama yang usai zikir pagi dan bersiap beranjak, tiba-tiba dihadang Pak Abdul di pintu keluar.

“Mas, ayo kita sarapan dulu, saya sudah sediain makanannya di pelataran.”

“Baru kali ini ada hal seperti ini terjadi, bahkan di kampungku tidak pernah begitu,” ia bergumam dalam hati.

Dua kopi hitam dan sepiring roti tersaji hangat di pelataran yang teduh dan berhadapan langsung dengan jalan raya. Mereka berdua duduk bersila, mengambil sebongkah roti, dan sesekali menyeruput kopi sambil menonton kendaraan berlalu-lalang serta gerobak kaki lima berjalan perlahan, menciptakan suasana pagi yang ramai.

“Cari kerja di sini memang susah, Nak,” ucap Pak Abdul membuka percakapan.

“Ah, memang, Pak,” balas Pratama selepas tegukan kelima kopinya.

“Jadinya, Mas mau ke mana?” tanyanya menyelidik.

Pratama tersedak ringan, lalu terbatuk. “Untuk ke depannya saya hanya mau punya tempat peristirahatan yang nyaman saja, Pak. Itu saja.”

“Saya nggak punya apa-apa sekarang,” ujarnya.

Helaan napas panjang terdengar, seketika pandangan Pratama tertuju pada Pak Abdul.

“Bapak sudah berapa lama tinggal di sini?” tanya Pratama penasaran.

“Jika mau ditanya, saya orang sini sebenarnya bukan, tapi kalau pendatang juga bukan,” ujarnya sambil tertawa ringan.

“Maksudnya, Pak? Saya tidak paham,” ucap Pratama kebingungan.

“Sebenarnya dari lahir saya tidak tahu orang tua saya siapa. Katanya dari orang panti, saya dilepas dari tangan orang ke orang lain sampai dibesarkan di panti asuhan. Jadi, bisa dikatakan saya tidak punya rumah tetap.”

“Maaf, Pak, Bapak tidak benci dengan orang tua Bapak?”

“Sebenarnya saya juga tidak terlalu benci, entah saya dilahirkan anak haram atau bukan. Tapi intinya, untuk bisa lahir dan mengobrol seperti sekarang, ini adalah karunia yang paling nikmat daripada tidak dilahirkan sama sekali, benar kan?”

“Be-bener, Pak.”

“Tetapi yang membuat saya senang menjadi marbot adalah bisa melihat orang-orang yang entah dari mana datang ke rumah terakhir ini, agar bisa bertemu Tuhan dengan segala beban yang dipikulnya.”

Pak Abdul melanjutkan, “Makanya saya selalu memberikan pelayanan terbaik untuk para musafir yang datang ke Masjid Al-Musafirin.”

“Hah?… Al-Musafirin,” ucap Pratama kaget.

Tak terasa cairan kopi telah habis, menyisakan serpihan ingatan masa lalu yang mulai menguap di hatinya.

Terkadang Tuhan punya cara tersendiri untuk memelihara hamba-hamba-Nya yang tak mempunyai rumah lagi. Itulah yang dipikirkan Pratama mengapa ia ada di sini sekarang.

Matahari mulai menanjak naik dan menyeret waktu berlalu tanpa pamit. Langkah kaki Pratama mulai beranjak dari masjid setelah sarapan tadi.

Langkahnya melewati gerbang masjid yang di atasnya terpampang nama Masjid Al-Musafirin. Ia mulai menapaki kembali jalan terik dan penuh debu yang menyambutnya, menerjang perjalanan keras dengan sebagian penderitaan yang kini telah terlepas dari ingatannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!