Sebagai orang Lamongan yang menikahi perempuan Mojokerto, ada satu pola interaksi yang hampir selalu saya alami tiap kali mengobrol dengan kawan-kawan dari luar daerah. Ketika saya bercerita bahwa saya kini sangat sering berada di Mojokerto, tanggapan mereka hampir pasti berada di antara dua pilihan ini: situs Majapahit dan onde-onde.
Tentu saja, dua hal itu tidak salah. Kejayaan Majapahit di Trowulan adalah warisan sejarah luar biasa yang tak ternilai harganya. Sementara itu, onde-onde adalah ikon kuliner dari Mojokerto yang sampai dibuatkan tugu di daerah kota.
Namun, setelah setahun lebih bolak-balik, menetap, dan merasakan sendiri dinamika di sini, ada perasaan mengganjal yang makin hari makin kuat di kepala saya: apakah Mojokerto hari ini benar-benar mau selamanya diperkenalkan hanya lewat narasi masa lalu dan sekotak oleh-oleh?
Sama seperti traveler yang tertahan di stasiun karena foto KTP-nya masih foto masa kecil padahal wajahnya sudah dewasa, Mojokerto pun sedang berada di titik itu. Identitas lamanya tidak salah, tapi “foto lama” itu sudah tidak cukup untuk menggambarkan betapa pesat dan modernnya perkembangan fisik serta karakter daerah ini sekarang.
Bagi orang luar yang jarang mampir, Mojokerto mungkin masih dibayangkan sebagai kabupaten kecil yang sepi dan bertumpu pada sektor wisata sejarah semata. Padahal, realitas di lapangan sudah bergeser jauh.
Lihat bagaimana Mojokerto bertumbuh hari ini. Di sektor gaya hidup, daerah ini sudah berubah menjadi ekosistem perkotaan yang nyaris sempurna. Jejaring kedai kopi kekinian seperti Fore, Calf, dan kafe-kafe berkonsep industrial berhamburan di mana-mana. Mal, hotel berbintang, hingga pusat hiburan keluarga tersedia lengkap tanpa membuat warganya merasa perlu “mengungsi” ke Surabaya hanya untuk mencari suasana segar.
Di sisi lain, konektivitas dan ketahanan ekonominya luar biasa perkasa. Angka UMR Mojokerto—baik kota maupun kabupaten—masuk dalam jajaran papan atas di Jawa Timur. Akses transportasi publiknya dimanjakan oleh hadirnya armada Trans Jatim yang terintegrasi rapi hingga stasiun kereta api yang posisinya persis di jantung kota.
Belum lagi soal letak geografisnya yang ajaib. Kalau warganya butuh ketenangan dan slow living, situs bersejarah di Trowulan siap menyambut dengan ruang terbuka yang asri dan ramah di dompet. Kalau butuh udara dingin pegunungan, kawasan Trawas, Pacet, hingga Cangar cuma berjarak 30 sampai 45 menit perjalanan.
Semua kelengkapan dan fasilitas hidup yang begitu komplet ini rasanya terlalu mewah jika hanya menjadi catatan kaki dari julukan “Kota Onde-Onde” atau sekadar “Bumi Majapahit”.
Saya paham, narasi “Spirit of Majapahit” atau “Kota Onde-Onde” memang punya nilai sejarah dan kebudayaan yang sangat kuat. Namun, di era modern yang serbacepat ini, daerah butuh nilai tawar yang lebih tajam dan relevan dengan generasi hari ini.
Ketika mendengar kata “Batu”, orang langsung terbayang wisata pegunungan dan apel. Ketika mendengar “Surabaya”, orang membayangkan pusat bisnis maritim yang megah. Lalu, bagaimana dengan Mojokerto?
Kalau orang luar mendengar nama Mojokerto, bayangan visual modern apa yang ingin ditanamkan Pemkab dan warga ke benak mereka? Apakah sebuah kabupaten dengan keseimbangan hidup paripurna? Sebuah daerah ramah pensiunan dan keluarga muda dengan UMR tinggi dan fasilitas lengkap? Atau pusat ekonomi kreatif berbasis warisan sejarah?
Memperbarui cara Mojokerto memperkenalkan dirinya tentu bukan berarti melupakan sejarah besar Majapahit atau mengabaikan industri onde-onde. Ini hanya soal keberanian untuk menunjukkan kepada publik luas bahwa Mojokerto hari ini adalah daerah yang sudah sangat siap menghadapi masa depan.
Sudah saatnya Pemkab Mojokerto bersama warga dan anak-anak mudanya meracik narasi baru. Cari satu identitas yang punya daya pembeda tajam dan segar. Sebuah branding yang ketika diucapkan oleh orang luar, mereka tidak cuma teringat pada Candi Tikus atau jajanan wijen, melainkan langsung membayangkan sebuah daerah di Jawa Timur yang modern, sejahtera, nyaman dihiasi fasilitas publik, dan paling layak dijadikan tempat tinggal untuk menikmati hidup.
Sebab, setelah setahun lebih ini, saya tahu betul daerah ini terlalu potensial kalau cuma dikenal gara-gara satu-dua hal dari masa lalu.
Introvert yang baik. Tinggal di Lamongan.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!