Tahun 2011, sudah zaman Alfalink dan telepon seluler waktu itu, tetapi yang beken di kalangan anak negeri seumuran saya waktu itu barulah merek-merek Cina. Di sekolah pun sudah mulai ada dua-tiga teman mengulik Alfalink (kamus digital) dan telepon seluler, meski seputar mengambil gambar dan playlist di situs unduh gratis. Tetapi, fase awal mengenal barang genggaman digital saat itu sangat membahagiakan, puck.
Sejauh pikiran anak berusia 12 tahun, saya berkeinginan demikian—ingin sekali menggenggam barang-barang itu. Namun apalah daya, yang datang malah buku ini, bersampul ijo, pemberian Bapak, sekalian dengan tutornya.
“Baca setiap pulang mengaji, baca yang keras-keras. Soal HP itu nanti,” tegasnya.
Kata beliau, buku ini ditemukan dalam keadaan berdebu di rak gudang sekolah, di antara barang-barang rusak, saat mendata inventaris sekolah. Beliau tertarik pada judul dan ketebalannya yang hampir 1.000 halaman. Saking tebalnya, buku itu sampai disebutnya a.k.a. Buku Pintar. Barangkali, julukan tersebut muncul karena isinya memuat pandangan banyak tokoh, seperti Emil Salim, Harmoko, Sudharmono, Fuad Hassan, Akbar Tandjung, Rudini, dan B.J. Habibie.
Belakangan, saya baru sedikit menyadari bahwa buku itu memuat pandangan sejumlah tokoh yang menjadi bagian dari elite rezim Orde Baru. Tentu saja, ada pula pembahasan tentang—baiknya saja—seorang Soeharto.
Membacanya saat itu terasa berat. Pikiran anak-anak belum cukup akrab dengan istilah-istilah baru, sedangkan ketebalan buku mencapai hampir 7 cm. Kombinasi keduanya membuat kegiatan membaca jauh dari kata menyenangkan.
Ketika sudah kuliah, saya bahkan sempat menyesalinya. Pasalnya, saya pernah memaksa pikiran yang masih kekanak-kanakan untuk menelan sebagian besar “jilatan para elite Orde Baru”. Belum lagi aturan main yang harus tetap dijalankan:
“Setiap pulang mengaji, baca kuat-kuat. Soal HP itu nanti.”
Seiring berjalannya waktu, saya mulai membaca dan terus membaca. Selama kurang lebih lima bulan, rasanya hampir setiap hari saya menyebut nama Soeharto sebelum Magrib. Sampai akhirnya, buku itu pun selesai saya baca.
Pada masa itu, pengetahuan saya tentang Orde Baru masih sangat terbatas. Saya belum memahami bagaimana nama-nama yang setiap hari dibaca ternyata berada dalam satu zaman, satu lingkaran kekuasaan, dan satu cerita yang kelak akan saya pahami kembali dengan kepala berbeda.
Sejujurnya, saya cuma membaca. Barangkali karena disuruh. Namun, mungkin juga karena lama-lama penasaran. Bisa jadi pula karena memang tidak ada pilihan lain.
Saya ingin HP, tetapi Bapak memberikan buku. Maka, buku itulah yang saya punya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika sudah duduk di bangku kuliah, saya mulai membaca lebih banyak. Nama-nama yang dahulu dibaca begitu saja perlahan menemukan konteksnya. Sementara itu, istilah-istilah yang dulu terasa asing mulai mendapatkan tempatnya.
Dari situlah saya menyadari bahwa buku yang dibaca sepulang mengaji itu ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan.
Ada zaman di dalamnya. Ada kekuasaan. Ada tokoh-tokoh. Ada pula cara tertentu dalam menggambarkan seorang penguasa. Dan, tentu saja, ada Soeharto di sana.
Kalau dipikir-pikir sekarang, lucu juga membayangkan diri saya yang berusia 12 tahun. Demi mendapatkan HP, saya justru harus menuntaskan hampir 1.000 halaman buku tentang Orde Baru.
Mungkin, saat itu saya memang mengalami semacam kerugian kecil sebagai anak-anak. Ketika teman-teman sibuk mengulik HP, saya malah mengulik Soeharto. Mereka mengisi playlist, sedangkan saya mengisi kepala dengan nama-nama orang yang belum sepenuhnya dimengerti. Sementara mereka punya benda digital dalam genggaman, saya hanya punya buku bersampul hijau setebal 7 cm.
Anehnya, setelah bertahun-tahun berlalu, justru buku itulah yang masih saya ingat. Sampulnya masih terbayang, begitu pula ketebalannya dan rak gudang sekolah tempat Bapak menemukannya—setidaknya berdasarkan cerita beliau.
Selain itu, saya masih ingat perintah untuk membacanya setiap pulang mengaji. Ada satu kalimat yang juga melekat dalam ingatan, meskipun waktu itu terdengar seperti janji biasa:
“Soal HP itu nanti.”
Entah kapan nanti itu datang.
Saya bahkan tidak terlalu ingat apakah HP tersebut akhirnya benar-benar diberikan atau tidak. Barangkali pernah. Namun, bisa jadi saya sudah lupa karena seiring waktu, HP tak lagi menjadi sesuatu yang begitu istimewa.
Sebaliknya, yang justru menetap dalam ingatan adalah buku itu dan nama Soeharto yang, selama kurang lebih lima bulan, hampir setiap sore saya sebut sebelum Magrib.
Hari ini, ketika mengingat anak berusia 12 tahun itu, saya tidak benar-benar tahu apakah harus berterima kasih kepada Bapak karena telah memberikan buku tersebut atau justru sedikit memprotesnya karena telah mengorbankan masa kecil saya demi hampir 1.000 halaman tentang Orde Baru.
Mungkin, dua-duanya.
Sebab, waktu itu, saya memang cuma ingin HP. Akan tetapi, yang saya dapat malah buku. Dan buku itu, suka tidak suka, akhirnya selesai juga saya baca.
Meminjam istilah Kaprodi, “Syukur Soeharto saat itu tidak sampai saya anggap sebagai nabi.”
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!