Jalan Amaliun dan Kede Buku kecil yang Tumbuh di dalamnya

Di awal kedatanganku ke Kede Buku Obelia, tidak pernah terpikir bahwa aku akan membawa pulang sebuah cerita. Pikiranku saat itu cuma satu: wawancara. Sejak malam hingga pagi, berbagai kemungkinan sudah kupikirkan matang-matang. Setiap peralihan pertanyaan kususun agar mengalir seperti air. Kalau ritmenya tiba-tiba rusak, aku akan berusaha tetap fokus pada jawaban yang ingin kudapatkan. Tapi, ketika wawancara benar-benar dimulai, sumpah, tekejoed kali aku we!

Setelah menemukan lokasi toko buku tersebut, aku memarkirkan kereta (sepeda motor) Supra milikku. Kulihat beberapa orang di sana. Yang mana pemilik toko bukunya, ya? Mataku tertuju pada seorang pria yang mondar-mandir mempersiapkan booth kopi tepat di depan toko. Ini Bang Alda bukan, ya?

Awalnya, aku ingin menyapa pria itu. Namun, perhatianku beralih kepada seorang pria sederhana yang sedang merapikan barang-barang di dalam toko yang penuh dengan buku.

“Bang Alda?” tanyaku.

Abang itu menjawab iya.

Wah! Ini dia. Duh, harus siap-siap!

Dengan langkah penuh keraguan, aku masuk ke dalam toko buku. Bang Alda masih sibuk merapikan tokonya. Untungnya, aku sudah melakukan riset kecil-kecilan sebelum berkunjung. Jadi, aku tahu bahwa Kede Buku Obelia memang baru buka pada sore hari.

Sebagai seseorang yang mulai bosan dengan toko buku konvensional, aku langsung tertarik melihat tempat ini. Apalagi, toko buku konvensional sering kali menawarkan buku-buku yang diterbitkan ulang dengan tambahan embel-embel best seller. Sebaliknya, toko mungil ini menyimpan banyak judul yang selama ini sulit kutemukan di Gramedia.

Ukuran kecil ternyata bukan sebuah bencana. Justru karena ukurannya itulah aku bisa menemukan buku-buku yang menarik perhatianku. Bahkan, sebelum bertandang ke kandang lawan wawancaraku itu, aku sudah meminang salah satu buku di sana: Madonna dengan Mantel Bulu.

Meski sudah punya satu buku incaran, aku tetap membaca-baca koleksi lain yang bisa diakses dengan bebas. Wah, bisa betah dan malah nggak jadi wawancara ini! Fokus!

 

Dari Kegagalan Menuju Kede Buku Obelia

Di awal wawancara, aku bertanya tentang bagaimana toko buku, atau yang biasa disebut kede buku, bisa berdiri di tengah Kota Medan. Berlokasi di Jalan Amaliun, tempat ini ternyata memiliki cerita awal yang menarik.

Bang Alda bercerita bahwa ketika Covid-19 melanda dunia, termasuk negeri kita tercinta, ia tak sengaja melihat sebuah berita dari Eropa. Berita itu memperlihatkan bagaimana orang-orang menjadikan buku sebagai sumber hiburan. Buku-buku bertumpuk di rumah mereka!

Dari sanalah muncul keinginan Bang Alda untuk mencoba hal serupa. Hasilnya? Gagal.

Percobaan yang kurang berjaya itu ternyata tidak mematikan semangatnya. Bang Alda sadar bahwa usahanya belum sesuai dengan harapan. Meski begitu, ia memilih bertahan. “Baru dimulai, masa begitu saja sudah menyerah?” Begitulah semangat yang tersirat dari ceritanya tentang kelahiran Kede Buku Obelia.

Selain keinginan mengikuti tren di Eropa, pendirian Kede Buku Obelia juga berangkat dari kegundahan Bang Alda sebagai seorang penulis sastra. Ia memahami dilema para penulis pemula yang ingin naskahnya terbit dan dibaca banyak orang.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa akses ke penerbit yang kebanyakan berada di Pulau Jawa bisa menjadi tantangan bagi penulis dari luar pulau tersebut. Para penulis harus menunggu tanpa kepastian setelah mengirimkan naskah. Tidak jarang, harapan mereka sudah pupus bahkan sebelum menerima penolakan.

Sebelum Kede Buku berdiri di Jalan Amaliun, Bang Alda sebenarnya sudah mendirikan penerbitan dengan nama yang sama, yakni Obelia. Penerbitan ini menjadi salah satu upayanya untuk ikut membuka jalan bagi karya-karya sastra.

 

Penerbitan Bukan Sekadar Menerbitkan Buku

Namun, penerbitan tetaplah bisnis, bukan amal. Dalam menerbitkan naskah, Bang Alda menyediakan dua opsi yang lazim ditemukan pada penerbit indie lainnya.

Pertama, penulis membayar biaya penerbitan naskahnya. Obelia tidak sekadar membantu menerbitkan buku. Penulis juga mendapatkan arahan dan masukan agar karyanya tidak hanya terbit, tetapi memiliki peluang untuk terjual di pasaran.

Kedua, Obelia mencari naskah yang dinilai layak untuk diterbitkan dengan biaya yang ditanggung sendiri oleh pihak penerbit. Untuk opsi ini, Bang Alda dan timnya melakukan seleksi secara ketat dan teliti.

Sebagai sesama penulis sastra, aku setuju bahwa kehadiran penerbitan di kota tempat kita tinggal sangat membantu. Namun, menganggap penerbit akan menerbitkan naskah begitu saja tanpa mempertimbangkan aspek bisnis juga bukan hal yang tepat. Bagaimanapun, penerbitan membutuhkan keberlanjutan.

Kendati demikian, pertimbangan bisnis bukan berarti menutup kemungkinan bagi naskah-naskah istimewa. Bisa saja suatu saat penerbit indie seperti Obelia menemukan karya yang begitu menyentuh hati tim redaksi. Karya itulah yang kemudian membuat mereka bersemangat untuk menerbitkannya.

Melalui Kede Buku Obelia, Bang Alda juga bisa terus menjalankan passion-nya. Ia menjual dan menerbitkan karya-karya sastra, terutama sastra Indonesia yang banyak diterbitkan oleh penerbit indie. Buku-buku semacam ini tidak selalu bisa ditemukan di toko buku konvensional.

Dengan begitu, Bang Alda telah mengambil bagian dalam menghidupkan ekosistem sastra. Ia memahami bahwa penikmat sastra, khususnya yang tinggal di Sumatera, terkadang kesulitan menjangkau karya-karya yang mereka idam-idamkan. Belum lagi persoalan harga yang membuat calon pembaca berpikir dua kali sebelum membeli buku. Sekali lagi, Bang Alda memahami kegelisahan tersebut.

 

Buku dengan Harga Jawa

Buku-buku di kede dijual dengan harga Jawa. Pernyataan ini membuatku cukup terkejoed wak!

Menurut penjelasan Bang Alda, toko buku konvensional biasanya menerapkan kenaikan harga sekitar 10 persen. Angka itu mungkin terdengar sepele. Namun, bagi pencinta buku, selisih harga tersebut bisa berarti banyak. Tanpa tambahan 10 persen itu, uang yang dikeluarkan terasa lebih ringan. Kesempatan membawa pulang buku-buku yang diinginkan pun menjadi lebih besar.

Mendengar penjelasan itu, aku langsung membatin, Aku pasti kembali ke Kede Buku ini!

Alasannya bukan semata-mata karena tidak ada kenaikan harga 10 persen. Suasana tenang dan damai di sana juga menjadi daya tarik tersendiri. Kede Buku Obelia menyediakan kopi yang bisa dipesan sembari mencari-cari buku menarik.

Selain itu, mereka kerap mengadakan ruang diskusi. Informasinya bisa dipantau melalui media sosial mereka. Jadi, pengunjung bukan hanya datang untuk membeli buku. Barangkali, mereka juga bisa menemukan kenangan, percakapan, dan jejak perjuangan yang seolah memenuhi hampir setiap sudut toko.

 

Kenangan yang Membuat Orang Kembali

Di akhir wawancara, aku bertanya tentang kenangan dan perjuangan yang paling berkesan bagi Bang Alda selama mengelola Kede Buku Obelia.

Dengan penuh semangat, ia bercerita tentang penulis-penulis terkenal yang pernah mampir ke kede untuk membicarakan karya mereka. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika Eka Kurniawan, salah satu maestro sastra Indonesia masa kini, meminta pihak penerbit mengadakan acara di sebuah toko buku kecil di Medan. Kede Buku Obelia pun terpilih.

Dari sorot mata dan sikap Bang Alda, aku bisa menangkap betapa senang sekaligus gugupnya ia saat sang maestro berniat datang. Bayangkan, seorang penulis besar akan mengunjungi toko buku yang didirikannya sendiri!

Akhirnya, sang maestro benar-benar datang bersama penerbit besar di belakangnya. Bang Alda mengaku cukup gugup saat menyambut kedatangan penulis tersebut. Tentu bukan hal mudah menyambut sosok yang begitu dikagumi para pencinta sastra Indonesia dan dikenal luas di mana-mana.

Namun, pengalaman itu menjadi salah satu penggerak penting dalam perjalanan Kede Buku Obelia. Sejak saat itu, semakin banyak penulis yang bertandang ke kede untuk berbincang ataupun berdiskusi dengan para penikmat buku, khususnya pencinta sastra di Kota Medan.

 

Membawa Pulang Lebih dari Sekadar Buku

Dari semua cerita itu, aku tidak hanya membawa pulang hasil wawancara dan dua buku yang kubeli dengan bahagia. Ada begitu banyak cerita yang ikut kubawa. Sebuah kisah yang membuatku ingin kembali dan terus kembali ke toko buku tersebut.

Terakhir, izinkan aku mempersembahkan sebuah puisi yang sebenarnya diniatkan sebagai buah tangan. Namun, aku malu. Soalnya, aku bukan penyair andal.

Buku berbaris satu per satu

berjejer rapi hingga jadi abu.

Di negeri ini, kawanku,

malang betul nasib buku-buku itu.

— Januara, 26–28 September 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!