Merembes aku di gerbang gedung
Bersama geopelia renang ke sarang
Menerawang ketapang memandang remang
Punggung melangsir mengeluh rindu
Memeluk ranjang menebas lemas
Pergi ke dapur mengubur lapar
Menari-nari di atas orek
Peluk istri mencuci sepi
Mengangsur beban berupa mimpi
Dibius luka berwarna-warni
Pada lentik maha cantikmu
Manis-tangis berdesir waktu
Ingin pulang menanam cium
Berbincang penat menyahut peluh
(Bandung, September 2026)
Dengan apa kuperjuangkan hangatku, anakku? Dengan gusar cicilan iphone, teduh sunscreen, sesudah menghemat hasil keringat.
Seporsi rendang indomie, mencetak kotak, menyerupa wadah, bersanding sangu di dalam rantangmu.
Tanganku asbak mengemis mimpimu, bagai kretek mengular asapnya.
Pelukku palung mengelus cengengmu, bagai puing membenahi retaknya.
Aduh, anakku, jabat tanganku dengan mimpimu, sesaki sukmaku dengan manjamu, biar lembam biaya kuliahmu, biar gemuruh uang saku kontinyu.
(Bandung, Oktober 2026)
Lewat apa kubaktikan kasihku, ibu? Lewat diam merdeka hampa, anginnya jiwa, selepas mesin mengabdi tenaga.
Sepanci sayur kacang merah, memayang bayang, bersama asin cumi, mengemas rindu ke jirat makammu.
Kangenku tangan memanjat hadir, bagai bocah menagih manja.
Kenangku doa memeluk cium, bagai remaja mencoba nakal.
Duh, ibu, dekap kangenku dengan hadirmu, genapi nyawaku dengan khawatirmu, biar tua tubuhku manja, biar pilu rintihku syahdu.
(Bandung, Oktober 2026)
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!