Peta yang Dicuri Swiper

Peta yang Dicuri Swiper

Aku bertemu Swiper
si pencuri peta
Ia mengambil petaku
lalu berlari
ke dalam hutan yang tidak ada
di halaman rumah

Aku mengejarnya
entah mengapa
setiap langkahnya
selalu membawaku pulang

Di ujung jalan
Swiper berhenti
Ia menanggalkan bulunya
Seekor domba
jatuh ke tanah

Aku mengira sudah selesai
sampai domba itu menoleh
dan tersenyum dengan wajah serigala

Aku mundur
mencari cermin
Di sana
aku tidak menemukan diriku
Aku menemukan ibuku

Sabuk masih menggantung
seperti ekor malam
Piring-piring masih berputar
di udara
Dan aku
berdiri mengenakan wajahnya

Swiper tertawa dari balik hutan
Petaku kembali berbicara
aku peta
aku peta
aku peta
Sampai suara itu retak
di satu huruf
petaka

Baru kusadari
yang selama ini kucari
bukan jalan keluar
Aku sedang mengikuti
jalan yang sama
yang pernah dilalui ibuku

 

Bekasi, 05 Oktober 2026

 

 

 

Pohon Faktor

Rumah ini perkalian satu
Satu demi satu
hidup sendiri
sibuk sendiri
mati sendiri
Lupa,
tak bisa mengubur sendiri.

Rumah ini pohon faktor
yang terus bercabang,
menyimpan anak terkecil
sebagai penopangnya.

Di pohon ini
hanya yang paling besar jasanya
yang terus dibicarakan
Ditarik ke kiri,
diikat ke kanan,
kaku di mana akar mengakar.

Yang kecil mengecil di ujung,
ranting retak, rontok pelan,
disapu angin yang sama.

 

Bekasi, 05 Oktober 2026

 

 

 

Benang Warna-Warni

“Sekolah hanya urusan laki-laki.
Perempuan di rumah saja cuci piring,”
kata kakekku.
“Tak perlu sekolah tinggi-tinggi.
Nanti juga di rumah kalau sudah besar,”
kata ayahku.
“Warisan milikku semua.
Perempuan tak usahlah,”
kata kakak lelakiku.

Aku gunting ingatan di kepala
Potongannya jatuh ke dalam piring,
Kucuci,
Kukeringkan di bawah matahari.

Dari sela rambut
keluar benang-benang warna-warni.
Kusulam dengan kedua kakiku:
satu jahitan ke halaman sekolah,
satu jahitan ke jalan raya,
satu jahitan ke pintu yang tak kukenal.

Semakin jauh aku berjalan,
semakin panjang kainnya.

Di belakangku,
rumah ikut terjahit.
Kakekku tersangkut di ujung lengan
Ayahku terselip di kelim
Kakakku hilang bersama kancing.

Di ujung kain
sebuah kepala perempuan sedang tumbuh
Ia membuka mata
Lalu bertanya
Siapa yang menjahitku?

 

Bekasi, 05 Oktober 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!