Kalau Saya K-Poper Memangnya Kenapa?

66

Hal-hal ajaib apa saja yang kamu dapatkan selama masa pandemi? Menghabiskan waktu dengan diri sendiri terkadang malah menemukan sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Semacam; Lho, ternyata aku nggak payah-payah amat dalam memasak. Lha, tetangga sebelah ternyata kuliah di kampus yang sama. Eh, Mbak inul sama Mas Adam upload video tiktok baru?!

Begitupun saya, walaupun Purwakarta tergolong kabupaten yang nggak memasuki zona merah, tapi postingan-postingan di twitter cukup bikin saya merinding dan parno setiap ada niat untuk sekadar jalan atau nongkrong di luar.

Informasi data angka pasien positif dan kematian yang semakin naik, cerita-cerita menyedihkan dari nakes, juga kebijakan pemerintah yang nyebelin memang bikin kondisi mental jadi gampang capek, maka hal pertama yang saya lakukan adalah mencari pengalihan fokus agar kewarasan saya tetap terjaga dengan mencoba menyukai Kpop atau Korean Pop.

Dalam jangka waktu yang lumayan lama, ternyata saya punya bakat terpendam yang lain, yaitu mengenali wajah penyanyi korea saat yang lain menaruh anggapan kalau wajah orang korea sama semua.

Selanjutnya, mencermati kata-kata yang ada dalam lirik atau percakapan drama korea, seperti “Jinjja?” “Hajima!” “Andwe” dan kata-kata lain yang kadang kupraktekan di obrolan sehari-hari. Nggak jarang mereka memanggil saya Bae Suzy cabang Wanayasa. Tapi bohong. Hehe.

Poin berikutnya adalah, mendengarkan lagu-lagu k-pop, ajaibnya berhasil membuat perasaan saya jadi lebih baik. Walaupun saya nggak tahu artinya apa, tapi kan ada google. Dan lirik-lirik yang mereka buat juga bagus, nggak cuma lirik lagu bucin, ada juga lagu-lagu yang di dalamnya mengajak pendengar untuk mencintai dirinya sendiri.

Selain menjadi penikmat karya mereka, terkadang saya juga berdiskusi atau menganalisis fenomena Korean Wave ini dengan kacamata gender. Walaupun diskriminasi gender di korea cukup parah apalagi kebiasaan masyarakatnya yang menerapkan standar kecantikan—yang kadang menyusahkan mereka sendiri. Tapi hal lain yang bikin saya tertarik adalah, idol kpop ini menghapus stigma make-up hanya untuk perempuan.

Bisa kita lihat di beberapa media iklan komestik tertentu, tidak sedikit idol laki-laki menjadi bintang iklan lipstick bahkan maskara. Dan mereka tetap keren kok, dengan memakai kosmetik tidak menjadikan mereka buruk atau rendah. Chaenyol tetap tampan ketika jadi brand ambassador nacific, nggak berubah.

Poin berikutnya adalah musik yang mereka buat bisa menjadi media healing bagi kita yang keadaannya mentalnya sedang terguncang.

Ambil contoh, saat ini saya sedang fangirling NCT atau yang disingkat Neo Culture Technology, boyband asuhan SM entertainment yang beranggotakan dua puluh tiga bujang dengan bakat dan kualitas musik yang paripurna berhasil membuat saya survive dari masa-masa berat dan pahit. Kedengarannya lebay, tapi memang begitu adanya.

Akhir tahun dua ribu sembilan belas, kondisi mental saya tidak dalam keadaan baik, semuanya terasa berat dan melelahkan. Bahkan saat awal tahun dua ribu dua puluh, saya seringkali mengurung diri di kamar kost, malas berinteraksi dan bertemu orang lain. Alasannya saya nggak tahu pasti, yang jelas, saat itu saya sedang merasa dalam keadaan terburuk dan tak siap ketemu siapapun.

Tapi perasaan itu berangsur hilang setelah konten-konten video yang mereka unggah di Youtube selalu berhasil membuat saya terhibur. Lagu D.O yang berjudul That’s Okay misalnya, terdapat makna yang dalam dari lirik ke lirik. Lagu tersebut menceritakan bahwa tak apa untuk menangis, tak apa untuk berkspektasi pada kehidupan, akan tetapi tetaplah ikuti kata hatimu dan bersinarlah dengan caramu sendiri.

Lagu yang lain adalah milik Lee-Hi berjudul Breath, pertama kali yang saya lakukan saat mendengar lagu ini adalah menangis, dan memikirkan bagaimana rasanya bernapas dalam satu tarikan emosi yang berbeda. “Though I can’t understand your breath, its alright I’ll hold you, you really did a good job….”

Saat ini yang saya pikirkan adalah bagaimana cara memperbaiki sisa-sisa keadaan saya untuk lebih baik, mendengar hal-hal yang membuat saya tetap bertahan. Saya merasa bangga atas usaha yang telah saya usahakan.

Jadi, begitulah K-Pop membantu saya selama ini. Maka, kalau saya adalah kpoper, memangnya kenapa?

Leave A Reply

Your email address will not be published.