Selasa yang Dijahit Ulang

“Bu, kalau besok kita masih miskin, apa aku harus berhenti sekolah?”

Pertanyaan itu jatuh lebih berat daripada telapak kaki Marni yang menginjak pedal tubuhku. Jarumku sempat berhenti di atas kain seragam putih milik seorang anak, seolah aku pun membutuhkan waktu untuk mencari jawaban. Dari tempatku di sudut kios, aku melihat Marni menunduk. Keringat membasahi pelipisnya meski matahari telah lama tenggelam di balik atap seng Pasar Cempaka.

“Siapa yang bilang kamu harus berhenti sekolah?” tanya Marni.

“Pak Sabar datang lagi.”

Lila berdiri di depan kios dengan seragam yang mulai kekecilan. Ujung lengan bajunya menggantung beberapa sentimeter di atas pergelangan. Di tangannya, terdapat kertas pemberitahuan pembayaran sekolah sebesar enam ratus lima puluh ribu rupiah. Jumlah yang terlalu besar bagi anak berusia sebelas tahun, tetapi terasa jauh lebih besar bagi ibunya.

“Dia bilang kalau Ibu belum bayar besok, mesin jahitnya akan dibawa.”

Marni memandangku. Tubuhku memang sudah tua. Cat hitam di bagian bawah mulai terkelupas, ukiran sulur emas di lenganku tinggal separuh, dan roda pemutarku kadang mengeluarkan bunyi berdecit. Namun, selama dua puluh tahun, tanganku telah membantu Marni menyambung pakaian, menambal lubang, dan mengecilkan seragam anak-anak yang tumbuh terlalu lambat karena jarang makan.

Aku juga satu-satunya warisan dari ibunya.

“Pak Sabar hanya menakut-nakuti,” ujar Marni, berusaha tersenyum. “Besok Ibu bayar sebagian. Sisanya menyusul.”

“Pakai uang apa?”

Senyum itu runtuh sebelum sempat terlihat meyakinkan. Marni membuka laci mejaku, lalu menghitung lembaran uang yang tersisa. Tiga ratus dua puluh ribu rupiah. Sementara itu, utangnya kepada Pak Sabar mencapai satu juta delapan ratus ribu rupiah, belum termasuk uang sekolah Lila dan sewa kios yang terlambat dua bulan.

Lila mendekat dan memeluk pinggang ibunya. “Aku bisa berhenti sekolah dulu, Bu. Nanti kalau kita sudah punya uang, aku masuk lagi.”

Marni menarik tubuh anaknya hingga berdiri di depan dada. “Dengar, Lila. Kamu boleh kehilangan baju baru, sepatu baru, bahkan rumah ini. Tapi kamu tidak boleh kehilangan sekolah.”

“Kalau mesin jahitnya dibawa, Ibu kerja pakai apa?”

Marni tidak menjawab. Ia hanya mengusap rambut Lila, lalu menyuruh anak itu pulang lebih dulu. Rumah mereka berada di gang belakang pasar, hanya lima menit berjalan kaki dari kios. Biasanya Lila berani pulang sendiri karena hampir semua pedagang mengenalnya.

Setelah langkah Lila menghilang, Marni kembali duduk di hadapanku. Matanya merah, tetapi tidak ada air mata yang jatuh. Perempuan itu jarang menangis. Ia lebih suka menelan kesedihan seperti menelan nasi yang terlalu kering—perlahan dan menyakitkan.

Malam itu, ia harus menyelesaikan seragam pelanggan agar bisa memperoleh tambahan dua ratus ribu rupiah. Marni mengambil gulungan benang merah dari kotak peninggalan ibunya. Warna benang itu terlalu mencolok untuk kain putih, tetapi semua benang putihnya telah habis.

“Cuma untuk jahitan bagian dalam,” gumamnya. “Enggak akan kelihatan.”

Ia memasang gulungan benang pada tubuhku. Begitu benang merah melewati lubang jarum, sesuatu bergerak di dalam roda gigiku. Bukan minyak, bukan debu, melainkan kehangatan yang sudah lama terkubur di antara logam-logam tua.

Marni mulai menjahit. Kakinya menginjak pedal dengan cepat, membuat jarumku menembus kain berulang kali. Beberapa menit kemudian, benang tersangkut di bagian bawah. Marni mengumpat pelan dan memutar rodaku ke belakang untuk melepaskannya.

Jarum jahit menusuk ujung jarinya. Setetes darah jatuh tepat di atas benang merah.

Seluruh kios mendadak bergetar. Lampu-lampu pasar padam bersamaan, sementara rodaku terus berputar ke belakang meskipun tangan Marni telah melepaskannya. Jarum jam dinding bergerak berlawanan arah. Kain-kain yang menumpuk di meja melayang, terurai menjadi lembaran, lalu kembali terlipat dengan sendirinya. Marni menjerit sambil memeluk tubuhku.

Suara pedagang, deru sepeda motor, dan dentang pintu kios bercampur menjadi satu. Dunia seperti kain yang ditarik paksa dari jahitannya. Dalam beberapa detik, seluruh hari terlepas dari tempatnya.

Kemudian terdengar suara Lila.

“Bu, kalau besok kita masih miskin, apa aku harus berhenti sekolah?”

Matahari kembali menggantung di langit sore.

Marni berdiri kaku di depanku. Kertas tagihan sekolah masih berada di tangan Lila, persis seperti sebelumnya. Pedagang buah di seberang kios sedang menurunkan peti jeruk. Seorang anak berlari sambil membawa balon berbentuk kelinci. Semua kembali ke tempat semula.

Hari Selasa baru saja dimulai lagi. Marni tidak langsung percaya. Ia mencubit lengannya, memeriksa tanggal di telepon genggam, lalu berlari keluar kios. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan wajah pucat.

“Aku gila,” bisiknya.

“Kenapa, Bu?” tanya Lila.

Marni memeluk anaknya. “Enggak apa-apa. Ibu cuma terlalu capek.”

Pada Selasa yang kedua, Marni mengetahui kejadian sebelum semuanya berlangsung. Ia sempat menangkap gelas teh milik pedagang sebelah sebelum tersenggol pembeli. Ia menolak kain murah dari pemasok yang kemarin terbukti luntur. Ketika Bu Imas, kepala sekolah dasar, melintas di depan kios pada pukul tiga sore, Marni lebih dahulu memanggilnya.

“Bu Imas sedang mencari penjahit seragam untuk acara kecamatan, kan?”

Bu Imas berhenti. “Kok kamu tahu?”

Marni menelan ludah. “Kemarin saya dengar guru-guru membicarakannya.”

Padahal percakapan itu baru akan terjadi satu jam kemudian.

Marni menawarkan harga sedikit lebih murah dan berjanji menyelesaikan tiga puluh seragam dalam dua minggu. Bu Imas akhirnya memberikan uang muka enam ratus ribu rupiah. Jumlah itu cukup untuk membayar sekolah Lila, membeli benang, dan menyerahkan sebagian cicilan kepada Pak Sabar.

Malamnya, Marni memasak singkong rebus dengan parutan kelapa. Makanan sederhana itu biasanya menjadi kesukaan Lila. Namun, anak itu hanya memandangi piringnya.

“Kenapa enggak dimakan?” tanya Marni.

“Rasanya aneh.”

“Ini kesukaanmu sejak kecil.”

Lila mengernyit. “Aku pernah makan ini?”

Marni tertawa kecil, mengira anaknya bercanda. Akan tetapi, Lila benar-benar tidak mengingat malam-malam ketika mereka berbagi singkong rebus karena tidak memiliki uang untuk membeli beras. Satu kenangan tentang ibunya telah hilang, tercabut seperti benang dari ujung kain.

Marni belum memahami akibatnya. Ia hanya menganggap Lila kelelahan.

Keesokan harinya, Pak Sabar tetap datang. Lelaki itu mengenakan kemeja kotak-kotak dan membawa buku catatan kecil. Marni menyerahkan empat ratus ribu rupiah, tetapi Pak Sabar menggeleng.

“Besok harus lunas,” katanya. “Saya sudah memberi waktu tiga bulan.”

“Saya baru dapat pesanan besar. Dua minggu lagi pasti saya bayar.”

“Saya juga punya kebutuhan, Marni. Uang saya bukan daun.”

“Kalau mesin ini dibawa, saya enggak bisa menyelesaikan pesanan.”

Pak Sabar menepuk tubuhku dua kali. Setiap sentuhannya membuat mur-murku terasa dingin. “Itu bukan urusan saya. Besok uangnya ada atau mesinnya saya ambil.”

Malamnya, Marni kembali memasang benang merah. Kini ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia meneteskan darah dari ujung jarinya, lalu memutar rodaku ke belakang.

Aku ingin berhenti, tetapi tubuhku tidak lagi menuruti kehendakku. Roda gigi di dalam diriku berputar semakin cepat. Waktu kembali terlepas.

“Bu, kalau besok kita masih miskin, apa aku harus berhenti sekolah?”

Selasa dimulai untuk ketiga kalinya.

Marni bergerak lebih cepat. Ia mendapatkan pesanan Bu Imas, menolak pemasok kain curang, dan mendatangi pelanggan yang baru akan membutuhkan jas pada sore hari. Ia juga membeli beberapa lembar kain dengan harga murah sebelum pedagang menaikkan harga. Menjelang malam, uang di tangannya mencapai satu juta dua ratus ribu rupiah.

Namun, ada kejadian lain yang ia ingat dari hari sebelumnya. Pada pukul enam lewat dua puluh menit, kabel tua di kios sayur akan meledak dan membakar terpal. Kemarin api hanya menghanguskan dua kios karena pedagang bergerak cepat. Kali ini, Marni sudah menunggu dengan tabung pemadam pinjaman.

Saat percikan pertama muncul, ia berlari dan menyemprotkan isi tabung itu. Api padam sebelum membesar. Para pedagang mengelilinginya dengan wajah kebingungan.

“Kamu tahu dari mana kabelnya akan terbakar?” tanya Mang Ujang.

“Saya mencium bau hangus,” jawab Marni.

Ceu Enok, pemilik kios sayur, memeluknya sambil menangis. “Kalau enggak ada kamu, habis semua barang dagangan saya.”

Orang-orang memuji keberanian Marni. Sebagian menawarkan bantuan mengerjakan pesanan seragam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Marni tidak merasa menghadapi hidup sendirian.

Akan tetapi, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ketika mereka pulang, Marni menyanyikan lagu yang biasa ia gunakan untuk menidurkan Lila sejak bayi. Anak itu menatapnya dengan bingung.

“Lagu apa itu?”

“Lagu kita.”

Lila menggeleng. “Ibu enggak pernah menyanyikan itu.”

Marni menghentikan langkah. “Kamu benar-benar enggak ingat?”

“Sejak kapan Ibu bisa nyanyi?”

Marni memeluk Lila di tengah gang. Tubuhnya gemetar, tetapi ia belum sanggup mengakui bahwa benang merah itu telah mengambil sesuatu sebagai pembayaran. Malam itu ia menangis sambil menempelkan wajah pada tubuhku.

“Aku cuma ingin memperbaiki hidup kami,” bisiknya. “Salah, ya?”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanyalah mesin jahit tua yang mampu mendengar kesedihan, tetapi tidak diberi mulut untuk menenangkannya.

Pak Sabar datang sebelum pasar dibuka. Meskipun Marni sudah mengumpulkan lebih banyak uang, jumlahnya masih belum cukup. Lelaki itu memberikan batas terakhir hingga pukul sembilan malam.

Marni kembali duduk di hadapanku. Matanya tertuju pada benang merah yang masih terpasang. Ia telah mengetahui pesanan mana yang akan datang, harga mana yang akan naik, dan siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Satu Selasa lagi mungkin cukup untuk memperoleh seluruh uang yang dibutuhkan.

Ia menusukkan jarum kecil ke ujung jarinya. Setetes darah kembali jatuh. Aku berusaha menahan roda gigiku, tetapi keinginan manusia yang putus asa ternyata lebih kuat daripada logam tua. Marni memutar rodaku ke belakang. Dunia kembali terurai.

“Bu, kalau besok kita masih miskin, apa aku harus berhenti sekolah?”

Suara itu kembali terdengar, tetapi kali ini berbeda. Lila berdiri jauh dari Marni. Anak itu memeluk tasnya sambil memerhatikan perempuan di depannya seperti melihat orang asing.

Marni mendekat. “Lila?”

Anak itu mundur.

“Kenapa kamu ada di rumahku?” tanyanya.

Wajah Marni kehilangan warna. “Ini Ibu.”

“Ibu siapa?”

“Lila, jangan bercanda.”

“Aku enggak bercanda.” Suara anak itu mulai bergetar. “Tante siapa?”

Marni jatuh berlutut.

Ia menyebutkan hari ulang tahun Lila, makanan kesukaannya, nama guru kelasnya, dan bekas luka kecil di lututnya. Marni menceritakan saat Lila demam tinggi, hari pertama masuk sekolah, serta malam ketika mereka tidur di kios karena rumah kontrakan kebanjiran. Namun, bagi Lila, semua itu terdengar seperti cerita tentang anak lain.

Benang merah telah mencabut seluruh ingatan tentang ibunya.

Hari Selasa kembali berjalan, tetapi Marni tidak membuka kios. Ia duduk di lantai rumah sambil menjaga jarak agar Lila tidak ketakutan. Dari percakapan dengan tetangga, anak itu akhirnya percaya bahwa perempuan asing tersebut memang ibunya, meskipun hatinya tidak lagi mengenali Marni.

Malamnya, Marni membawaku pulang. Ia meletakkanku di tengah ruang sempit, lalu memasang benang merah untuk terakhir kalinya.

“Kalau aku mengulang sekali lagi, mungkin aku bisa mengembalikan ingatannya,” katanya.

Tangannya memegang rodaku.

Lila berdiri di dekat pintu kamar. “Tante mau melakukan apa?”

Panggilan itu menghancurkan sesuatu dalam diri Marni. Ia menunduk, bahunya terguncang, lalu menarik benang merah dari tubuhku.

“Tidak,” katanya lirih. “Aku tidak akan mengulangnya lagi.”

Marni mengambil seragam Lila yang sobek di bagian saku. Ia mengganti benang merah dengan benang putih, kemudian mulai menjahit. Kali ini rodaku bergerak ke depan.

Setiap kali jarum menembus kain, panas menjalar di dalam tubuhku. Aku akhirnya memahami ke mana kenangan-kenangan itu pergi. Semuanya tersimpan di antara roda gigiku, menggumpal bersama minyak dan debu: rasa singkong rebus, lagu pengantar tidur, pelukan saat demam, serta wajah seorang ibu yang menunggu anaknya pulang sekolah.

Aku bisa mengembalikannya. Namun, aku harus melepaskan seluruh tenaga yang membuatku tetap hidup. Marni menginjak pedal. Aku menggerakkan jarum lebih cepat. Satu per satu roda gigiku retak, tetapi aku terus menjahit. Kenangan mengalir melalui benang putih, berpindah ke kain seragam yang berada di bawah jarum.

Terdengar bunyi logam patah dari dalam tubuhku.

Marni segera menghentikan kakinya. “Kenapa?”

Aku memaksa rodaku berputar sekali lagi. Jarum menembus kain untuk jahitan terakhir, kemudian patah. Roda pemutarku berhenti selamanya. Lila mendekati seragamnya. Jemarinya menyentuh jahitan putih pada bagian saku.

Tubuhnya mendadak menegang. Ia menoleh ke arah Marni. Matanya basah.

“Ibu?”

Marni tidak langsung bergerak. Seolah satu kata itu terlalu indah untuk dipercaya.

Lila berlari dan memeluknya. “Ibu, kenapa menangis?”

Marni merengkuh tubuh anaknya erat-erat. Ia mencium rambut, dahi, dan kedua pipinya, memastikan tidak ada lagi bagian dari dirinya yang dilupakan.

“Aku ingat lagu kita,” bisik Lila. “Aku juga ingat singkong buatan Ibu. Kelapanya selalu kebanyakan garam.”

Marni tertawa di sela tangisnya. “Besok Ibu kurangi garamnya.”

Pagi berikutnya akhirnya datang. Bukan Selasa, melainkan Rabu.

Pak Sabar sudah menunggu di depan kios. Ketika melihat tubuhku tidak lagi bisa digunakan, ia meminta Marni menyerahkanku sebagai pembayaran. Namun, sebelum tangannya menyentuhku, Mang Ujang berdiri di depan pintu. Ceu Enok menyusul bersama pedagang lain.

“Utangnya tetap dibayar,” kata Ceu Enok. “Tapi dicicil dengan perjanjian tertulis. Jangan seenaknya mengambil alat kerja orang.”

Bu Imas datang membawa sisa pembayaran seragam lebih awal. Mang Ujang memberikan sebuah mesin jahit bekas milik istrinya. Pedagang lain mengumpulkan uang untuk membeli kain dan benang agar Marni dapat menyelesaikan pesanannya.

Pak Sabar memandang orang-orang yang memenuhi lorong pasar. Ia akhirnya menerima pembayaran pertama dan menuliskan jadwal cicilan di atas kertas. Tidak ada keajaiban dalam peristiwa itu. Tidak ada waktu yang diputar, tidak ada darah yang diteteskan. Hanya orang-orang biasa yang memutuskan untuk tidak membiarkan salah satu dari mereka jatuh sendirian.

Marni menyimpan tubuhku di rak paling tinggi kios. Aku tidak lagi mampu menggerakkan jarum, tetapi dari tempat itu aku masih bisa melihatnya bekerja dengan mesin yang baru. Pesanan seragam selesai tepat waktu. Utang dibayar sedikit demi sedikit, sedangkan Lila tetap bersekolah.

Beberapa tahun kemudian, Lila tumbuh cukup tinggi untuk menjangkau rak tempatku disimpan. Ia membersihkan debu pada tubuhku menggunakan ujung kerudungnya.

“Bu,” panggilnya, “Ini mesin yang bisa menjahit ulang hari Selasa, ya?”

Marni tersenyum sambil memasukkan benang ke mesin barunya.

“Bukan,” jawabnya. “Dia mesin yang mengajari Ibu bahwa nasib tidak harus diubah dengan kembali ke masa lalu.”

Lila mengusap ukiran emas yang tersisa di lenganku. “Lalu dengan apa?”

“Dengan keberanian menjalani hari berikutnya.”

Di luar kios, Pasar Cempaka kembali riuh. Orang-orang menawar sayuran, memanggul karung, mengeluhkan harga, dan tertawa di tengah kesulitan mereka. Tidak ada yang benar-benar terbebas dari hidup yang berat. Namun, hari terus bergerak ke depan, membawa setiap orang menuju sesuatu yang belum mereka kenal.

Aku tidak pernah menjahit lagi.

Namun, setiap kali Marni dan Lila tertawa bersama, aku tahu jahitan terakhirku tidak sia-sia. Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan mereka bukan kemampuan untuk mengulang hari, melainkan keberanian untuk membiarkan hari itu berlalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!