Mengais Emas pada Gempa

MENGAIS EMAS PADA GEMPA 

Pagi itu masih remang

Kabut menggantung di punggung bukit

Seekor gajah hitam

Menjenggak rumah dengan belalainya

Genteng berhamburan seperti burung terluka

 

Manusia jadi pasir

Butir paling kecil

Terbang lewat jendela

Tanpa sempat berpamitan

Tanpa sempat memeluk anak

 

Langit robek

Tanah menganga

Doa-doa tercekat di tenggorokan

Kabut turun membawa cahaya retak

Menjemput rintih di ujung kaki yang patah

Di sela tangan yang retak

Di pelupuk mata yang kehilangan arah

Di dada yang masih mencari nama

 

Dan di kejauhan

Rombongan gajah gendut datang

Langkahnya berat oleh kamera

Perutnya buncit oleh janji

Dasi rapi, sepatu bersih

Belalainya sibuk

mengais emas

dari luka-luka Flores

dari atap yang ambruk

dari darah yang masih hangat

dari tangis anak yang paling kecil

dari kubur yang belum sempat ditutup

Bogenga, Bajawa, Flores, 18 Agustus 2026.

 

MERAWAT DAUN 

Hijau itu pernah menari

Tawanya riak ombak

Menciumi bibir pantai

 

Malam

Kepala direbahkan

Mata jadi perahu

Berlayar ke bulan

Berlabuh dinyanyian bintang

dan hati pulang ke rumah kasih

 

Siang ranting-ranting kecil

Menjadi jari-jari Tuhan

Merawat daun dengan doa

 

Lalu langit menganga

Kelam merobek kalender mimpi

Belum sempat bunga mekar

Bumi sudah mengunyah

 

Robek

Luka

Daun hijau menghitam

Dibakar napas gempa

di mulut harimau tanah

 

Bogenga, Bajawa, Flores

17 Agustus 2026

 

MUARA HARAPAN 

Pagi yang masih hijau

Runtuh jadi ranggas

Macam daun kering

berderak di bawah kaki waktu

 

Malam-malam

memanjang seperti tali

Mengikat dingin sampai kaku

di sela tulang

 

Sungai air mata

Dulu tumpah, kini merayap lagi

Menyusuri batu, menyusuri nama

hingga tiba pada satu titik

muara harapan

 

Bogenga, Bajawa, Flores, 16 Agustus 2026.

 

KERBAU 

Setiap kali ribuan mata kumal menatap

wajah kacah, ada seekor kerbau gendut

duduk di mimbar

Menyanyi dengan perut buncit janji

 

Pagi, siang dan malam

Kerbau itu melantunkan nada

Bukan untuk tanah, bukan untuk lumpur

Tapi untuk anak-anaknya yang berseragam sutra

 

Lagu-lagu tentang “susu bendera” dinyanyikan

Disambut sorak, disambut tepuk

Disambut hujan confetti dari langit kertas

 

Tenor anak kerbau

Sopran induk kerbau

Alto nenek kerbau

Bas bapak kerbau

Paduan suara keluarga yang kenyang

 

Kadang-kadang susu bendera menetes

Jatuh ke mulut kumal

Sebagai upah karena setia menjilat

 

Sedangkan yang mengalir deras

Hanya untuk keturunan kerbau

yang jago joget di atas panggung

yang pintar tepuk tangan pada dirinya sendiri

Kupang, NTT, 15 Juli 2026

 

AKU MALU PADA WAJAH FLORES 

Aku malu

pada tanah Flores yang retak

Kulitnya terbelah seperti roti

yang dulu kupijak sambil bersumpah

menjaga, bukan menjarah

 

Aku malu

pada anak yang tidur di bawah seng berlubang

Sementara langit-langit kantor

diguncang tepuk tangan

Untuk kerbau-kerbau gendut

yang berpidato di atas puing

tentang emas yang “akan” datang

 

Aku malu

pada sungai air mata

yang sudah jadi jalan tol

untuk mobil-mobil dinas datang membawa mimpi

Mimpi dibungkus plastik

Janji dibungkus amplop

 

Aku malu

pada kabut pagi Bajawa

yang ikut mengubur nama

yang ikut menelan doa

yang ikut menyedot debu

dari kubur yang belum sempat diberi batu

 

Aku malu

pada mikrofon yang masih hidup

Ketika ribuan mulut telah terkubur

pada spanduk

“Kami Hadir untuk Rakyat”

yang berkibar di atas tenda kosong

 

Aku malu

karena tanganku masih bisa menulis

Sementara tangan-tangan besar

hanya pandai menunjuk dan berjanji

“nanti, sebentar lagi, tahun depan”

 

Aku malu

karena belalaiku belum cukup panjang

untuk menjerat lidah-lidah janji

dan menarik turun keadilan

dari langit Flores yang retak

Bogenga, Bajawa, Flores, 18 Agustus 2026

 

BATU JALAN 

Batu jalanan itu

berserakan kumal

saksi bisu tendangan

dari sepatu para pejabat

 

Tapi lihat

ada tangan-tangan air

dari langit Flores

membasuh debu

menjadikannya konstelasi

di jalan yang retak

Bogenga, 16 Agustus 2026.

 

PENJARA GEMPA 

Terpal sobek adalah mahkota

untuk kepala-kepala luka

yang dianugerahi janji

 

Dinding adalah malam kelam

dicat dengan spidol

bertuliskan

 

“Bantuan Segera Datang”

 

Tanah adalah kasur denyut nadi

Tempat bayi belajar tidur

Diiringi gemuruh dump truck

yang mengangkut puing ke mana-mana

kecuali ke rumah mereka

 

Angin adalah penguat napas

sekaligus juru bicara

yang meneriakkan nama-nama

dari pengeras suara kosong

 

Langit adalah atap penjara

dan kami adalah tahanan

dari gempa

dan dari janji

Bogenga, 15 Agustus 2026.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!