Seperti pagi-pagi sebelumnya, suara istri mengomel, anak yang minta diantar ke sekolah, ditambah bunyi mesin jahit rusak saling berebut perhatian. Rapi mulai memahami pola itu setelah tidak ada perpanjangan kontrak dari perusahaan asing yang sempat menjadi penopang hidup keluarganya.
“Tinggal di daerah lumbung padi gak bikin kita kenyang nasi,” umpat Gita. Centong di tangannya sibuk mengaduk kerak pada magic com hasil seserahan perkawinan tujuh tahun lalu. Matanya bergulir jengah, memaklumi perasaan demi perasaan yang selama ini dia pendam.
Anak mereka sudah dua, Mayang dan Sari. Mayang mulai duduk di bangku kelas 1 SD, sedangkan Sari masih berumur dua tahun. Mayang mirip dengan Gita, ibunya: suka mengomel.
“Bapak, ayo kita berangkat. Mayang bisa telat nanti!” Itu satu dari sekian banyak sifat Gita yang ditiru anak sulungnya. Meski begitu, Rapi lekas beranjak dari kursi. Lehernya masih dikalungi meteran kuning yang tampak pudar warnanya.
Dia bersiap seadanya sebelum menyambar kunci motor.
Gita merasa tidak dihiraukan. Dia akhirnya berkacak pinggang di depan pintu kontrakan yang sudah ditinggali semenjak berstatus pengantin baru.
“Beras habis, Pak!” sungut Gita. Daster biru lusuhnya ikut protes dengan menguarkan aroma keringat.
“Astagfirullah, Gita! Kamu pikir aku diam saja dari subuh tadi? Lihat, tuh! Aku mau buka jasa jahit lagi, tapi mesinnya rusak. Aku belum menyerah, Gita. Kita masih punya harapan dari mesin jahit itu,” jelas Rapi sembari berkali-kali menyela motor matik miliknya.
Mayang yang terbiasa duduk di depan memprotes kelakuan bapaknya. Anak umur enam tahun itu lumayan cerdas mengintip jarum yang nongkrong di huruf E. “Dorong, Pak!”
Rapi menggandeng tangan Mayang. “Ayo, kita pinjam sepeda punya Teh Yanti dulu buat berangkat!”
Mendengar nama istri Pak Bahri disebut, mata Gita melotot. Centong hampir saja melayang di hadapan anaknya. “Jangan sering ngerepotin Teh Yanti. Malu, Pak! Utang kita numpuk belum dibayar.”
“Hidup kita sudah terdesak. Simpan dulu cemburumu itu,” decak Rapi, suaranya agak meninggi. Sebelum Mayang membetulkan tali sepatunya, Gita sedikit mencubit tangan kanan suaminya dengan gemas.
“Cemburu gak bikin aku kenyang. Terus, apa katamu tadi? Kita masih punya harapan? Harapan mana yang bisa bikin perut kita kenyang? Sementara sembako, kontrakan, dan bensin semua butuh uang,” timpal Gita seraya mengerutkan bibir.
“Kamu sudah bisa nyubit ego suamimu sekarang. Biar aku antar Mayang dulu, pulangnya aku bawakan beras.”
Gita ikut melangkah keluar, menyaksikan anaknya diantar dengan sepeda tua milik Teh Yanti.
Sekitar satu jam berlalu, Rapi datang membawa kresek hitam kecil. Gita meliriknya sebentar. Itu memang beras. Namun, apa benda mirip tongkat di tangan yang satunya? gerutu Gita dalam hati.
Sementara itu, Rapi cengengesan. Dia mengangkat benda itu setinggi bahu. “Aku dapat tripod dari Teh Yanti.”
“Tripod? Buat apaan?” selidik Gita yang sudah memboyong kresek hitam bersama telur dan mi instan ke dapur. Kontrakan sepetak ini bukan penghalang bagi keduanya untuk saling mengobrol, meski Gita berkutat di dapur.
“Kata Teh Yanti, kita coba nge-live saja di aplikasi yang ramai sekarang. Kalau gak salah Toktok, kan?”
“Teh Yanti lagi, Teh Yanti lagi. Memang kita gak bisa hidup tanpa Teh Yanti?”
Rapi sudah duduk di kursi yang terpasang di dekat mesin jahit. Telinganya sudah kebal menangkap celotehan Gita. Dia kembali mengecek tripod di tangannya sebelum menyahut, “Kita bisa hidup tanpa Teh Yanti. Berhubung tetangga kita Teh Yanti, jadi wajar kalau hidup kita sering bersinggungan,” terang bapak dua anak itu, tanpa membiarkan fokusnya teralihkan dari tripod tersebut.
Kini ponselnya sudah melekat di atas tripod yang berdiri kokoh. Fitur kamera ikut standby menyorot mesin jahit dan separuh wajahnya. Gita yang sedang membuat telur dadar sambil menggendong bayi mengintip tingkah suaminya sejenak. Lelaki itu sungguh-sungguh dengan komitmennya. Hingga dua jam berselang, suara dobrakan pintu terdengar.
Rapi buru-buru mematikan ponselnya.
“Bapak bohong! Katanya mau jemput?”
Sepatu melayang di dekat mesin jahit. Mayang terbirit-birit mendekati ibunya, lalu merengkuh adik bayinya sambil berurai air mata. Hari ini pupus sudah harapannya untuk pulang bersama sang bapak.
“Maaf, Mayang. Bapak lupa.”
“Bapak bukan cuma lupa, tapi ingkar janji,” tuding Mayang. Matanya yang sembap dan memerah bikin Rapi jadi sangsi.
“Kalau begitu, Bapak gak akan bosan buat minta maaf. Bapak janji besok gak akan lupa lagi.” Rapi duduk bersimpuh, merayu Mayang yang tingginya kini sejajar. “Doakan Bapak terus ya, Nak. Kalau Bapak dapat paus nanti, kita jalan-jalan.”
Gita yang berdiri di belakang Mayang ikut menimpali, “Kita cuma diajak jalan-jalan?”
“Sementara itu dulu. Selebihnya buat bayar utang ke Teh Yanti,” simpul Rapi, membuat istrinya kembali mengomel tiada henti.
“Teh Yanti lagi, Teh Yanti lagi. Bulan depan mending kita pindah dari sini!”
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!